Daily Calendar

Rabu, April 13, 2011

TUGAS REKONSTRUKSI SPI PAI-F

Khusus Anda yang berada di Kelas PAI-F, lakukan rekonstruksi berdasarkan data sejarah Pendidikan Islam Era Abbasiyah tentang persoalan, "Kemajuan ekonomi, political will dan pengembangan pendidikan di Indonesia"! [tuliskan dalam "komentar"!]

33 komentar:

nadhirotul mengatakan...

Siti Nadhirotul Kh/ 08410121

Masa pemerintahan Bani Abbasiyah bisa dikatakan masa keemasan Islam, karena pada masa itu terjadi kemajuan di segala bidang, yaitu : politik, ekonomi, dan pendidikan. Masa kejayaan Bani Abbasiyah dimulai sejak pemerintahan Khalifah Harun Ar-Rasyid. Kemakmurannya tidak hanya dirasakan di lingkungan kerajaan saja, namun seluruh masyarakat pun merasakan kemakmuran. Masa pemerintahan Harun Ar-rasyid adalah sejak 782-809 M, setelah itu beliau digantikan oleh putranya yaitu Khalifah Al Makmun. Khalifah Al Makmun ini terkenal dengan khalifah yang sangat mncntai ilmu pengetahuan. Pada masa pemerintahannya diadakan penerjemahan buku-buku filsafat Yunani ke dalam baha Arab. Beliau juga membuat Baitul Hikmah sebagai wadah untuk kepentingan penerjemahan tersebut, dan kota baghdad menjadi pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan.
Kemajuan pendidikan: kemajuan pendidikan pada masa Bani Abbasiyah ini terjadi karena pada masa ini tidak ada dihkotomi pendidikan, namun antara ilmu agama dan ilmu umum saling berintegrasi walau obyeknya berbeda-beda.
Kemajuan ekonomi : kota baghdad menajdi pusat perdagangan.
Pendidikan di Indonesia :
Pendidikan di Indonesia masih memperlihatkan adanya sistem dihkotomi. Hal ini yang kadang masih membuat pendidikan di Indonesia masih tergolong rendah. Karena antara ilmu agama dan ilmu umum berdiri sendiri-sendiri, bahakn kadang terkesan saling bertolak belakang.

sri purwaningsih ramadhan mengatakan...

Sri Purwaningsih Ramadhan/ 09410027

Ekonomi: Pada waktu Khalifah Mansur meninggal setelah memimpin negara selama 22 tahun, dalam kas negara tersisa kekayaan sebanyak 810.000.000 dirham. Harun al-Rasyid sebanyak 900.000.000 dirham. Kecakapan Rasyid dalam mengelola kas negara sama dengan kecakapan Mansur, hanya Rasyid lebih banyak mengeluarkan, mungkin karena zaman yang berbeda.
Disini perlu diteladi kemurahan seorang pemimpin (era Harun Ar rasyid) beliau banyak mengeluarkan harta pribadi untuk sesama, bahkan beliau sangat memperhatikan urusan pribadi atau kenegaraan, ketika ada tamu beliau akan bertanya: “urusan pribadi atau Negara” bila urusan pribadi beliau bahkan mematikan lampu. Potret ini sangat berbeda dengan pemimpin kita yang saling berlomba-lomba memperkaya diri, bahkan ketika melihat tayangan di TV para anggota DPR yang notabene “wakil rakyat”, rata-rata menggunakan mobil keluaran terbaik luar negeri, jalan-jalan dengan dalih “studi banding”, dan sekarang menginginkan gedung baru. Cara berpikir (mindseat) seorang pemimpin harus selalu mengutamakan rakyat diatas segalanya. Pemimpin yang baik juga meninggalkansesuatu yang baik, bukannya mewariskan hutang pada era selanjutnya. Untuk kemakmuran rakyat, pajak termasuk alternative yang sangat baik, tapi seperti yang kkita ketahui korupsi menjadikan dana yang seharusnya tersalurkan kemasyarakat masuk kekantong oknum tertentu.
Salah satu prasyarat penting dalam pemberantasan korupsi adalah kemauan politik atau political will dari pemerintah. Terutama presiden karena posisinya yang strategis dalam pemberantasan korupsi. Dalam pengadilan, peran jaksa sebagai penuntut sangat penting dan Presiden adalah atasan langsung Jaksa Agung. Karena itu, kalau presiden mau seharusnya tinggal perintah Jaksa Agung untuk menegakkan hukum tanpa pandang bulu, dulu di zaman Abbasiyah para pemimpin menegakkan benar sikap anti korupsi, bahkan kalau ada yang ketahuan maka akan diganti
kebebasan berpikir diakui sepenuhnya sebagai hak asasi setiap manusia oleh Daulah Abbasiyah. Oleh karena itu, pada waktu itu akal dan pikiran benar-benar dibebaskan dari belenggu taqlid, sehingga orang leluasa mengeluarkan pendapat. Berawal dari itu, zaman pemerintahan Abbasiyah awal melahirkan 4 Imam Madzhab yang ulung, mereka adalah Syafi’i , Hanafi, Hambali , dan Maliki. Disamping itu, zaman pemerintahan Abbasiyah awal itu juga melahirkan Ilmu Tafsir al-Quran dan pemisahnya dari Ilmu Hadits. Sebelumnya, belum terdapat penafsiran seluruh al Quran, yang ada hanyalah Tafsir bagi sebagian ayat dari berbagai surah, yang dibuat untuk tujuan tertentu (Syalaby, 1997:187).
Pendidikan kita di Indonesia hendaklah meniru (melihat) dari Abbasiyah dimana pemerintah sangat mendukung HAM untuk berpendapat, menentang paham yang ada, juga mendukung fasilitas pendidikan. Setiap pergantian pemimpin ada kontribusi positif yang ditinggalkan terutama yang sangat bermanfaat bagi kehidupan selanjutnya, inilah yang harus diperhatikan pemimpin Indonesia. Negeri yang maju selain dilihat dari sisi ekonomi juga dari sisi pendidikan, dimana ketika rakyat itu terdidik/ cerdas bisa dipastikan kemakmuran juga meningkat. Sudah bukan saatnya lagi untuk memperdebatkan bagaimana pendidikan itu maju, strategi apa yang dapat melejitkan potensi tapi bagi saya yang terpenting adalah teladan dari pemimpin untuk mencintai ilmu, serta dukungan-dukungan materi dan immateri. Karena pemimpin mempunyai kuasa untuk bertindak maka gunakanlah kekuasaan itu untuk mencerdaskan bangsa Indonesia, memberantas korupsi, dan selalu berpikir “Apa yang dapat aku wariskan setelah kepemimpinan ini, bukan “Apa yang aku didapatkan dari kekuasaanku saat ini.

