Daily Calendar

Selasa, April 12, 2011

TUGAS REKONSTRUKSI SPI PAI-B

Khusus Anda yang berada di Kelas PAI-B, lakukan rekonstruksi berdasarkan data sejarah Pendidikan Islam Era Abbasiyah tentang persoalan, "Rendahnya minat baca bangsa Indonesia"! [tuliskan dalam "komentar"!]

33 komentar:

elinkireina mengatakan...

Erlina Yuniati
08410110

era Bani Abasiyah keberhasilan dalam bidang keilmuan tersebut disebabkan adanya kesadaran yang tinggi akan pentingnya ilmu pengetahuan untuk sebuah peradaban. Mereka memahami bahwa sebuah kekuasaan tidak akan kokoh tanpa didukung oleh ilmu pengetahuan. Hal itu dapat ditunjukkan melalui antusias mereka dalam mencari ilmu, penghargaan yang tinggi bagi para ulama’, para pencari ilmu, tempat-tempat menuntut ilmu, dan banyaknya perpustakaan yang dibuka, salah satunya adalah Bait al-Hikmah.

Tradisi intelektual terlihat dari kecintaan mereka akan buku-buku yang hal itu dibarengi dengan adanya perpustakaan-perpustakaan baik atas nama pribadi yang diperuntukkan kepada khalayak umum atau disponsori oleh khalifah. Hasil membaca mereka kemudian didiskusikan dan dikembangkan lagi, mereka menjadikan perpustakaan dan masjid sebagai tempat berdiskusi. Dari sinilah memunculkan ide/ keilmuan baru, tercipta tradisi menulis, menyadarkan kebutuhan untuk berkarya yang sangat tinggi. Tradisi penelitian juga kita lihat dari temuan-temuan (eksperimen) ilmu dalam bidang sains, matematika, kedokteran, astronomi, dan lain-lain.

Mengenai masalah rendahnya budaya baca di Indonesia, hasil survai Unesco menunjukkan bahwa Indonesia sebagai negara dengan minat baca masyarakat paling rendah di Asean. Peningkatan minat baca masyarakat akan mempercepat kemajuan bangsa Indonesia, karena tidak ada negara yang maju tanpa buku, kata panitia pameran Tri Bintoro di Solo (Republika, Rabu (26/1)

Rendahnya minat baca di Indonesia, disebabkan beberapa faktor, diantaranya:
1. Ketiadaan sarana dan prasarana, khususnya perpustakaan dengan buku-buku yang bermutu dan memadai
2. Banyaknya keluarga di Indonesia yang belum mentradisikan kegiatan membaca
3. Indonesia memiliki banyak penerbit, penulis, ilmuan, peneliti, dan toko-toko buku dari kelas atas sampai kelas bawah. Tetapi, tetap saja kebanyakan masyarakat Indonesia menganggap buku itu adalah makanan yang mahal.
4. 34,5 persen masyarakat Indonesia masih buta huruf. Kompas (Kamis, 18 Juni 2009), berdasarkan data yang dilansir Organisasi Pengembangan Kerja sama Ekonomi (OECD)
Semoga Indonesia juga mampu mencontoh kemajuan ilmu pengetahuan pada era Bani Abbasiyah

aku.... mengatakan...

Hal penting yang menjadikan peradaban Bani Abbasiyah mengalami kemajuan adalah tingginya minat baca di kalangan bangsa tersebut. Hal ini didukung oleh pemerintah yang menerjemahkan buku- buku dari luar Abbasiyah untuk dipelajari oleh rakyatnya. Hal ini kontras sekali dengan keadaan di Indonesia, yang mana di Indonesia, sangat rendah minat membaca di kalangan masyarakat. Membaca dalam konteks ini tidak hanya diartikan membaca buku tapi juga bisa diartikan membaca alam yang ada di sekitar kita. Padahal dalam Ayat pertama yang diturunkan kepad Nabi Muhammad adalah perintah untuk membaca. Hal ini mengisyaratkan kepada kita mengenai pentingnya membaca dalam kehidupan kita.Masyarakat di Indonesia lebih suka uangnya dipergunakan untuk membeli pulsa daripada untuk membeli buku. Rendahnya minat membaca mengakibatkan rendah pula pemikirah yang berkembang di masyarakat. Masyarakat lebih suka menjadi konsumen yang memakai produk negara lain daripada menjadi konsumen produk dalam negeri. Mereka lebih bangga menggunakan produk luar negeri. Tentu, harus ada usaha dari semua pihak untuk membudayakan budaya membaca. Usaha yang bisa kita lakukan bisa kita mulai dari kecil, dari diri kita sendiri, membudayakan membaca pada diri kita sendiri. Semoga kita termasuk orang - orang yang selalu dalam lindungannya.

aku.... mengatakan...

Neneng Surani
08410176
Kelas B
Absen 36
Hal yang membuat peradaban Bani Abbasiyah maju, salah satunya adalah adanya minat belajar yang tinggi di kalangan masyarakat. Minat yang tinggi membuat mereka mempunyai pemikiran yang maju. Hal ini di dukung oleh pemerintah yang menerjemahkan buku-buku dari luar Andalusia untuk dipelajari oleh rakyatnya. Di Indoneia minat membaca masih rendah, masyarakat masih lebih suka uangnya digunakan untuk membeli pulsa daripada untuk membeli buku. Hal ini bisa kita ubah dari yang terkecil, dari diri kita sendiri. Menyadarkan diri sendiri bahwa membaca itu penting. Jika setiap diri di masyarakat Indonesia sadar bakan hal ini, maka semoga Indonesia akan lebih baik ke depannnya.

Susi Susanti mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Susi Masyi mengatakan...

Susi Susanti
08410133
Ada suatu ungkapan “membaca adalah kunci ilmu, sedangkan gudangnya ilmu adalah buku.” hal ini juga sesuai dengan Firman Allah SWT yang tertuang dalam QS Al-Alaq ayat 1-5.
Yakni, “Bacalah dengan nama Tuhanmu Yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajarkan (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”
seharusnya bangsa Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam mampu melakukan aktivitas membaca. Sebab, aktivitas membaca merupakan suatu perintah dari Allah Swt melalui Alquran. Jadi, aktivitas membaca bisa dianggap sebuah kewajiban bagi setiap manusia. Hanya saja, dalam realitasnya aktivitas tersebut tidak gampang diwujudkan.
Di Indonesia, kondisi minat baca masyarakatnya masih sangat rendah. Berdasarkan data yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2006. Bahwa, masyarakat kita belum menjadikan kegiatan membaca sebagai sumber utama mendapatkan informasi. Orang lebih memilih menonton TV (85,9%) dan/atau mendengarkan radio (40,3%) ketimbang membaca koran (23,5%).
Apalagi saat ini sudah marak adanya HP, oleh karena itu masyarakat Indonesia lebih senang membaca SMS. Ditambah lagi Facebook yang telah marak membuat masyarakat lebih suka baca status diFB dari pada buku...
Yang perlu dilakukan untuk mengatasi hal seperti ini antara lain menyediakan sarana dan prasarana, khususnya perpustakaan dengan buku-buku yang bermutu dan memadai, keluarga di Indonesia mentradisikan kegiatan membaca, kegiatan membaca perlu ditanamkan sejak dini, serta pemerintah daerah dan pusat menggalakkan program perpustakaan keliling (meskipun dibeberapa daerah telah dilakukan namun pada kenyataannya prakteknya kurang).
“semoga kita lebih mencintai membaca”...

