Daily Calendar

Selasa, April 12, 2011

TUGAS REKONSTRUKSI SPI PAI-E

Khusus Anda yang berada di Kelas PAI-E, lakukan rekonstruksi berdasarkan data sejarah Pendidikan Islam Era Abbasiyah tentang persoalan, "Gejala formalisme dalam dunia pendidikan di Indonesia"! [tuliskan dalam "komentar"!]

11 komentar:

fathur mengatakan...

nama: fathurrohim
NIM: 08410255


Pendidikan di era bani Abbasiyah memang tidak terlembaga secara formal seperti sekarang ini khususnya di Indonesia. pendidikan pada masa bani Abbasiyah dilaksanakan di masjid-masjid ataupun tempat lain yang bisa dijadikan tempat belajar. walaupun tidak terlembaga secara formal, namun pendidikan dimasa itu sudah terbilang baik, karena didalamnya juga di ajarkan materi pelajaran sains atau ilmu pengetahuan umum dan mempelajari juga dari pemikiran Yunani.tetapi juga tidak meninggalkan pelajaran agama yang bersumber dari Al quran.

terkait dengan formalitas atau formalisme pendidikan, saya kira di Indonesia memang pendidikan dilaksanakan secara formal dan berlebihan. bahkan bisa dikatakan kalau menuntut ilmu harus dengan pendidikan formal.padahal diluar pendidikan formal ada banyak ilmu dan penting juga untuk mengembangkan pendidikan. pendidikan tidak harus dilakukan di sekolah. pendidikan bisa dilakukan dimana saja dan untuk siapa saja, karena setiap manusia berhak memperoleh pendidikan.
namun di Indonesia juga terdapat beberapa lembaga-lembaga kecil yang menyelenggarakan pendidikan nonformal, seperti sekolah untuk anak jalanan, sekolah di pedesaan,dan juga pesantren.
memang pendidikan yang sebenarnya menurut saya bukan hanya sekedar formalitas dan tidak memntingkan formalitas, seperti yang diterapkan pada masa bani Abbasiyah.

SEPTI RUSLI (08410262) mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
SEPTI RUSLI (08410262) mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
SEPTI RUSLI (08410262) mengatakan...

Pada permulaan masa Abbasiyah pendidikan dan pengajaran berkembang dengan sangat hebatnya di seluruh negara islam. Sehingga lahir sekolah-sekolah yang tidak terhitung banyaknya, tersebar di kota sampai ke desa-desa. Anak-anak dan pemuda berlomba-lomba untuk menuntut ilmu pengetahuan, pergi kepusat-pusat pendidikan, meninggalkan kampung halamannya karena cinta akan ilmu pengetahuan.
Lahirnya lembaga pendidikan formal dalam bentuk madrasah merupakan pengembangan dari sistem pengajaran dan pendidikan yang pada awalnya berlangsung di mesjid-mesjid. Perkembangan dari masjid ke madrasah terjadi secara tidak langsung, madrasah sebagai konsekuensi logis dari semakin ramainya pengajian di masjid yang fungsi utamanya adalah ibadah. Agar tidak mengganggu kegiatan ibadah, dibuatlah tempat khusus untuk belajar yang dikenal madrasah.
Dengan ini kita lihat jelas bahwa adanya lembaga pendidikan yang maju sekarang adalah wujud dari perkembangan pendidikan dan kemajuan di bidang keilmuan. Di antara lembaga pendidikan yang pernah muncul di Indonesia adalah sekolah dan pesantren, dari waktu ke waktu, perkembangan sekolah dan pondok pesantren terus mengalami peningkatan. Perkembangan ini dirasakan cukup luar biasa dan menakjubkan. Tidak hanya pada kuantitas kelembagaannya saja, tetapi pada kapasitas-kapasitas yang lainnya. Dari sini, kelembagaan sekolah dan pesantren kini menjadi sebuah institusi yang memiliki berbagai kelengkapan fasilitas untuk membangun potensi peserta didik, tidak hanya pada segi akhlak, nilai, intelektual dan spiritualitasnya saja, tetapi juga dengan peralatan-peralatan modern seperti laboratorium bahasa, komputer ataupun tehnologi informasi modern.
Terkait dengan formalitas atau formalisme pendidikan, saya setuju, karena dilihat dari kemajuan zaman yang semakin menimbulkan sisi negatif yang tidak terkendali bagi peserta didik, dan adanya pandangan remeh peserta didik terhadap pendidikan nonformal, maka pendidikan formal menjadi suatu yang urgen. Seperti yang kita lihat sekarang banyak anak-anak berseragam sekolah duduk santai di pinggir jalan, diwarnet, dan ditempat yang tidak seharusnya yaitu pada jam sekolah. Hal ini menunjukkan bahwa untuk menuju suatu kebaikan diperlukan adanya paksaan dan pembiasaan. Dari biasa menjadi bisa. Justru saya mendukung dengan pendidikan “fullday school” anak berada dalam pengawasan setiap hari oleh guru dan orang tua. Saya yakin hal ini akan lebih baik untuk kedepannya.