iezma mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
iezma mengatakan...

Iis. Masikah / 08410118

Popularitas daulah Abbasiyah mencapai puncaknya di zaman khalifah Harun Al-Rasyid (786-809 M) dan puteranya Al-Ma’mum (813-833 M). Kekayaan yang dimanfaatkan Harun Arrasyid untuk keperluan sosial, rumah sakit, lembaga pendidikan, dokter, dan farmasi didirikan, pada masanya sudah terdapat paling tidak sekittar 800 orang dokter. Disamping itu, pemandian-pemandian umum juga dibangun. Tingkat kemakmuran yang paling tinggi terwujud pada zaman khalifah ini. Kesejahteraan sosial, kesehatan, pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan serta kesusasteraan berada pada zaman keemasannya.pada masa inilah Negara islam menempatkan dirinya sebagai Negara terkuat dan tak tertandingi. Al- Ma’mun pengganti Al- Rasyid, dikenal sebagai khalifah yang sangat cinta kepada ilmu. Pada masa pemerintahannya, penerjemahan buku-buku asing digalakan, untuk menerjemahkan buku-buku Yunani, ia mengkaji penerjemah-penerjemah dari golongan kristen dan penganut golongan lain yang ahli. Dalam hal perekonomian juga masa ini sangat maju pesat dan seluruh masyarakatnya makmur karena pemerintah pada masa itu sangat mementingkan rakyatnya khususnya pada kepemimpinan khalifah Harun Al-Rasyid.
Kemajuan pendidikan pada masa itu terjadi karena kepemimpinan yang sangat bijaksana dan sangat mementingkan rakyatnya dari pada dirinya sendiri dan tidak adanya dikhotomi pendidikan sehingga antara ilmu agama dengan ilmu umum itu melebur menjadi satu meskipun ada batasan-batasan tertentu.
Pendidikan di Indonesia: menurut pendapat saya, Indonesia belum memiliki kualifikasi khusus dalam bidang pendidikan, terjadinya dikhotomi pendidikan menjadikan Negara Indonesia menjadi Negara yang ketinggalan dalam sector apapun, mungkin karena belum ada pembaharu-pembaharu yang menciptakan ilmunya sendiri dan hanya mengadopsi ilmu dari luar khususnya barat.

Camille Belle mengatakan...

Cinca Patria
08410157
PAI F

Yang harus direkonstruksi dalam masa pemerintahan Bani Abbasiyah tentang persoalan kemajuan ekonomi, political will dan pengembangan pendidikan di Indonesia, terutama pada pendidikannya karena sudah tidak diragukan lagi gilang gemilangnya bani Abbasiyah dalam pemerintahannya. Ada salah satu hal yang menurut saya sangat ironi. Hal penting tersebut adalah menjaga kelestarian kebudayaan (maupun ilmu), jangan sampai ilmu itu hanya sebatas pada cerita saja seperti yang terjadi di Abbasiyah, ilmuwan seperti Al-Kindi yang luar biasa dalam segala bidang ilmu pengetahuan terutama matematika, hanya bisa kita tahu ceritanya saja namun ilmu secara riil tidak ada, yang ada malahan ilmu dari barat. Hal ini terasa sungguh ironis. Mengapa ada deret matematika Fibbonaci namun tidak ada deret atemetika AL-Kindi, ilmuwan yang sangat besar tersebut? Hal ini dapat kita ambil value-nya dengan menjaga ilmu, budaya, kesenian dan melestarikan apapun yang ada di negara Indonesia ini. Jangan sampai kelak negara/ bani yang begitu besar dan begitu gilang-gemilang dalam segala bidang terutama bidang pendidikan hanya sampai pada cerita saja.