lea woelan mengatakan...

nama: Lailia Wulandari
NIM: 08410128


masa bani Abbasiyah merupakan masa keemasan sepanjang sejarah peradaban islam. salah satu keberhasilannya adalah di bidang ilmu pengetahuan.

mengenai masah rendahnya minat baca indonesia disebabkan oleh beberapa faktor. antara lain adalah Faktor budaya tutur atau budaya bercerita yang masih melekat dari zaman nenek moyang kita, zaman dahulu orang-orang mengenal cerita-cerita kerajaan, nama-nama raja melalui media Wayang, sehingga hal itu menjadi budaya dan orang-orang indonesia lebih senang mendengarkan orang menceritakan sesuatu, daripada mencarinya lewat buku, atau catatan-catatan yang telah ditulis.

salah satu penyebab lainnya adalah kemajuan teknologi di indonesia, indonesia lebih suka bersocial networking di Facebook, hal ini ditunjukan dengan jumlah pengguna facebook di indonesia yang mencapai 33 juta orang, yang menunjukan bahwa sebagian besar kemungkinanan waktu luang orang indonesia di pergunakan untuk Facebookan, dan menulis status, bandingkan dengan berapa buku yang habis sold out di toko buku, tentu buku yang terjual sangatlah minim, atau bandingkan dengan orang yang mengunjungi perpustakaan dalam sehari, tentu lebih banyak orang yang mengakses facebook dalam sehari Pengaruh teknologi dalam hal ini juga mereduksi minat baca buku di indonesia, terutama dikalangan pelajar, karena mereka lebih suka mencari bahan lewat internet, kemudian mengcopas/ copy paste pada tugas-tugas mereka daripada mencari lewat buku-buku. Video game juga mengakibatkan minat baca mulai dini sangat kecil, anak-anak kecil lebih suka bermain playstation ketimbang membaca buku-buku yang bermanfaat. Padahal jika ditilik dari sejarah kita memiliki ratusan lontar-lontar, puluhan prasasti. Yang merupakan sumber bacaan zaman dahulu.

Iman Perdana mengatakan...

Ririn Perdananingrum
08410011

Kejayaan pada masa Abasiyah, adalah karena ada dukungan dari pihak pemerintahan saat itu, serta adanya kerjasama yang baik antara berbagai pihak. Selain itu, yang lebih penting adalah adanya kemauan untuk belajar filsafat. Belajar filsafat dapat mengarungi samudra hikmah yang dapat digunakan sebagai acuan dalam menghadapi kehidupan.

Ada beragam cara belajar filsafat. Salah satunya adalah dengan MEMBACA. Membaca yang dimaksud di sini yaitu membaca realitas apa saja. Entah itu dimulai dengan membaca buku, membaca situasi politik, membaca kesejahteraan rakyat, bahkan mungkin membaca pikiran-pikiran guru dalam mengajarkan ilmu pengetahuan. Apakah guru itu hanya mengejar gaji atau mengajar dengan hati.

Trik membuat siswa gemar membaca yaitu sebagai berikut :
1. Beri siswa materi selembar atau dua lembar, mintalah siswa untuk mengajukan pertanyaan yang sesuai dengan materi di dalam kertas tersebut. Otomatis, minimal siswa akan ikut membaca teks materi yang diberikan. Ini adalah langkah sederhana dalam menyuruh siswa membaca yang lama kelamaan akan menjadi sebuah kebiasaan.
2. Pada pertemuan sebelumnya, mintalah siswa untuk membaca sebuah materi tertentu untuk dibahas hari ini. Ketika mulai memasuki jam pelajaran, pilih salah satu siswa untuk mengungkapkan ringkasan mengenai materi tersebut (metode memilih siswa yakni dengan kocokan seperti arisan). Otomatis, setiap siswa akan mempersiapkan materi tersebut, dengan membaca tentunya.
3. Ajaklah siswa untuk berjalan di luar kelas, sekedar mengamati dan membaca realita guna mengetahui apa yang terjadi di sekitarnya. Hal ini untuk melatih siswa terhadap kepekaan sosialnya. Sehingga ia akan mengetahui hikmah yang ada dibalik sebuah realita.

Fikri Arief mengatakan...

its easy if you try

Fikri Arief mengatakan...

kejayaan pada masa Bani Abbasiyah khususnya dalam bidang keilmuan dan pendidikan adalah tak terlepas dari adanya hubungan kerjasama yang baik antara pemerintah dan masyarakat setempat. tingkat kesadaran yang tinggi salah satu faktor berkembangnya keilmuan pada masa itu, semangat dan giginya dalam menuntut ilmu sehingga melahirkan banyak tokoh ulama, para cendikiawan, ilmuan, intelektual muslim yang mampu melahirkan ide-ide baru yang menjadi sebuah karya dalam berkembanya ilmu pengetahuan seperti dalam bidang sains, kedokteran, matematika, dsb.
adapun permasalahan di indonesia yaitu, rendahnya budaya/ minat membaca salah satu kendala sulitnya untuk berkembangnya keilmuan kususnya dalam ranah pendidikan. hal ini perlu adanya tindakan khusus dan memberikan kesadaran serta penenaman sejak dini untuk gemar dan senang membaca, sebagai salah satu untuk memecahkan solusi untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang memiliki kompeten yang mampu untuk mengembangkan keilmuan dan pengetahuan seperti yang terjadi pada era Bani Abbasiyah...
memang tidak bisa dipungkiri betapa sulitnya hal itu terlaksana, mengingat budaya indonesia adalah budaya yang gemar dengan kuliner (makan-makan). masyarakat indonesia lebih suka makan-makan dan rendah sekali tingkat kesadaran untuk meningkatkan dan membuka cakrawala ilmu pengetahuan yang salah satunya dengan budaya membaca....
maka sekarang muncul istilah terbalik...
"kumpul ga kumpul yang penting makan"

eL_Zay mengatakan...

NURSARI
08410136
pada dinasti Abbasiyah minat membaca buku sangatlah tinggi, diuktikan dengan banyaknya buku hasil dari para ilmuwan. mereka gemar memeli buku, kemudian membacanya dan menuangkan dalam bentuk tulisan. di Indonesia minat baca rendah dikarenakan dari SDM-nya sendiri yang kurang tertarik dengan ilmu, mereka ternina bobokan oleh perkembangan zaman dan IPTEK. mereka lebih asyik membaca sms dari pada membaca buku. banyaknya acara TV yang menarik sehingga menyita waktu orang-orang untuk membacaa, sebenarnya ini merupakan pembodohan. orang lebih mengeberatkan nonton TV daripada membaca buku. mereka selring beralasan bahwa harga buku mahal, pusing kelamaan baca buku, lebih baik tidur. buku mereka ibaratkan sebagai musuh bebuyutan yang harus mereka hindari. padahal......dari bukulah sumber ilmu itu. dari mana lagi coba? apakah kita hanya menanti ilmu dari guru atau dosen yang berceramah dikelas saja? tentunya kita dapat itu semua dari buku dan dengan membaca

memey mengatakan...