ndoetz_sleepers mengatakan...

NAMA : Ja'far Sidiq
NIM : 08410239

pendidikan pada zaman Abbasiyah Menurut saya.pendidikanya sangat diperhatikan, khususnya oleh pemerintah (Abbasiyah)sendiri. hal tersebut dibuktikan dengan kesunguhan para ulama yang mendasarkan ilmu pengetahuan di kerajaan abbasiyah sebagai keutamaannya. Bukan hanya itu Kestabilan politik dan keuangan kerajaan abbasaiyah yang terja membuat pendidikan ilmu pengetahuan yang ada dalam lingkup banni abbasiah memunculkan banyak pengetahuan,terutama pengetahuan agama.
meskipun proses pelaksanaan pendidikan di lakukan di masjid-masjid,taman masjid dan aula-aula seadanya etapi pendidikan pada masa itu sudah memiliki aturan rutinitas.yang dimana kedepanya bisa membuat proses itu tersusun dan berjalan rapi seperti metode membaca,diskusi dan belajar telaah ilmu-ilmu agama.
bila di dasarkan dengan formalitas atau formalisme,memang pendidikan pada massa abbasiah tidak seformal sekarang.alan tetapi juga sudah terstruktur.

menurut saya,di Indonesia memang pendidikan dilaksanakan secara formal dan bahkan sampai ada semboyan milik bangsa indonesia wajib belajar 12 tahun.hal ini bisa dikatakan kalau menuntut ilmu atau belajar harus di lingkungan pendidikan formal ( sekolah ).padahal kita tahu,sesungguhnya proses belajar mengajar itu sendiri bisa di lakukan dimana saja,kapan saja dan untuk siapa saja. banyak sekali ilmu pengetahuan yang berada di luar pendidikan forman (sekolah) yang bisa di pelajari oleh siapa saja.
namun jauh dari itu. Indonesia sendiri memiliki visi-misi yang telah diterapkan dari tahun ketahun.hal ini dilakukan karena bangsa indonesia bertujuan dengan adanya pendidikan formal orang-orang atau masyarakat di seluruh indonesia bisa menikmati dunia pendidikan dan mau belajar menuntut ilmu.meskipun sebenarnya di indonesia sendiri mempunyai comunitas dan lembaga-lembaga nonformal di bidang kependidikan (seperti yang diterapkan pada masa bani Abbasiyah).lambang formal diharapkan mampu mendongkrak semangat belajar masarakat indonesia untuk segera terbebaskan dari kebodohan yang melanda negri ini.tapi bagi segelintir orang yang jauh di bawah sana sering mengeluhkan pendidikan yang bersifat formal.pendidikan hanya untuk mereka yang punya uang saja sedangkan yang tak punya uang tak bisa bersekolah. meskipun demikian,seyogyanya pendidikan itu tidak mementingkan dari sisi formalitas dan non formalitasnya saja.walaupun sebenarnya pendidikan formal di indnesia memiliki visi-misi yang sangat besar,namun di samping itu pendidikan nonformal juga seharunya tetap mendapat respon yang jelas dari pemerintah.dimana pendidikan nonformal masih di percaya masyarakat sebagai pembentukan ilmu pengetahuan yang trasendental dan transparan.
.

efa_husniyah mengatakan...

Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) menjadi perhatian penting bagi kita, adanya PAUD akan membantu mempermudah dalam berkelanjutan pendidikan sekolah dasar, pemerintah melihat manfaat besar, yakni anak-anak yang mengikuti PAUD dengan baik akan lebih siap mengikuti pendidikan di sekolah dasar. Tetapi yang terjadi di lapangan adalah formalisasi pendidikan PAUD yang mengakibatkan terjadinya disorientasi para penyelenggara pendidikan dengan mengutamakan institusi dari pada aspek pengembangan anak. Lebih celakanya Pendirian PAUD malah dijadikan sebagai tempat usaha yang komersil dibanding pemberdayaan masyarakat.
Jika kita lihat pendidikan islam era dinasti abbasiyah yang memiliki kesadaran akan pentingnya ilmu pengetahuan merefleksikan terciptanya beberapa karya ilmiah seperti terlihat pada alam pemikiran Islam pada abad ke-8 M. yaitu gerakan penerjemahan buku peninggalan kebudayaan Yunani dan Persia. dengan keseriusan penerjemahan tersebut, diwujudkan dengan pendirian sekolah salah satunya adalah membangun sebuah lembaga khusus untuk tujuan itu, “The House of Wisdom / Bay al-Hikmah”
Maka perlu kita kritisi pendidikan di Indonesia yang kurang memperhatikan perkembangan anak dan pendidikan di jadikan sebagai bisnis (dikomersialkan). jika kita kaitkan pada pendidikan era dinasti abbasiyah yang sangat memuliakan ilmu pengetahuan, didirikannya lembaga pendidikan sebagai tempat pengembangan potensi, berawal dari penerjemahan buku hingga didirikannya sekolah. maka yang perlu kita perbaiki disini didirikannya PAUD bukan sebagai ajang bisnis tetapi yang perlu kita perhatikan adalah perkembangan anak yang direalisasikan melalui konsep pengembangan anak menjadi fokus perhatian utama, yaitu dengan penyusunan konsep, program, dan penyiapan berbagai piranti pelaksanaan pendidikan yang mengembalikan anak pada dunianya.

dolphien mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
dolphien mengatakan...