M. Syukri Khamid mengatakan...

MU'ALLIM SYUKRI KHAMID/ 09410168

Setelah megetahui tentang sejarah pendidikan islam pada masa bani abasiyah maka menurut saya yag perlu di rekonstruksi di Indonesia adalah tentang pemerintahannya, yang mana pada masa bani abasiyah seorang pemimpin itu sangat bijaksana dan bertanggungjawa terhadap rakyatnya (kholifah Harun ar Rosyid), pada masa ini bani abasiyah itu mencapai puncak kejayaanya.
sekarang kita lihat di negara kita, hal tu sangat bertolak belakang, kita lihat saja orang-orang yang berada di DPR sana itu mencerminkan orang-orang yang serakah (meminta gedung bari {milyaran}) sedangkan rakyatnya banyak yang menderita kemiskinan..
jadi menurut saya yang sangat perlu di rekonstruksi itu tentang pemerintahannya...
terus dalam dunia pendidikan juga perlu direkonsruksi. kita lihat BJ Habibi seakan-akan tidak dihargai dinegrinya sendiri, sehingga dia berhijrah ke Jerman. namun hal ini tidak terjadi pada masa bani abasiyah yang mana pada masa ini seorang ilmuwan atau ahli itu sangat dihargai....
sehingga menurut saya hal ini juga harus direkonstruksi ulang supaya para ilmuwan indonesia tidak pada kabur ke negara lain...

M. Syukri Khamid mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
aini mengatakan...

nama : YUsmaniar Nur Aini
NIM : 08410207

Ekonomi pada masa Abbasiyah digerakkan oleh perdagangan. Sudah terdapat berbagai macam industri seperti kain linen di Mesir, sutra dari Syiria dan Irak, kertas dari Samarkand, serta berbagai produk pertanian seperti gandum dari mesir dan kurma dari iraq. Hasil-hasil industri dan pertanian ini diperdagangkan ke berbagai wilayah kekuasaan Abbasiyah dan Negara lain. Karena industralisasi yang muncul di perkotaan ini, urbanisasi tak dapat dibendung lagi. Selain itu, perdagangan barang tambang juga semarak. Emas yang ditambang dari Nubia dan Sudan Barat melambungkan perekonomian Abbasiyah. Perdagangan dengan wilayah-wilayah lain merupakan hal yang sangat penting. Secara bersamaan dengan kemajuan Daulah Abbasiyah, Dinasti Tang di Cina juga mengalami masa puncak kejayaan sehingga hubungan erdagangan antara keduanya menambah semaraknya kegiatan perdagangan dunia. Bila melihat perekonomian yang berkembang pesat di masa Abbasiyah, maka Indonesia sebagai negara agraris juga dapat mengembangakn perekonomiannya dengan mengmbangkan sektor pertanian yang ada. Dengan itu, Indonesia dapat mengekspor segala hasil pertanian dan industri yang ada. Tidak lagi mengimpor. Apabila kegiatan ekspor telah terpenuhi, maka tujuan dari ekonomi politik Indonesia yaitu mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat, dan menempatkan pencerdasan bangsa serta kesejahteraan umum sebagai tujuan negara juga akan segera terpenuhi.
Pendidikan Indonesia saat ini juga belum dapat berkembang secara sempurna. Bila kita kembali berkaca pada pendidikan pada masa Abbasiyah, untuk memajukan pendidikannya, tidak hanya mengembangkan SDM yang ada, akan tetapi juga sarana dan prasarana. Pengambangan yang dilakukan dengan banyak mendirikan perpustakaan sebagai pendukung pendidikan, pembaharuan buku-buku dengan menerjemahkan buku-buku bahasa asing sehingga dapat mengikuti perkembangan zaman. Point lain yang adpat diambil dari dinasti Abbasiyah untuk perkembangan masa ini adalah adanya kerjasama dengan negara lain dan memberi hak bebasa untuk menembangkan Ilmu yang diminati. Dengan kebebasan ini seorang ilmuwan diberi kesempatan dan fasilitas agar ilmu yang dia minati dapat dikembangkan dan berguna tidak hanya di dalam negeri tapi juga di negeara lain.

eL_Zay mengatakan...