Siti Maimunah
08410218

Pada permulaan masa Abbasiyah pendidikan dan pengajaran berkembang dengan sangat hebatnya di seluruh negara islam. Sehingga lahir sekolah-sekolah yang tidak terhitung banyaknya, tersebar di kota sampai ke desa-desa. Anak-anak dan pemuda berlomba-lomba untuk menuntut ilmu pengetahuan, pergi kepusat-pusat pendidika, meninggalkan kampung halamannya karena cinta akan ilmu pengetahuan. Manfaat membaca yaitu menambah wawasan.

Faktor yang mempengaruhi rendahnya minat baca di Indonesia antara lain:
1. kurangnya motivasi.rendahnya motivasi dari orang tua, guru dan lingkungan menyebabkan anak malas membaca.
2. kurangnya bahan bacaan.bahan bacaan yang membosankan dan sedikit membuat anak bosan.
3. dengan perkembangan zaman yang dikuasai teknologi menyibukkan anak sehingga mereka lupa untuk membaca. mereka lebih asik main game, chatting, facebook dan lain-lain

rikhanfuadi mengatakan...

meningkatkan minat baca di Indonesia ini seperti upaya memberangus korupsi.
tidak akan bisa dilakukan secara 100%
akan tetapi layak dicoba dengan menengok apa yang ada pada masa Dinasti Abbasiyah, khususnya pada zaman Khlifah Harun Ar-Rasyid yang pada masanya mencapai puncak keemasanya.
pada zaman Khalifah Harun Ar-Rasyid keberadaan ilmuan sangat diperhatikan, baik dari segi kebutuhan ilmuan itu sendiri maupun fasilitas-fasilitas pendukung pemngembangan keilmuan.
sebagai contoh adalah penerjemahan-penerjemahan kitab-kitab asing dibiayai oleh negara.
fasilitas berupa perpustakaan dan perguruan tinggi pun tersedia.
bagaimana dengan di Indonesia saat ini?
haei para pemangku kebijakan, tengoklah dan terapkan apa yang telah di lakukan oleh Khalifah Harun Ar-Rasyid

Rikhan Fuadi
08410042

'Ainan Ahsana mengatakan...

nur hidhayat
08410139

kemajuan bani abbasiyah dibidang ilmu pengetahuan seharusnya menjadi pecut bangsa Indonesia untuk lebih maju lagi. akan tetapi, hal itu tidaklah terjadi pada bangsa kita. Semboyan luhur yang seharusnya dikaji ulang itu selalu melekat pada diri pribadi bangsa Indonesia. "trimo ing pandum, alon alon waton kelakon" itulah semboyan yang menjadikan bangsa Indonesia tidak mau menambah ilmu pengetahuan dengan banyak membaca buku. padahal Allah berfirman "(katanya) “Sesungguhnya Allah tidak bisa merubah nasib suatu
kaum kecuali jika mereka merubah sendiri.” (Ar Ra’ad: 11)" ini menunjukan bahwa ketika manusia mau belajar berusaha dan berdoa maka kehidupannya akan berubah. selain itu bangsa indonesia hanya mengikuti tren yang tiak ditempatkan pada tempatnya. seperti siap siga dalam membaca SMS, BBM, FACEBOOK, TWITTER,dsb,, seharuskan minat baca yang tinggi dipakai untuk membaca buku yang lebih bermanfaat. alasan lain malas membaca buku karena menganggap bahwa membaca buku yang membutuhkan pemikiran sangat menjemukan dan bikin pusing. tapi mahasiswa PAI tidaklah demikian.. lanjutkan membaca ,, sebanyak-banyaknya..

Amri Evianti mengatakan...

Pada permulan bani Abbasiyah ilmu pengetahuan dan pendidikan berkembang dengan sangat pesat, sehingga terlahir sekolah-sekolah yang tidak terhitung banyaknya. Tersebar dari kota sampai ke desa-desa. Anak-anak dan pemuda-pemuda berlomba-lomba menuntut ilmu pengetahuan, melawat kepusat pendidikan, meniggalkan kampung halamanya karena cinta akan ilmu pengetahuan.itu sedikit data sejarah kecintaan pada ilmu pengetahuan pada masa bani Abbasiyah yang membuat mereka terus belajar tanpa henti, dan pada puncaknya ilmu menjadi mahkota terindah pada masanya, sedangkan di Indonesia pendidikan hanya mengarahkan pada kecintaan pada NILAI bukan pada ILMU hingga inilah yang membuat para warganya mencari hal instan dan enggan membaca buku yang berlembar-lembar halaman. kiranya perubhan arah berfikir pada cinta NIlAI kepada CINTA ILMU akan memulihkan minat warga INDONESIA pada CINTA MEMBACA. GO INDONESIA!!! We LOVE You
Komentator : Amri Evianti
Nim : 08410002

'Ainan Ahsana mengatakan...

nur hidhayat
08410139

Bangsa Indo ingin meningkatkan kehidupan yg lebih baik tapi dengan cara yang kilat tanpa harus usaha keras. inilah yang membuat minat membaca rendah. lebih suka disuapi daripada makan sendiri

mariyama balance mengatakan...

Nama : Ulva Mariya
Nim : 08410018
Smtr/Jur : 6 PAI B
Rekonstrukasi berdasarkan data sejarah pendidikan era Dinasti Abbasiyah tertang persoalan rendahnya minat baca bangsa Indonesia
Masa Dinasti Abassiyah 750-1258 terkenal dengan masa ke emasaan Umat Islam karena pada masa ini banyak sekali kemajuan-kemajuan yang di capai oleh umat Islam baik dari bidang ekonomi, Politik, sosial, dan pendidikan. Bicara Pendidikan pada masa Bani Abbasiyah banyak mengalami kemajuan dalam bidang Ilmu pengetahuan diantara bidang ilmu umum ( Filsafat, kedokteran, matematika, Astronomi, seni ukir, ) Ilmu Naqli ( Tafsir, Hadist, kalam, Tasawuf,) dan masa keemasaan ini mencapai puncaknya pada masa pemerintahan Harun Al-Rasyid dan putranya Al-Ma’mun pada masa Ar-Rasyid banyak sekali memanfaatkan kekayaan untuk keperluan sosial, rumah sakit, lembaga pendidikan dokter dan farmasi di didrikan, selain itu banyak melakukan perluasan jaringan sampai internasional, mengembangkan potensi SDA dengan baik dalam bidang ekonominya. Harun Ar-Rasyid adalah sosok pemimpin yang perlu menjadi contoh karena dia sangat menghargai orang- orang berilmu, cinta akan ilmu pengetahuan, Gemar sekali membaca Alquran. Sedangkan Al-Ma’mum sikapnya yang penuh semangat , keterbukaannya hal ini menjadikan Umat Islam Mengalami kemajuan yang sangat pesat hingga di sebut masa keemasaan. Dengan melihat sejarah pada masa Abbasiyah yang mengalami masa keemasaanya tersebut perlu menjadi cara pandang untuk masa sekarang dan masa yang akan datang, dengan cara merekonstruksinya. Dengan melihat permasalahan-permaslahan masa sekarang seperti persoalan rendahnya sekali minat baca bangsa indonesisa, banyak sekali orang mengampangkan permasalahan khususnya pendidikan semisal bicara persoalan pendidikan hanya pada moment-moment tertentu semisal kampanye tetapi selain moment tersebut persoalan pendidikan terkadang tidak di hiraukan, kurangnya mengarhargai orang berilmu hal-hal tersebut adalah persoalan yang perlu di cari solusinya, jika menginginkan bangsa ini lebih maju dan lebih baik. Oleh karena itu yang perlu dilakukan adalah lebihlah menghargai orang berilmu dan memberdayakanya, meningkatkan budaya membaca, perluas jaringan agar menambah wawasan, berkesadaran kritis transfomatif terhadap persolan-persoalan yang ada dan JASMERAH “jangan sekali-kali melupakan sejarah” karena bangsa yang besar tidaklah melupakan sejarah.
Dengan melihat persoalan minat baca Indonesia makin berkurang, ada suatu Cara agar minat baca lebih meningkat dengan yaitu:
1. Motivasi dari orang tua dan orang tua harus membiasakan dengan cara mengenalkan buku sejak dini, Dorong anak bercerita tentang apa yang telah didengar atau dibacanya, ajak anak ketoko biuku atau perpustakaan , bberi rewadh yang memperbesar semanagt membaca, jadikan membaca buku menjadi kebiasaan
2. Sarana prasarana khususnya yang mendukung minat baca harus di terpenuhi kualitasnya ex. Setiap sekolah harus ada perpustakaan. Dana yang 20 % dari APBN harus terrealisasi dengan baik khususnya tuk membangun sarana dan prasarana pendidikan yang masih jauh dari kelayakan, jangan untuk membangun gedung yang di khususkan untuk orang-orang berdasi dan berjas hitam ( DPR)
3.Luangkan waktu dalam sehari untuk membaca walau hanya berapa menit sedikit demi sedikit tidak masalah
4.membaca buku yang yang paling diminati terlebih dahulu