nama: siti nur inayah
nim: 08410264
Belajar tidak harus berada disekolah, namun belajar dapat kita lakukan dimana saja. Dirumah, masjid, perpustakaan, kebun, dan sebagainya. Lembaga pendidikan formal atau sekolah merupakan wadah atau tempat untuk berkumpul bersama-sama menimba ilmu pengetahuan. Sehingga, sekolah menjadi mayoritas tempat yang digunakan untuk belajar dan menuntut ilmu. Di era modern seperti ini, pendidikan tidak hanya kita dapat di sekolah, namun dengan belajar di rumah, memanggil seprang pendidik atau guru untuk mendampingi dalam belajar dirumah juga bisa kita lakukan. Ini sama persis dengan pendidikan yang berkembang pada era bani Abbasiyah. Puncak perkembangan kebudayaan dan pemikiran Islam terjadi pada masa pemerintahan Bani Abbas. Akan tetapi, tidak berarti seluruhnya berawal dari kreativitas penguasa Bani Abbas sendiri. Sebagian di antaranya sudah dimulai sejak awal kebangkitan Islam. Dalam bidang pendidikan, misalnya, di awal Islam, lembaga pendidikan sudah mulai berkembang. Ketika itu, lembaga pendidikan terdiri dari dua tingkat:
1. Maktab/Kuttab dan masjid, yaitu lembaga pendidikan terendah, tempat anak-anak mengenal dasar-dasar bacaan, hitungan dan tulisan; dan tempat para remaja belajar dasar-dasar ilmu agama, seperti tafsir, hadits, fiqh dan bahasa.
2. Tingkat pendalaman, dimana para pelajar yang ingin memperdalam ilmunya, pergi keluar daerah menuntut ilmu kepada seorang atau beberapa orang ahli dalam bidangnya masing-masing. Pada umumnya, ilmu yang dituntut adalah ilmu-ilmu agama. Pengajarannya berlangsung di masjid-masjid atau di rumah-rumah ulama bersangkutan. Bagi anak penguasa pendidikan bisa berlangsung di istana atau di rumah penguasa tersebut dengan memanggil ulama ahli ke sana.
Terkait dengan formalitas pendidikan, sekolah bukanlah satu-satunya tempat untuk menuntut ilmu. Kita dapat mengunjungi seorang guru atau guru itu yang mengunjungi kita. Jika di Indonesia hal seperti ini lebih sering disebut dengan home schooling. Yaitu, seprang guru mendatangi seorang murid atau beberapa murid untuk membimbing dalam belajar. Sehingga, pembelajaran berlangsung di rumah murid itu sendiri. Dan home schooling ini dirasa lebih efektif dibandingkan dengan lembaga-lembaga sekolah yang didalam kelasnya terdiri dari puluhan murid. Sehingga, pembelajaran yang disampaikan akan lebih mudah dipahami.

Abdul Adhim mengatakan...

Nama: Abdul Adhim
NIM: 08410115

Pada masa Bani Abbasiyyah telah berdiri beberapa perpustakaan dan akademi. Perpustakaan pada masa itu lebih merupakan sebuah universitas, karena di samping terdapat kitab-kitab, di sana orang juga dapat membaca, menulis dan berdiskusi. Perkembangan lembaga pendidikan itu mencerminkan terjadinya perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan. Hal ini sangat ditentukan oleh perkembangan bahasa Arab, baik sebagai bahasa administrasi yang sudah berlaku sejak zaman Bani Umayyah, maupun sebagai bahasa ilmu pengetahuan.


Jadi, menurut saya pendidikan bukan hanya bisa diperoleh melalui lembaga yang bersifat formal saja, yaitu di sekolah-sekolah umum. Melainkan banyak tempat lain yang bisa dijadikan tempat untuk menuntut ilmu, seperti di perpustakaan. Waktu yang ada disekolah untuk menuntut ilmu hanyalah sebagian kecil dari waktu yang dimiliki oleh siswa. Sedangkan waktu yang luang adalah ketika siswa sudah selesai dari pembelajaran di kelas. Dengan mengunjungi perpustakaan, maka pengetahuan siswa akan lebih luas daripada hanya mengikuti proses pembelajaran di kelas.
Jadi lembaga formal kurang bisa menjamin pengetahuan peserta didik tanpa adanya usaha peserta didik sendiri.
Sekolah untuk formalitas. Tapi tempat yang banyak terdapat ilmu pengetahuan ada diluar sekolah, termasuk diantaranya di perpustakaan.

Hafidz Muhammad mengatakan...

Nama : Abdul Kirom
NIM : 09410084

Pada pemerintahan Bani Abbasiyyah bisa di katakan masa keemasan Islam kartena pada masa itu terjadi kemajuan di segala bidang, salah satunya bidang pendidikan, bahkan salah satu dari khalifah Bani Abbasiyyahpun sangat mencintai ilmu pengetahuan yaitu khalifah Al Makmun.
Pada saat itu bentuk pendidikannya tidak terlambaga secara formal karena antara ilmu umum dan agama saling berintegrasi walaupun pda obyeknya berbeda-beda, namun disi tidak ada dikotomi dalam pendidikan, dan proses pembelajarnnya pun di laksanakan di masjid-masjid.
sedangkan mengenai formalisme yang ada di Indonesia, bahwasannya di Indonesia pemerintah lebih menekankan pada lembaga formalnya ketimbang lembaga non-formalanya, sehingga terjadi kecemburuan di dalam pendidikan, padahal pendidikan tidak hanya di dapat di dalam lembaga formal saja, di lembaga non-formalpun pendidikan bisa di peroleh, dan seharusnya pemerintah lebih memperhatikan hal itu agar tidak ada kecemburuan terhadap pendidikan.