NGIZZATI WALNGADOMAH AS
08410109

Kerajaan islam di Timur yang berpusat di Baghdad dan Cordova telah menunjukan dalam segala cabang ilmu pengetahuan sehingga kalau kita buka lembaran sejarah dunia pada masa keemasan, yang bermula dengan berdirinya kerajaan Abbasiyah di Baghdad, pada tahun 750 M dan berakhir dengan kerajaan Abbasiyah pada tahun 1258 Masehi.
Politik pada masa khalifah Abbasiyah antara lain : 1. Para Khalifah tetap dari keturunan Arab Murni sementara para menteri, para gubernur, panglima dan pegawai lainnya diangkat dari golongan mawali keturunan Persia. 2. Kota Baghdad adalah sebagai kota negara terbuka bagi semua Bangsa (kota internasional) menjadi pusat kegiatan dalam semua aspek kehidupan, kegiatan politik, ekonomi, sosial dan kebudayaan. 3. Para Khalifah dan pembesar lainnya pada umumnya memandang penting dan mulia terhadap ilmu pengetahuan serta mendorong dan membuka seluas-luasnya kemajuan dan perkembangan ilmu pengetahuan. 4.“Kebebasan” dihormati, dijunjung tinggi, dan dijamin serta diakui sepenuhnya. 5. Para mawali diberi hak sepenuhnya dalam menjalankan roda pemerintahan. Sementara itu, kemajuan dalam pengelolaan di bidang pemerintahan mengalami kemajuan, negara dipimpin oleh kepala negara yang bergelar Khalifah, untuk membantu Khalifah dalam menjalankan pemerintahan negara, ditetapkan suatu jabatan yang bernama wizarat dan pemangkunya wazir (Perdana Menteri) yang merupakan tradisi baru yang belum ada sebelumnya pada masa Bani Ummayyah. Pada periode pertama yang menonjol dari politiknya adalah menekankan pembinaan peradaban dan kebudayaan islam daripada perluasan wilayah.
Bidang Ekonomi mencerminkan bahwa seorang “pembangun” dari satu “negara” dan pengganti-penggantinya di zaman permulaan adalah seorang ekonom. Kalau bukan demikian, negara tidak akan terbangun atau tidak akan kuat dasar-dasarnya. Dalam zaman permulaan Daulah Abbasiyah, pembendaharaan negara penuh berlimpah ruah, uang masuk lebih dari uang keluar. Khalifah Mansur benar-benar telah meletakkan dasar yang sangat kuat bagi perekonomian dan keuangan negara. Salah satu contoh dari keahlian Mansur dalam soal ekonomi dan organisasi serta ketajaman pandangan jauhnya, yaitu pesannya kepada putra mahkotanya, Mahdi. Pada waktu Khalifah Mansur meninggal setelah memimpin negara selama 22 tahun, dalam kas negara tersisa kekayaan sebanyak 810.000.000 dirham. Harun al-Rasyid sebanyak 900.000.000 dirham. Kecakapan Rasyid dalam mengelola kas negara sama dengan kecakapan Mansur, hanya Rasyid lebih banyak mengeluarkan, mungkin karena zaman yang berbeda. Untuk mengurus keuangan negara, maka dibentuklah Bait al-Mâl, sumber uang yang masuk ke Bait al-Mâl pada saat itu berasal dari : a. al-Óarraj (Pajak Hasil Bumi) b. al-Jizyah (Pajak Badan) c. al-Zakaú (Zakat) d. al-Fa’i (Rampasan Perang). Baik Khalifah Mansur ataupun khalifah-khalifah sesudahnya telah membangun perekonomian negara dengan berhasil, baik dalam bidang pertanian, perindustrian ataupun dalam bidang perdagangan.
Dilihat dari perkembangan kbudayaan pada masa Bani Abbasiyah yang bisa diambil untuk segi pendidikan pada masa sekarang ini di Indonesia adalah pendidikan multikultural. Yang mana bisa merangkul segala kalangan tanpa harus memandang suku, agama, ras, dan kebudayaan.

utamiratna.com mengatakan...

Nama:Utami Ratna A
NIM :08410017
kELAS:PAI F
Masa Daulah Abbasiyah adalah masa keemasan Islam, atau sering disebut dengan istilah ‘’The Golden Age’’. Pada masa itu Umat Islam telah mencapai puncak kemuliaan, baik dalam bidang ekonomi, peradaban dan kekuasaan. Selain itu juga telah berkembang berbagai cabang ilmu pengetahuan, ditambah lagi dengan banyaknya penerjemahan buku-buku dari bahasa asing ke bahasa Arab. Fenomena ini kemudian yang melahirkan cendikiawan-cendikiawan besar yang menghasilkan berbagai inovasi baru di berbagai disiplin ilmu pengetahuan. Bani Abbas mewarisi imperium besar Bani Umayah. Hal ini memungkinkan mereka dapat mencapai hasil lebih banyak, karena landasannya telah dipersiapkan oleh Daulah Bani Umayah yang besar. Menjelang tumbangnya Daulah Umayah telah terjadi banyak kekacauan dalam berbagai bidang kehidupan bernegara; terjadi kekeliruan-kekeliruan dan kesalahan-kesalahan yang dibuat oleh para Khalifah dan para pembesar negara lainnya sehingga terjadilah pelanggaran-pelanggaran terhadap ajaran Islam, termasuk salah satunya pengucilan yang dilakukan Bani Umaiyah terhadap kaum mawali yang menyebabkan ketidak puasan dalam diri mereka dan akhirnya terjadi banyak kerusuhan .Masa Abbasiyah menjadi tonggak puncak peradaban Islam. Khalifah-khalifah Bani Abbasiyah secara terbuka mempelopori perkembangan ilmu pengetahuan dengan Abbasiyah secara terbuka mempelopori perkembangan ilmu pengetahuan dengan mendatangkan naskah-naskah kuno dari berbagai pusat peradaban sebelumnya untuk kemudian diterjemahkan, diadaptasi dan diterapkan di dunai Islam. Para ulama’ muslim yang ahli dalam berbagai ilmu pengetahuan baik agama maupun non agama juga muncul pada masa ini. Pesatnya perkembangan peradaban juga didukung oleh kemajua ekonomi imperium yang menjadi penghubung dunua timur dan barat. Stabilitas politik yang relatif baik terutama pada masa Abbasiyah awal ini juga menjadi pemicu kemajuan peradaban Islam

utamiratna.com mengatakan...