langit_biru mengatakan...

Wahyuni 08410004
Pada era bani abasiyah adalah masa kemasan peradaban islam....ilmu pengetahuan maju dengan sangat pesatsekali.jika dibandingkan antara masa bani abasiyah dengan keadaan sekarang di indonesia sangan jauh sekali.jika pada masa abasiyah banyak anak-anak yang pergi kepusat kota untuk menuntut ilmu pengetahuan di indonesia jga demikian namun yang menjadi perbedaan adalah cara pandang dalam mencari ilmu. terkait dengan minat membaca di indonesia memang sangat rendah sekali....yang harus kita lakukan adalah membaca buku yang ringan contohnya komik untuk menarik minat baca kita dan buku-buku yang sekiranya menarik untuk dibaca. Mungkin itu salah satu cara yang bisa dilakukan utuk meninhkatkan minat belajar di indoenesia.

langit_biru mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Fajar Gandhi Subarkah mengatakan...

Fajar Gandhi Subarkah
08410145

Langsung saja saya katakan: ada hubungan yang sangat signifikan antara membaca dan menulis.
Mengapa minat baca bangsa Indonesia Rendah?
Salah satu faktor yang paling berpengaruh adalah Minat Menulis Rendah. Mengapa minat menulis rendah karena pendidikan di Indonesia lebih mengedepankan hafalan teoritis dari pada menekankan pentingnya menulis, meskipun hanya sekedar menganalisis terapan ilmu yang sedang dipelajarinya.

Yang kedua Peranan Perpustakaan belum ada realitanya, saya katakan minat belajar siswa pada prinsipnya tinggi, karena frekwensi jumlah membaca di sekolah maupun di luar sekolah apalagi di mbah google sangat tinggi, mengapa tinggi? Karena kebutuhan menyeleseikan tugas, nambah pengetahuan, refreshing dan lain sebagainya. Maksud dan tujuan tiap2 orang berbeda-beda dengan kegiatan membaca itu. Salah satu keberhasilan bani abbasyiyah dalam pengembangan khazanah keilmuan adalah dengan perpustakaannya.

Maka untuk membangun perpustakaan profesional yang dapat memicu minat baca anak didik, koleksi buku perpustakaan harus di update dan ditambah secara terus menerus. Perpustakaan tidak hanya diisi dengan buku paket, ataupun klasik yang sekali di buka lembarannya langsung sobek, tetapi juga diisi dengan bahan bacaan yang lain yang dibutuhkan, baik fiksi maupun berupa non fiksi. Bahan bacaan yang tersedia sangat mempengaruhi terhadap keberhasilan sebuah perpustakaan mewujudkan minat baca. Keragaman dan kelengkapan koleksi bahan bacaan, merupakan salah satu hal yang sangat mempengaruhi keberhasilan eksistensi perpustakaan sebagai pemacu minat baca, karena koleksi bacaan adalah daya tarik yang sangat pontensial bagi sebuah perpustakaan untuk menarik kunjungan, bahkan dapat memabangun tradisi membaca.

muslymah_damunis mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
muslymah_damunis mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
muslymah_damunis mengatakan...

Nama: MUSLIMATUN HASANAH
NIM :08410188
KLS : B
Era kekuasaan Abbasiah dianggap zaman keemasan peradaban Islam. Berkembangnya pemikiran intelektual dan keagamaan pada tempoh ini antara lain kerana kesediaan umat Islam untuk menyerap budaya dan khazanah peradaban besar dan mengembangkannya secara kreatif.
Oleh kerana itu, ilmu tauhid/kalam, fikh, usul fikh mengalami perkembangan. Hubungan umat Islam dengan umat yang memiliki peradaban lain yang sangat maju, seperti India, Mesir dan Yunani mendorong umat Islam untuk menyerap khazanah peradaban tersebut.
Kehidupan intelektual di zaman Dinasti Abbasiyah diawali dengan berkembangnya perhatian pada perumusan dan penjelasan panduan keagamaan terutama dari dua sumber utama ini, ilmu-ilmu lain kemudian berkembang. Ilmu-ilmu al-Quran dan ilmu-ilmu hadis adalah dua serangkai siri pengetahuan yang menjadi pokok perhatian dan fokus pendidikan ketika itu.
Kemajuan peradaban Islam era Abbasiyah ini juga ditandai dengan berkembangnya ilmu-ilmu keislaman lain yang meliputi teologi/ilmu kalam dan fikh.
Salah satu ilmu yang sangat menarik perhatian umat Islam di zaman ini adalah ilmu kedoktoran (at-Tibb).
Berkembangnya pelbagai cabang ilmu pengetahuan tersebut adalah usaha dan kegigihan khalifah yang banyak menyediakan kemudahan-kemudahan. Usaha pengumpulan naskhah asing dan penterjemahannya ke bahasa Arab terus digalakkan.
Kegemilangan peradaban Islam dicapai kerana kebijaksanaan daulah Abassiyah dan juga faktor terjadinya asimilasi dalam Dinasti Abassiah dan penyerapan unsur-unsur bukan Arab (terutama bangsa Parsi) dalam pembinaan kemajuan dalam banyak bidang.
Banyak faktor yang mempengaruhi rendahnya kualitas bangsa Indonesia seperti tingkat pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan yang rendah. Kualitas SDM yang belum baik merupakan variabel penting yang membuat rendahnya mutu Indonesia di kancah Internasional. Carut marut praktis pendidikan Indonesia terlalu panjang jika diuraikan, diantaranya seperti kurang tersedianya fasilitas belajar yang memadai, rendahnya kualitas guru, dan karakter guru serta siswa yang belum terkondisikan untuk disiplin, jujur, dan bertanggungjawab. Bukti dari apa yang dikemukakan di atas di antaranya adalah malas membaca dan ,menulis.
Pendidikan selalu berkaitan dengan kegiatan belajar. Belajar selalu identik dengan membaca. Membaca selalu berhubungan dengan bertambahnya pengetahuan, sikap, dan ketrampilan. Persoalanya, kualitas membaca masyarakat juga siswa dan mahasiswa kita teramat rendah.
Apa yang menyebabkan minat baca masyarakat kita rendah ? infrastruktur apa saja yang diperlukan untuk menumbuhkan minat baca ? paling tidak ada tiga faktor yang mempengaruhi minat baca masyarakat. Pertama, belum adanya kegemaran buku yang dicontohkan oleh masyarkat termasuk orang tua dan guru. Kedua, kurang tersedianya bahan bacaan yang cukup untuk menumnbuhkan minat baca. Ketiga, tidak adanya pendidikan pembinaan minat baca, barangkali disebabkan belum terbinanya iklim membaca, belum tersedia program studi yang mengurusi minat baca atau pusat studi membaca dan kesalahan proses pembelajaran membaca dan beberapa penyebab faktor lain.
semoga kemajuan pengetahuan di era abbasiyah dapat menjadi cambuk bagi bangsa indonesia untuk lebih mengembangkan keilmuannya terutama di bidang IPTEK.

muhammad mansur mengatakan...