Rina mengatakan...

Nama : Rina Elfiyani
NIM : 08410185

Gejala formalisme dalam dunia pendidikan di Indonesia

Dinasti Saljuq merupakan salah satu dinasti pada zaman Abbasiyyah yang didirikan oleh Tughril Beg pada tahun 429 H/1037 M. Pengumuman pendirian dinasti ini dilakukan segera setelah kaum Saljuq mengalahkan kaum Ghaznah pada tahun yang sama. Setelah kedudukan Dinasti Saljuq menjadi kuat dan mantap, barulah diiktiraf oleh Khalifah Abbasiyah pada tahun 432 H.
Dalam bidang pendidikan, institusi pendidikan yang dominan pada masa ini adalah madrasah. Penggagas berdirinya madrasah ialah seorang wazir terkenal Dinasti Saljuq yang bernama Nizam al Mulk (465-485 H). Pendirian madrasah pada saat itu tak terlepas dari kepentingan politik yang mengitarinya. Madrasah oleh Dinasti Saljuq dijadikan alat propaganda tandingan untuk menekan pengaruh aliran Syi’i dan menyebarluaskan aliran sunni di tengah-tengah masyarakat di seluruh wilayah kekuasaan Dinsti saljuq dengan cara memasukkan materi keagamaan versi Sunni ke dalam kurikulum madrasah Nizamiyyah. Sehingga cukup beralasan mengapa materi keagamaan cukup mendominasi dalam kurikulum pendidikan madrasah saat itu. Hal ini dibuktikan dari dokumen wakaf Madrasah Nizamiyyah.
Ilmu-ilmu kealaman (Fisika, Kimia, Astronomi) dan kedokteran tidak dimasukkan dalam kurikulum pendidikan Madrasah Nizamiyyah karena motif utama pendirian Madrasah tersebut ialah politik dan ideologi. Ada kemungkinan, materi-materi di atas tidak dimasukkan ke dalam kurikulum di Madrasah Nizamiyyah karena memang tidak begitu diperlukan dalam kerangka kepentingan ideologi dan politik penguasa waktu itu.
Menurut Mahmud Yunus, rencana pengajaran di Madrasah Nizamiyah pada saat itu tidak diketahui dengan jelas. Namun bisa dikatakan bahwa kurikulum Madrasah Nizamiyyah pada saat itu didominasi oleh ilmu-ilmu keagamaan atau ilmu-ilmu syari’ah.
Dari sini, Indonesia mengikuti langkah yang diambil oleh dinasti seljuq untuk membangun sebuah sekolah sebagai tempat menuntut ilmu. yang mana dalam proses pendidikan ini memerlukan system dan kebijakan yang pastinya dibuat oleh penguasa untuk merespon realita yang terjadi di masyarakat. Dari kebijakannya, Undang-undangnya sampai pada kurikulum dan proses pembelajaran di kelas semua dilaksanakan secara terencana agar mencapai tujuan akhir pendidikan. Misalnya saja, penyususunan kurikulum, pemerintah memberikan wewenang kepada setiap daerah untuk membuat kurikulum yang didasarkan pada pengembangan potensi anak-didik yang disesuaikan dengan daerah masing-masing. Ini merupakan sebuah formalisasi pendidikan dalam lembaga yang dibangun secara formal untuk proses pendidikan di Indonesia, di samping terdapat pendidikan informal dan nonformal juga.