nama:Utami Ratna A
NIM:08410017
Kelas :PAI F

Daulat Bani Abbasiyah Adalah sebuah negara yang melanjutkan kekuasaan bani Umayyah. Dinamakan daulat bani Abbasiah karena para pendidri dan penguasa dinasti ini adalah keturunan Al-Abbas paman Nabi Muhammad SAW. Pendiri dinasti ini adalah Abdullah Al-Safah bin Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Al- Abbas. Dia dilahirkan di Humaimah pada tahun 104 H. Dia dilantik menjadi Khalifah pada tanggal 3 Rabiul awwal 132 H. Kekuasaan Dinasti Bani Abbasiyah.
Awal kekuasaan Dinasti Bani Abbas ditandai dengan pembangkangan yang dilakukan oleh Dinasti Umayah di Andalusia (Spanyol). Di satu sisi, Abd al-Rahman al-Dakhil bergelar amir (jabatan kepala wilayah ketika itu); sedangkan disisi yang lain, ia tidak tunduk kepada khalifah yang ada di Baghdad. Pembangkangan Abd al-Rahman al-Dakhil terhadap Bani Abbas mirip dengan pembangkangan yang dilakukan oleh muawiyah terhadap Ali Ibn Abi Thalib. Dari segi durasi, kekuasaan Dinasti Bani Abbas termasuk lama, yaitu sekitar lima abad.
Abu al-Abbas al-Safah (750-754 M) adalah pendiri dinasti Bani abasiyah

ganis mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
islamedu is oke mengatakan...

Yunita Furi Aristyasari
08410195

Masa abbasiyah merupakan masa kejayaan umat islam tidak hanya dimata umat islam sendiri namun dimata dunia saat itu. Hal ini ditandai dengan kemjauan politik, ekonomi dan terutama pendidikannya. Pada masa khalifah harun arrasyid, pemerintahan abbasiyah mencapai masa gemilangnya. Khalifah harun terkenal dengan kebijaksanaanya, kecakapannya dan kepeduliannya dengan rakyatnya. Kemajuan bidang politik yang diraih abbasiyah waktu itu adalah sistem ketatanegarannya yang teratur. ( seperti pengangkatan wazir, sekretaris negara, membenahi jawatan pos, upaya konsolidasi), tidak ada lagi dominasi bangsa arab dalam menduduki jabatan karena khalifah mengangkat kebanyakan dari bangsa persia untuk menduduki jabatan dengan mempertimbangkan kecakapan mereka, kerja sama dengan penguasa luar negeri seperti charlemagne dan masih banyak kebijakan-kebijakan yang lain yang membuat abbasiyah semakin ternama. Dalam bidang ekonomi, khalifah harun arasyid menjadikan sektor pertanian semakin maju dan menjadi mata pencaharian utama rakyat saat itu yakni dengan membangun sistem irigasi. Dalam bidang pendidikan, pemerintah membangun perpustakan terbesar saat itu yang dinamakan bayt al hikmah. Disinilah pusat penerjamahan buku-buku filsafat yunani oleh para ilmuwan muslim. Dan disini pula para ilmuwan muslim mengembangkan ilmunya. Pemerintah pun membangun lembaga pendidikan dokter, kuttab, masjid dan sebagainya. Era abbasiyah tidak ada dikotomi ilmu agama dan Ilmu umum. Hal ini benar-benar didukung oleh pemerintah saat itu terutama khlifah al makmun yang sangat mencintai ilmu.
Sekarang mari kilat amati kondisi negara kita. Apakah sejauh ini sudah mengalami kemajuan?. Maaf kata, saya kira belum. Justru yang terjadi belakangan ini adalah kondisinya semakin carut marut. Dalam bidang politik, maraknya kasus-kasus korupsi, suap menyuap, ketidak adilan, sistem hukun yang tidak jelas, manipulasi politik dan sebagainya. Dalam bidang ekonomi, terjadinya defisit negara akibat impor yang terlalu tinggi, kemiskinan, pengangguran, urbanisasi dan sebagainya. Dalam bidang pendidikan, kontroversial UN yang kata orang membunuh karakter anak, kapitalisme pendidikan, kurang meratanya akses pendidikan di seluruh pelosok negeri. Penyebabnya menurut hemat saya, hal ini diawali oleh pemimpinnya. Bukan maksud hati menyalahkan pemimpin sepenuhnya. Namun, yang saat ini dibutuhkan indonesia adalah pemimpin yang tegas, berani mengambil keputusan, cakap, adil, bertanggung jawab dan peduli terhadap nasib rakyat. Bukan pemimpin yang lembek, jago membuat jargon-jargon kampanye, penakut jabatan dan citra dirinya turun. Seorang pemimpin harus benarni mengambil resiko. Jika kita melihat khalifah abbasiyah diatas seperi al makmun, harun ar rasyid. Mereka adalah orang yang benar-benar memperhatikan nasib rakyatnya, mencintai ilmi pengetahuan, benar-benar selektif dalam memilih pembantu-pembantunya. Sebenarnya kita tidak perlu memiliki khalifah harun arrasyid atau al makmun untuk memimpin negeri kita. Namun, sikap-sikap mereka, nilai-nilai kehidupan yang mereka terapkan ssperti kejujuran, keadilan, kepedulian dan sebagainyalah yang mesti kita contoh terutama ini bagi para pemimpin dan pejabat-pejabat indonesia dan bagi kita sebagai calon pemimpin.

sparta jauhar zone mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
sparta jauhar zone mengatakan...