NAMA : MUHAMMAD MANSUR
KELAS : B
NIM : 09410098

"RENDAHNYA MINAT BACA BANGSA INDONESIA"
(Sebuah rekonstruksi sejarah Pendidikan Islam Era Abbasiyah)
Ilmu pengetahuan tidak serta merta didapatkan hanya dari seorang guru. Yang mana seseorang ingin mempunyai ilmu pengetahuan tidak harus berhadapan langsung dengan seorang guru. Bisa juga dengan buku, karena banyak orang mengatakan bahwa buku merupakan gudang ilmu. Yang dimaksud gudang ilmu disini adalah didalamnya terdapat berbagai macam ilmu yang dapat kita pelajari. Kalau boleh kita menengok pada zaman perkembangan dan kebudayaaan islam yaitu pada masa Bani Abasiyyah, buku pada masa itu mempunyai nilai yang sangat tinggi, Buku adalah merupakan sumber informasi berbagai macam ilmu pengetahuan yang ada dan telah dikembangkan oleh para ahlinya. Orang dapat dengan mudah dapat belajar dan mengajarkan ilmu pengetahuan yang telah tertulis dalam buku. Pada masa ini, para ulama dan sarjana sangat gemar sekali membaca buku, karena buku merupakan sarana utama dalam usaha pengembangan dan penyebaran ilmu pengetahuan. Selain itu mereka menulis buku-buku dalam bidangnya masing-masing, selanjutnya mereka ajarkan pada menuntut ilmu. Pada masa itu keberadaan perpustakaan berkembang pesat. Salah satunya adalah perpustakaan Baitul Hikmah yang didirikan oleh Khalifah Harun Ar Rasyid, yang mana merupakan perpustakaan islam yang lengkap. Budaya membaca buku pada saat itu sangat tinggi, dan juga didukung oleh adanya sarana yang mendukung pula. Itulah secuil dari berbagai sebab puncaknya kejayaan Islam pada masa itu.
Terkait rendahnya minat baca bangsa Indonesia. Banyak hal yang menyebabkan itu terjadi, dan juga tidak mudah untuk membangkitkan kembali budaya baca bangsa Indonesia yang kini telah tereduksi banyak. Tak lain, dan tak bukan itu juga dipengaruhi dari kemajuan teknologi, yang mana masyarakat Indonesia belum bisa mengmbil makna positif dan kemanfaatan dari teknologi itu sendiri. Sebagai contoh,pengunaan Facebook , Hp, dan Televisi kini telah membudaya dikalangan masyarakat Indonesia, orang lebih senang membaca atau menulis status di FBnya, orang lebih senang membaca SMS dari pada untuk membaca buku. Orang lebih banyak menghabiskan waktunya untuk menonton sinetron daripada membaca buku. Hal itu secara tidak langsung akan menurunkan semangat masyarakat Indonesia dalam membaca buku. Tentunya kita harus bercermin kebelakang.
Sebagai bangsa Indonesia yang kini kian terpuruk, maka harus ditanamakan kesadaran membaca buku untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, tidak hanya sebagai bangsa yang konsumtif dan serba instan. Tentunya budaya membaca itu harus ditanamakan sejak dini, sehingga budaya membaca itu benar-benar melekat dalam hati anak, yang akan terbawa samapai besar nanti. Tentunya itu harus didukung pula dengan upaya Pemerintah dalam menggalakakkan budaya baca buku yang bisa mengubah perspektif masyarakat bahwa membaca buku adalah hal yang membosankan dan menjenuhkan.Misalnya dengan terus menggalakakan pendirian perpustakaan baik diperkotaan atau dipedesaan, mendirikan taman bacaan yang menyenangkan, perpustakaan keliling, penyediaan stok buku-buku bacaan di tempat-tempat umum dan sebagainya. Dengan begitu, semoga kedepan minat baca bangsa Indonesia semakin meningkat dan mampu mendobrak bangsa Indonesia menjadi bangsa yang unggul dan berprestasi.Amiin…Ya Rabbal ‘Alamiin…!!!

Cerita Sanri Baru Al-Luqmaniyyah mengatakan...

Pelangi Lutfiana
09410215
“KEMBANGKAN WACANA KEILMUAN”

Belajar dari masa kejayaan Umat Islam pada masa Bani Abbasiyah tentu menjadi hal yang menarik kita bicarakan. Masa dimana peradaban keilmuan, kesejahteraan bahkan pemimpin yang arif menjadi masa-masa yang kita rindukan di masa yang sekarang. Bukanlah sesuatu yang berguna bila kita hanya bias menunggu dan menunggu masa kejayaan itu, tetap masa itu akan tercipta dengan upaya dan perjuangan tanpa batas dari kita sebagai umat Muslim penerus.
Diakui oleh seluruh belahan dunia, bahwa Indonesia merupakan penduduk penganut Islam terbanyak. Sebuah fakta yang patut kita syukuri dan kita banggakan. Yaitu dengan cara menggunakan segala potensi sebagai identitas umat Muslim guna mencapai masa Kejayaan Islam kembali. Apakah itu mungkin? Tentu! Bila semua nili kehidupan dalam masyarakat apapun itu latar belakang dan perannya mempunyai kesempatan yang sama dalam mengabdikan dirinya untuk kejayaan Islam.
Yang ingin penulis soroti disini, adalah peran mahasiswa dalam fungsinya sebagai tonggak peradaban Negara di masa depan. Dari proses sekarang inilah sebagai mahasiswa menjadi penting dalam menentukan perencanaan aktivitas, pergaulan dan kepribadian. Fakta menunjukkan bahwa minat membaca dan menulis bagi mahasiswa, karena wacana masyarakat yang berkembang, bahwa mahasiswa kuliah hanyalah mencari ijazah dan kemudian melamar pekerjaan. Bukan pada orientasi mengembangkan ilmu pengetahuan.
Hal ini tentu ada yang melatarbelakangi terjadinya wacana tersebut, salah satunya adalah perhatian dari pemimpin Negara serta jajarannya dalam pemberian penghargaan pada para ilmuwan. Terbukti hingga saat ini, Indonesia belum mampu mencetak para ilmuwan-ilmuwan professional yang diakui Negara bahkan dunia. Selain itu, kembali, kesadaran mahasiswa guna membakar semangat dalam berilmu perlu dikobarkan kembali yaitu dengan dukungan dari orang tua, masyarakat dan cara bergaul mahasiswa.
Membaca sesungguhnya menjadi santapan rutin tiap hari bagi mahasiswa, minimal 3 lembar per hari. Pembiasaan sederhana seperti ini amatlah berpengaruh pada tahap selanjutnya. Dari membaca tiga lembar akan bertambah empat, lima hingga seterusnya. Cukuplah pembiasaan dan kesenangan membaca yang dibutuhkan.
Akhirnya, apa yang mesti kita lakukan sekarang? Yaitu membaca-membaca dan membaca! Kemudian menulislah. Demi mengawali terciptanya peradaban Umat Muslim kembali dalam bidang ilmu pengetahuan. Semua memiliki kesempatan yang sama untuk menciptakan kejayaan Islam. Bangkitlah Umat Muslim!!