nama : luk luk jauwahiriyah/08410236/PAI F

Pada masa al-Mahdi perekonomian mulai meningkat dengan peningkatan di sektor pertanian melalui irigasi dan peningkatan hasil pertambangan seperti perak, emas, tembaga dan besi. Terkecuali itu dagang transit antara Timur dan Barat juga banyak membawa kekayaan. Bashrah menjadi pelabuhan yang penting.
Adapun kondisi politik di Indonesia sedang mengalami kekacauan yang sangat serius. Bangsa Indonesia kurang mengaca terhadap pemerintahan Bani abbas. Banyak kekayaan alam yang dimiliki oleh bangsa ini, namun bangsa ini kurang bisa mengelola apa yang dimiliki negeri ini. Sehingga Indonesia banyak memanjakan diri dengan mengimpor barang-barang dari luar, padahal bahan mentah dari bahan yang di impor itu berasal dari negeri sendiri.sehingga generasi mendatang ikut terpengaruhi dan menjadi generasi yang instan.
Secara politis, para khalifah betul-betul tokoh yang kuat dan merupakan pusat kekuasaan politik dan agama sekaligus. Di sisi lain, kemakmuran masyarakat mencapai tingkat tertinggi. Periode ini juga berhasil menyiapkan landasan bagi perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan dalam Islam
Termasuk golongan Negara yang terkorup adlah Indonesia, istilah itu sudah taka sing lagi bagi kita, namun yang menjadi pertanyaan adalah apa penyebab dari semwa itu? Untuk hal ini maka kita perlu melihat kemasalalu yaitu masa bani abbasiah. Yang mana para pemimpin atau elemen-elemenya terdiri dari ahli-ahli agama dan filsafat sehingga mereka semua merasa mempunyai pegangan yang kuat terhadap agama. Namun apakah para pemerintah kita tidak dari tokoh agama?? Para pemerintah kita adalah orang – orang beragama.
Al-Ma'mun, pengganti Harun Ar-Rasyid, dikenal sebagai khalifah yang sangat cinta kepada ilmu filsafat. Pada masa pemerintahannya, penerjemahan buku-buku asing digalakkan. Untuk menerjemahkan buku-buku Yunani, ia menggaji penerjemah-penerjemah dari golongan Kristen dan penganut agama lain yang ahli (wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah). Ia juga banyak mendirikan sekolah, salah satu karya besarnya yang terpenting adalah pembangunan Baitul-Hikmah, pusat penerjemahan yang berfungsi sebagai perguruan tinggi dengan perpustakaan yang besar. Pada masa Al-Ma'mun inilah Baghdad mulai menjadi pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan.
Adapun permasalahan yang saat ini menjadi pembicaraan public yaitu maslah pembangunan gedung DPR yang masih kuat dan kokoh untuk dihuni. Namun Pemerintah lebih mengutamakan pembangunan gedung DPR dari pada pembangunan gedung-gedung sekolah. Padahal begitu banyak gedung-gedung sekolah yang tidk layak dikatakan sebagai sekolahan. Maka pemerintah seharusnya sedikitnmenoleh ke masanya bani abbas yang lebih memperhatikan ilmu pengetahuan dan peradaban kalau ingin menjadi Negara yang gemah ripah logh jinawe.

zulfa kamila mengatakan...

Pada zaman Bani Abbasiyah merupakan puncak keemasan Islam. Dimana pemerintahnya focus akan pembangunan-pembangunan kota Baghdad. Dengan didirikannya sarana ibadah, pendidikan dan ilmu pengetahuan. Adanya perhatian yang besar terhadap permasalahan pendidikan. Sedangkan di Indonesia masalah pendidikan, ekonomi, politik bisa dikatakan mendapat nilai minus. Terang saja pada bidang pendidikan banyaknya gedung sekolah yang kurang layak huni, kurang meratanya pembiayaan pendidikan 20 % dari APBN dan APBD, sistem evaluasi yang kurang memperhatikan kemampuan maupun potensi peserta didik. Seharusnya mengeluarkan kebijakan melihat pada objek yang akan dituju. Dari sistem politik maupun ekonomi juga demikian. Banyaknya kasus-kasus korupsi yang sedang merajalela, adanya pembangunan gedung DPR baru sementara gedung DPR lama masih layak untuk dipergunakan. Kinerja para pemerintahan di Indonesia mendapat sambutan yang kurang baik di mata masyarakat. Banyak masyarakat yang menilai bahwa pemerintah kurang berhasil dalam kinerjanya. Seharusnya Sistem pada Bani Abbasiyah ini bisa dijadikan contoh untuk memajukan Indonesia.

jahid qowy musyayyad mengatakan...