Abdul ghoni mengatakan...

Nama : Abdul Ghoni
NIM : 08410059
Mata Kuliyah : Sejarah Pendidikan Islam
Kelas : B

Pada masa Abbasiyah bidang pendidikan mendapat perhatian yang penuh dari pemerintah sehingga mengalami masa keemasan. Kemajuan dalam bidang keilmuan tersebut dikarenakan oleh:
1. Keterbukaan budaya umat Islam untuk menerima unsur-unsur budaya dan peradaban dari luar, sebagai konsekuensi logis dari perluasan wilayah yang mereka lakukan.
2. Adanya penghargaan, apresiasi terhadap kegiatan dan prestasi-prestasi keilmuan.
3. Terjadinya asimilasi antara bangsa Arab dengan bangsa-bangsa lain yang lebih dahulu mengalami perkembangan dalam bidang ilmu pengetahuan.
Disamping itu juga didukung oleh tradisi intelektual yakni tradisi membaca, menulis, berdiskusi, kebebasan berfikir, penelitian, serta pengabdian mereka akan keilmuan yang mereka kuasai.

minat baca masyarakat indonseia memang masih sangat rendah sebagaimana dikatakan oleh penerbit (dengar dari radio)salah satu kemerosotan penerbitan adalah rendahnya minat baca masyarakat indonesia terutama daerah luar jawa.

kalo melihat pada masa abbasiyah, masjid-masjid dan perpustakaan menjadi pusat pendidikan, tapi di negara kita kebanyakan masjid hanya digunakan sebagai tempat sholat saja, padahal membaca sangat mempengaruhi kuwalitas SDM. semoga kita makin cinta membaca.

catur farel mengatakan...

Catur santoso
08410079

pada era abbasiyah yang dimana para ilmuan disediakan tempat untuk mengembangkan ilmunya, sehingga pada jaman itu pendidikannya sangat maju terutma dalam bidang sains. kenapa
minat baca rakyat Indonsesia masih sangat rendah?, hal itu dipengaruhi oleh bebrpa faktor , di antaranya yaitu:

1. Faktor ekonomi
Faktor ekonomi sangat berpengaaruh yang meyebabkan sulitnya mendapatkan bahasn bacaan dan masyarakat lebih mementingkan berkerja daripada membaca

2.Kurangnya perhatian/motivasi
masyarakat indonesia kurang sekali mendapat perhatian baik dari keluarga maupun pemerintah, shingga minat baca sangat rendah

3. Banyaknya hiburan (game)
Banyak sekali hiburan-hiburan yang menggiurkan dan sangat mudah muntuk mendapatkanya, sehingga banyak remaja yang lebih mementingkan permainan (game) daripada membaca.

filsafat mengatakan...

ISTIGHFAROH
08410203

Tak hanya terobosan dalam tata pemerintahan, pada masa Abbasiyah, tradisi keilmuan berkembang pula. Salah satu yang terlihat jelas adalah metode penulisan sejarah. Philip K Hitti dalam History of the Arabs menyatakan, pada masa Abbasiyah, metode penulisan sejarah telah matang untuk melahirkan karya sejarah formal.
Pada masa sebelumnya, penulisan sejarah dilakukan berdasarkan legenda dan anekdot pada masa pra-Islam. Pun, didasarkan pada tradisi keagamaan yang berkisar pada nama dan kehidupan Nabi. Namun, saat Dinasti Abbasiyah berkuasa, penulisan sejarah mengalami kemajuan. Penulisan dilekatkan pada legenda, tradisi, biografi, geneologi, dan narasi.
Sejarah juga diriwayatkan melalui penuturan para saksi atau orang yang sezaman dengan penulis. Ini dilakukan melalui sejumlah mata rantai para saksi sejarah. Metode ini dinilai telah menjamin keakuratan data bahkan hingga penanggalan kejadian, meliputi bulan dan hari kejadian.
Sejarawan formal pertama pada masa itu adalah Ibn Qutaybah yang bernama lengkap Muhammad ibn Muslim Al Dinawari. Ibn Qutaybah meninggal dunia di Baghdad pada 889 Masehi setelah menuntaskan penulisan bukunya, Kitab Al Maarif atau Buku Pengetahuan.
Sejarawan ternama lainnya yang sezaman dengannya adalah Abu Hanifah Ahmad ibn Dawud Al Dinawari. Ia tinggal di Isfahan. Karya utama Al Dinawari adalah Al Akhbar Al Thiwal (Cerita Panjang), yang merupakan sejarah dunia dari sudut pandang Persia. Di kemudian hari, muncul nama Abu Al Hasan Ali Al Mas’udi.
Di kalangan sejarawan Muslim, ia mendapat julukan Herodotus bangsa Arab. Sebab, Al Mas’udi dianggap sekelas dengan sejarawan Yunani, Herodotus yang hidup pada abad ke-5 Masehi. Al Mas’udi oleh para pemikir dianggap telah memprakarsai metode tematis dalam penulisan karya-karya sejarah.

Metode tersebut kemudian diikuti oleh para ahli sejarah lain, seperti Ibn Khaldun. Al Mas’udi juga merupakan orang yang pertama kali menggunakan anekdot-anekdot sejarah. Ia berkelana mencari ilmu hingga ke Baghdad, Asia, dan Zanzibar.
MINAT baca masyarakat Indonesia dinilai masih rendah. Indikator lemahnya minat baca tersebut dapat dilihat dari ratio perbandingan penduduk dengan jumlah surat kabar.
Menurut Ketua Komunitas Minat Baca Indonesia, Sabarudin Tain, perbandingan penduduk dan surat kabar di Indonesia jangat jomplang. Berdasarkan pendataan terakhir pada tahun 1999, lanjut dia, perbandingannya mencapai 1:43. ” Artinya ,jumlah penduduk mencapai 207 juta jiwa, sedangkan jumlah surat kabar hanya 4,8 juta,” ujarnya disela-sela acara seminar dan lokakarya ‘Pemberdayaan Komunitas Minat Baca Menuju Masyarakat Jawa Barat Cerdas’, pekan lalu di Sukabumi.
Sabarudin menuturkan, perbandingan tersebut sangat jauh jika dibandingkan dengan negara tetangga atau negara asia lainnya. Pada tahun 1995, lanjut dia, perbandingan penduduk dan surat kabar di Malaysia hanya 1:8,1. Apalagi di negara jepang, rasionya hanya mencapai 1:1,74. ” Dengan negara India saja, Indonesia masih kalah. Di India rationya tersebut bisa mencapai 1:38,4,” paparnya.
Kata Sabarudin, rendahnya minat baca atau tidak adanya minat baca di Indonesia disebabkan oleh berbagai faktor. Antara lain, kata dia, yaitu lingkungan yang tidak mendukung. Baik itu di rumah tangga, sekolah maupun pergaulan. Selain itu, lanjut dia, bisa juga disebabkan oleh sarana bacaan yang terbatas. Perpustakaan sekolah dan pribadi tidak tersedia. ” Bisa juga rendanya minat baca ini disebabkan oleh materi bacaan yang tidak menarik, tidak ada budaya membaca dan juga rendahnya minat dan daya beli,” ungkapnya.
Akibatnya, lanjut Sabarudin, posisi Indonesia dari aspek penilian Human Development Indek (IPM), pada tahun 2003 menempati urutan yang cukup rendah. Indonesia, kata dia, menempati posisi nomor 112 dari 175 negara. Begitu juga, lanjut dia, dari kategori The Politic Economic Risk Constitution (PERC) 2003.

filsafat mengatakan...

Istighfaroh
08410203
Tak hanya terobosan dalam tata pemerintahan, pada masa Abbasiyah, tradisi keilmuan berkembang pula. Salah satu yang terlihat jelas adalah metode penulisan sejarah. Philip K Hitti dalam History of the Arabs menyatakan, pada masa Abbasiyah, metode penulisan sejarah telah matang untuk melahirkan karya sejarah formal.
Pada masa sebelumnya, penulisan sejarah dilakukan berdasarkan legenda dan anekdot pada masa pra-Islam. Pun, didasarkan pada tradisi keagamaan yang berkisar pada nama dan kehidupan Nabi. Namun, saat Dinasti Abbasiyah berkuasa, penulisan sejarah mengalami kemajuan. Penulisan dilekatkan pada legenda, tradisi, biografi, geneologi, dan narasi.
Sejarah juga diriwayatkan melalui penuturan para saksi atau orang yang sezaman dengan penulis. Ini dilakukan melalui sejumlah mata rantai para saksi sejarah. Metode ini dinilai telah menjamin keakuratan data bahkan hingga penanggalan kejadian, meliputi bulan dan hari kejadian.
Sejarawan formal pertama pada masa itu adalah Ibn Qutaybah yang bernama lengkap Muhammad ibn Muslim Al Dinawari. Ibn Qutaybah meninggal dunia di Baghdad pada 889 Masehi setelah menuntaskan penulisan bukunya, Kitab Al Maarif atau Buku Pengetahuan.
Sejarawan ternama lainnya yang sezaman dengannya adalah Abu Hanifah Ahmad ibn Dawud Al Dinawari. Ia tinggal di Isfahan. Karya utama Al Dinawari adalah Al Akhbar Al Thiwal (Cerita Panjang), yang merupakan sejarah dunia dari sudut pandang Persia. Di kemudian hari, muncul nama Abu Al Hasan Ali Al Mas’udi.
Di kalangan sejarawan Muslim, ia mendapat julukan Herodotus bangsa Arab. Sebab, Al Mas’udi dianggap sekelas dengan sejarawan Yunani, Herodotus yang hidup pada abad ke-5 Masehi. Al Mas’udi oleh para pemikir dianggap telah memprakarsai metode tematis dalam penulisan karya-karya sejarah.
Metode yang Al Mas’udi gunakan tidak seperti metode yang digunakan sejarawan ternama, Al Thabari, yang dalam menyusun karya sejarah berdasarkan tahun kejadian. Dalam menulis, ia mengelompokkan berbagai peristiwa sejarah berdasarkan dinasti, raja, serta masyarakatnya.
Metode tersebut kemudian diikuti oleh para ahli sejarah lain, seperti Ibn Khaldun. Al Mas’udi juga merupakan orang yang pertama kali menggunakan anekdot-anekdot sejarah. Ia berkelana mencari ilmu hingga ke Baghdad, Asia, dan Zanzibar. Pada dekade terakhir kehidupannya, Al Mas’udi berada di Suriah dan Mesir untuk menulis 30 jilid buku yang berjudul Muruj al Dzahab wa Ma’adin al Jawhar (Padang Emas dan Tambang Batu Mulia). Ini karya geografis bergaya ensiklopedia.
MINAT baca masyarakat Indonesia dinilai masih rendah. Indikator lemahnya minat baca tersebut dapat dilihat dari ratio perbandingan penduduk dengan jumlah surat kabar.
Menurut Ketua Komunitas Minat Baca Indonesia, Sabarudin Tain, perbandingan penduduk dan surat kabar di Indonesia jangat jomplang. Berdasarkan pendataan terakhir pada tahun 1999, lanjut dia, perbandingannya mencapai 1:43. ” Artinya ,jumlah penduduk mencapai 207 juta jiwa, sedangkan jumlah surat kabar hanya 4,8 juta,” ujarnya disela-sela acara seminar dan lokakarya ‘Pemberdayaan Komunitas Minat Baca Menuju Masyarakat Jawa Barat Cerdas’, pekan lalu di Sukabumi.
Sabarudin menuturkan, perbandingan tersebut sangat jauh jika dibandingkan dengan negara tetangga atau negara asia lainnya. Pada tahun 1995, lanjut dia, perbandingan penduduk dan surat kabar di Malaysia hanya 1:8,1. Apalagi di negara jepang, rasionya hanya mencapai 1:1,74. ” Dengan negara India saja, Indonesia masih kalah. Di India rationya tersebut bisa mencapai 1:38,4,” paparnya.
Kata Sabarudin, rendahnya minat baca atau tidak adanya minat baca di Indonesia disebabkan oleh berbagai faktor. Antara lain, kata dia, yaitu lingkungan yang tidak mendukung. Baik itu di rumah tangga, sekolah maupun pergaulan. Selain itu, lanjut dia, bisa juga disebabkan oleh sarana bacaan yang terbatas. Perpustakaan sekolah dan pribadi tidak tersedia. ” Bisa juga rendanya minat baca ini disebabkan oleh materi bacaan yang tidak menarik, tidak ada budaya membaca dan juga rendahnya minat dan daya beli,” ungkapnya.
.

auriga_capella mengatakan...

Bismillah..