Jahid Qowy Musyayyad 08410246

kemajuan suatu pendidikan pasti dipengaruhi oleh faktor-faktor yang kuat, baik ekstern maupun intern. dari faktor ekstern, pendidikan tidak terlepas dari iklim suatu bangsa, dari iklim ekonomi,politik, dll. kemajuan pendidikan pada era abbbasiyah tidak terlepas dari kondisi ekonomi dan politik abbasiyah yang cukup maju. ekonomi dan politik yang dipegang oleh pemerintah yang bersih dan peduli dengan pendidikan merupakan faktor penting berkembangnya pendidikan tersebut.
jika kita lihat situasi di Indonesia,masih jauh jika membicarakan tentang kemajuan pendidikan. ekonomi dan politik indonesia yang carut marut menghambat prosesi kemajuan pendidikan di Indonesia. banyak hal yang bisa dilihat bahwa pemerinta kurang memperhatikan Pendidikannya;seperti pemerintah lebih mendukung pembangunan gedung baru DPR dari pada membangun sekolah-sekolah yang kondisinya sangat memprihatinkan, menggunakan pajak rakyat seenaknya sendiri.
pemerintah juga kurang bisa "memelihara" orang-orang jenius yang ada di Indonesia. terlihat dari orang-orang pintar lebih memilih pergi keluar negeri karena disana ilmunya bisa lebih dikembangkan melalui fasilitas yang tersedia.
Pelesiran anggota pemerintah seharusnya belajar bagaimana negara maju mengembangkan pendidikannya tidak hanya jalan-jalan saja.

jahid qowy musyayyad mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Zuhad Nur Royhaan mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Zuhad Nur Royhaan mengatakan...

08410249

masa pemerintahan bani abbasiyah adalah masa dimana islam mencapai puncak kejayaannya.Hal ini dibuktikan oleh keberhasilan tokoh-tokoh Islam dalam mendalami bidang keilmuan dan dengan karya-karyanya. Mulai dari aliran fiqih, tafsir, ilmu hadis, teologi, filsafat sampai dengan bidang keilmuan umum seperti matematika, astronomi, sastra sampai ilmu kedokteran.
selain itu kesadaran akan pentingnya ilmu pengetahuan juga mendasari kemajuan yang dialami bani abbasiyah. karena kekuasaan pun juga tak akan kokoh jika tidak didukung dengan penguasaan ilmu pengetahuan.
kota baghdad menjadi pusat ilmu pengetahuan pada masa itu. maka dibangunlah bait al hikmah di berbagai daerah daerah.

jika kesadaran akan pentingnya penguasaan ilmu pengetahuan tersebut dapat diaplikasikan di Indonesia. maka bisa jadi kejayaan umat islam akan terulang kembali.
pembangunan bait al hikmah atau perpustakaan seperti halnya yang dilakukan pemerintahan bani abbasiyah sudah ada penerapannya di Indonesia. sebagai pusat kajian keilmuan. namun perpustakaan tersebut mayoritas hanya bisa diakses segelintir orang saja. belum berifat umum. apalagi sampai ke pelosok-pelosok daerah.
harus ada pembaruan dalam aspek pendidikan di negara kita. conohlah kejayaan bani abbasiyah pada masa itu.

wahyu isnaeni mengatakan...

Popularitas daulah Abbasiyah mencapai puncaknya di zaman khalifah Harun Al-Rasyid (786-809 M) dan puteranya Al-Ma’mum (813-833 M). Kekayaan yang dimanfaatkan Harun Arrasyid untuk keperluan sosial, rumah sakit, lembaga pendidikan, dokter, dan farmasi didirikan, pada masanya sudah terdapat paling tidak sekittar 800 orang dokter. Disamping itu, pemandian-pemandian umum juga dibangun. Tingkat kemakmuran yang paling tinggi terwujud pada zaman khalifah ini. Kesejahteraan sosial, kesehatan, pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan serta kesusasteraan berada pada zaman keemasannya.pada masa inilah Negara islam menempatkan dirinya sebagai Negara terkuat dan tak tertandingi. Al- Ma’mun pengganti Al- Rasyid, dikenal sebagai khalifah yang sangat cinta kepada ilmu. Pada masa pemerintahannya, penerjemahan buku-buku asing digalakan, untuk menerjemahkan buku-buku Yunani, ia mengkaji penerjemah-penerjemah dari golongan kristen dan penganut golongan lain yang ahli. Ia juga banyak mendirikan sekolah, salah satu karya besarnya yang terpenting adalah pembangunan Bait Al- Hikmah, pusat penerjemah yang berfungsi sebagai perguruan tinggi dengan perpustakaan yang besar dan menjadi perpustakaan umum dan diberi nama ”Darul Ilmi” yang berisi buku-buku yang tidak terdapat di perpustakaan lainnya. Pada masa Al-Ma’mun inilah Bagdad mulai menjadi pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan, kekota inilah para pencari datang berduyun-duyun, dan pada masa ini pula kota Bagdad dapat memancarkan sinar kebudayaan dan peradaban islam keberbagai penjuru dunia. Kondisi politik yang tidak stabil menyebabkan perekonomian negara morat-marit. Sebaliknya, kondisi ekonomi yang buruk memperlemah kekuatan politik Dinasti Abbasiyah.
Rekonstruksi ssat ini adalah dengan adannya perpustakaan yang ada untuk mendapatkan ilmu.
Sekarang ini banyak terdapat perpustakaan. Hal ini lebih mencontoh pada masa itu yaitu banyak memanfaatkan perpustakaan untuk mengembangkan ilmu.
Kondisi ekonomi yang banyak permasalahan hamper sama pada masaa saat ini khususunya diindonesia yang semakn banyak permasalah khususnya banyaknya koruptor.

memey mengatakan...