Nama : Anisa Dwi Makrufi
NIM : 08410093

Sajidiman Surjohadiprojo (1995) ketika menjabat Dubes Jepang mengatakan bahwa yang paling membedakan bangsa Indonesia dengan bangsa Jepang adalah kemampuan adaptifnya, termasuk kemampuan membaca dan mempelajari budaya bangsa lain. Tidak akan dijumpai orang Jepang melamun dan mengobrol dikereta api bawah tanah, kegiatan mereka kalau tidak tidur tentu membaca, hal ini tentu berbeda dengan masyarakat kita.
Namun kita tidak dapat menuduh begitu saja bahwa masyarakat tidak memiliki minat baca. Hal ini dikarenakan faktor ekonomi, yaitu tingginya biaya produksi buku, karena semua pajak yang berkaitan dengan produksi buku dibebankan kepada konsumen, sehingga harga buku di Indonesia termasuk mahal. Apalagi masyarakat berpendapatan “ pas- pasan “, maka keterbatasan jangkauan dan prioritas kebutuhan juga salah satu penyebab rendahnya minat baca.
Apabila kita menengok sejarah, pada zaman Daulah Abbasiyah, berkembang pesat bidang kesusasteraan dan ilmu pengetahuan yang disalin ke dalam bahasa Arab. Lahirlah pada masa itu sekian banyak penyair, pujangga, ahli bahasa, ahli sejarah, ahli hukum, ahli tafsir, ahli hadits, ahli filsafat, thib, ahli bangunan dan sebagainya. Kesemuanya itu tak lepas dari tingginya minat baca masyarakat pada saat itu, dan perpustakaan menjadi salah satu bagian yang fundamental, tak lebih bila dikatakan perpustakaan sudah layaknya universitas. Di ruang perpustakaan seorang ilmuwan bisa menelaah habis pengetahuan-pengetahuan yang telah ditemukan oleh pendahulunya. Dari perpustakaan seseorang mampu mengembangkan wawasan pemikirannya. Di sana seseorang bisa melakukan riset-riset kecil, observasi-observasi hingga mampu memberikan sumbangan yang signifikan bagi dunia ilmu pengetahuan.
Ilmu pengetahuan dipandang sebagai suatu hal yang sangat mulia dan berharga. Para khalifah dan para pembesar lainnya (era Abbasiyah) membuka kemungkinan seluas-luasnya untuk kemajuan dan perkembangan ilmu pengetahuan. Pada umumnya khalifah adalah para ulama yang mencintai ilmu, menghormati sarjana dan memuliakan pujangga.
Dan juga tak kalah pentingnya, kebebasan berpikir sebagai hak asasi manusia diakui sepenuhnya. Pada waktu itu akal dan pikiran benar-benar dibebaskan dari belenggu taklid, yang mana menyebabkan orang sangat leluasa mengeluarkan pendapat dalam segala bidang, termasuk bidang aqidah, falsafah, ibadah dan sebagainya. Apabila masyarakatnya tidak berwawasan luas, tentu saat itu peradaban tidak akan maju seperti halnya yang terjadi. Dan salah satu factor yang penting ialah tingginya minat baca yang berkembang masa itu.
Mengingat masih rendahnya minat baca masyarakat Indonesia, maka tidak perlu menunggu pemerintah untuk merealisasikan upaya minat baca, tetapi harus dimulai dari masyarakat itu sendiri, dengan melakukan berbagai upaya sederhana sesuai dengan kondisi masyarakat setempat. Serta membiasakan teladan-teladan edukatif yang dapat menumbuhkembangkan budaya baca.

Rahmi Raabihah mengatakan...

rahmini
08410134
Pendidikan Islam pada masa bani Abbasiyah sangatlah maju pesat. Hal ini ditandai dengan banyaknya lembaga-lembaga pendidikan yang dibangun di berbagai Negara. Ilmu pengetahuan umum juga sangat berkembang. Semangat para ilmuwan muslim saat itu sangatlah tinggi, sampai mereka bersemangat pula dalam mempelajari ilmu barat yaitu filsafat untuk kemudian diintegrasikan dengan Islam sehingga menjadi “Filsafat Islam”.
Mereka tidak mengenal lelah dalam belajar, pikiran mereka terbuka tidak eksklusif (tertutup) sehingga potensi untuk lebih maju itu terbuka lebar. Mereka berusaha merubah mind set, bahwasanya ilmu itu luas, ilmu bisa didapat dari manapun sekalipun dari orang barat selama ilmu itu ada manfaat dan tidak ada kemadhorotan, maka ilmu itu dapat dipelajari dan diamalkan.
Jika dibandingkan dengan kondisi Indonesia saat ini, Indonesia sangat jauh tertinggal dalam hal pendidikan. Banyak hal yang akhirnya menyebabkan Indonesia berada dalam situasi demikian itu. Diantaranya, bangsa Indonesia menyukai tren “instan” segalanya serba instan. Baikitu makanan, pemikiran, harta, dsb. Mayoritas mereka berfikiran dengan sedikit usaha mereka akan mendapat hasil yang maksimal tidak peduli apakah yang dikerjakan itu akan merugikan orang lain atau tidak.
Begitu pula fenomena di kalangan terpelajar, lingkungan kampus khususnya. Bnyak mahasiswa yang mempuyai minat baca yang rendah. Hal ini dapat dilihat ketika mereka mengerjakan tugas paper dari dosen. Biasanya para mahasiswa hanya copy paste dari materi yang didapat dari internet tanpa menganalisis sedikitpun. Sehingga dampak dari hal ini adalah bangsa Indonesia semakin terjajah oleh kebodohan, kebodohan yang disebabkan oleh dirinya sendiri, tiada ghiroh untuk belajar dan lebih maju.

Rahmi Raabihah mengatakan...

rahmini
08410134
Pendidikan Islam pada masa bani Abbasiyah sangatlah maju pesat. Hal ini ditandai dengan banyaknya lembaga-lembaga pendidikan yang dibangun di berbagai Negara. Ilmu pengetahuan umum juga sangat berkembang. Semangat para ilmuwan muslim saat itu sangatlah tinggi, sampai mereka bersemangat pula dalam mempelajari ilmu barat yaitu filsafat untuk kemudian diintegrasikan dengan Islam sehingga menjadi “Filsafat Islam”.
Mereka tidak mengenal lelah dalam belajar, pikiran mereka terbuka tidak eksklusif (tertutup) sehingga potensi untuk lebih maju itu terbuka lebar. Mereka berusaha merubah mind set, bahwasanya ilmu itu luas, ilmu bisa didapat dari manapun sekalipun dari orang barat selama ilmu itu ada manfaat dan tidak ada kemadhorotan, maka ilmu itu dapat dipelajari dan diamalkan.
Jika dibandingkan dengan kondisi Indonesia saat ini, Indonesia sangat jauh tertinggal dalam hal pendidikan. Banyak hal yang akhirnya menyebabkan Indonesia berada dalam situasi demikian itu. Diantaranya, bangsa Indonesia menyukai tren “instan” segalanya serba instan. Baikitu makanan, pemikiran, harta, dsb. Mayoritas mereka berfikiran dengan sedikit usaha mereka akan mendapat hasil yang maksimal tidak peduli apakah yang dikerjakan itu akan merugikan orang lain atau tidak.
Begitu pula fenomena di kalangan terpelajar, lingkungan kampus khususnya. Bnyak mahasiswa yang mempuyai minat baca yang rendah. Hal ini dapat dilihat ketika mereka mengerjakan tugas paper dari dosen. Biasanya para mahasiswa hanya copy paste dari materi yang didapat dari internet tanpa menganalisis sedikitpun. Sehingga dampak dari hal ini adalah bangsa Indonesia semakin terjajah oleh kebodohan, kebodohan yang disebabkan oleh dirinya sendiri, tiada ghiroh untuk belajar dan lebih maju.

Imam Tanjung mengatakan...

Imam Tanjung
08410054

faktor yang mempengaruhi kemajaun pendidikan pada masa badi Abasiyah adalah minta belajar yang tinggi masyarakat pada masa itu. hal tersubut atau semangat tersebut harus ditanamkan di indonesia agar mencapai tujuan pendidikan nasional yang telah disusun.

Imam Tanjung mengatakan...

Imam Tanjung
08410054

masa bani Abbasiyah merupakan masa keemasan sepanjang sejarah peradaban islam. salah satu keberhasilannya adalah di bidang ilmu pengetahuan. faktor penyebabnya adalah tingginya minta blejar masyarakat pada masa itu. semangat ini harus ditanamkan di indonesia agar mencapi tujuan pendidikan nasional yang telah disusun.