NAMA : Lisya Nur R
NIM : 08410216
PAI : F

Bidang pendidikan : Kekuasaan dinasti bani abbas, sebagaimana disebutkan melanjutkan kekuasaan dinasti bani Umayyah. Dinamakan khilafah Abbasiyah karena para pendiri dan penguasa dinasti ini adalah keturunan Al-Abbas paman Nabi Muhammad Saw, dinasti didirikan oleh Abdullah Alsaffah Ibnu Muhammad Ibn Ali Ibn Abdullah Ibn Al- Abbas.1

Dinasti Abbasiyah merupakan dinasti islam yang sempat membawa kejayaan umat islam pada masanya. Zaman keemasan islam dicapai pada masa dinasti-dinasti ini berkuasa. Pada masa ini pula umat islam banyak melakukan kajian kritis terhadap ilmu pengetahuan. Akibatnya pada masa ini banyak para ilmuan dan cendikiawan bermunculan sehinnnngga membuat ilmu pengetahuan menjadi maju pesat.

Popularitas daulah Abbasiyah mencapai puncaknya di zaman khalifah Harun Al-Rasyid (786-809 M) dan puteranya Al-Ma’mum (813-833 M). Kekayaan yang dimanfaatkan Harun Arrasyid untuk keperluan sosial, rumah sakit, lembaga pendidikan, dokter, dan farmasi didirikan, pada masanya sudah terdapat paling tidak sekittar 800 orang dokter. Disamping itu, pemandian-pemandian umum juga dibangun. Tingkat kemakmuran yang paling tinggi terwujud pada zaman khalifah ini. Kesejahteraan sosial, kesehatan, pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan serta kesusasteraan berada pada zaman keemasannya.pada masa inilah Negara islam menempatkan dirinya sebagai Negara terkuat dan tak tertandingi. Al- Ma’mun pengganti Al- Rasyid, dikenal sebagai khalifah yang sangat cinta kepada ilmu. Pada masa pemerintahannya, penerjemahan buku-buku asing digalakan, untuk menerjemahkan buku-buku Yunani, ia mengkaji penerjemah-penerjemah dari golongan kristen dan penganut golongan lain yang ahli. Ia juga banyak mendirikan sekolah, salah satu karya besarnya yang terpenting adalah pembangunan Bait Al- Hikmah, pusat penerjemah yang berfungsi sebagai perguruan tinggi dengan perpustakaan yang besar dan menjadi perpustakaan umum dan diberi nama ”Darul Ilmi” yang berisi buku-buku yang tidak terdapat di perpustakaan lainnya. Pada masa Al-Ma’mun inilah Bagdad mulai menjadi pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan, kekota inilah para pencari datang berduyun-duyun, dan pada masa ini pula kota Bagdad dapat memancarkan sinar kebudayaan dan peradaban islam keberbagai penjuru dunia.
Diantara bangunan-bangunan atau sarana untuk penndidikan pada masa
Abbasiyah yaitu:
•Madrasah yang terkenal ketika itu adalah madrasah Annidzamiyah, yang

didirikan oleh seorang perdana menteri bernama Nidzamul Muluk (456-486 M). Bangunan madrasah tersebut tersebar luas di kota Bagdad, Balkan, Muro, Tabaristan, Naisabur dan lain-lain.
•Kuttab, yakni tempat belajar bagi para siswa sekolah dasar dan menengah.
•Majlis Munadharah, tempat pertemuan para pujangga, ilmuan, para ulama,
cendikiawan dan para filosof dalam menyeminarkan dan mengkaji ilmu yang
mereka geluti.
•Darul Hikmah, gedung perpustakaan pusat.

Bidang Politik : 1. Periode Pertama (132 H/750 M - 232 H/847 M), disebut periode pengaruh Arab dan Persia pertama.
2. Periode Kedua (232 H/847 M - 334 H/945 M), disebut periode pengaruh Turki pertama.
3. Periode Ketiga (334 H/945 M - 447 H/1055 M), masa kekuasaan dinasti Bani Buwaih dalam pemerintahan khilafah Abbasiyah. Periode ini disebut juga masa pengaruh Persia kedua.
4. Periode Keempat (447 H/1055 M - 590 H/l194 M), masa kekuasaan daulah Bani Seljuk dalam pemerintahan khilafah Abbasiyah; biasanya disebut juga dengan masa pengaruh Turki kedua (di bawah kendali) Kesultanan Seljuk Raya (salajiqah al-Kubra/Seljuk agung).
5. Periode Kelima (590 H/1194 M - 656 H/1258 M), masa khalifah bebas dari pengaruh dinasti lain, tetapi kekuasaannya hanya efektif di sekitar kota Baghdad dan diakhiri oleh invasi dari bangsa Mongol.

Bidang ekonomi : Pada periode pertama, pemerintahan Bani Abbas merupakan pemerintahan yang kaya. Dana yang masuk lebih besar dari yang keluar, sehingga Baitul-Mal penuh dengan harta. Pertambahan dana yang besar diperoleh antara lain dari al-Kharaj, semacam pajak hasil bumi.

wahyu isnaeni mengatakan...

Nama : wahyu Isnaeni
Nim : 08410238
Popularitas daulah Abbasiyah mencapai puncaknya di zaman khalifah Harun Al-Rasyid (786-809 M) dan puteranya Al-Ma’mum (813-833 M). Kekayaan yang dimanfaatkan Harun Arrasyid untuk keperluan sosial, rumah sakit, lembaga pendidikan, dokter, dan farmasi didirikan, pada masanya sudah terdapat paling tidak sekittar 800 orang dokter. Disamping itu, pemandian-pemandian umum juga dibangun. Tingkat kemakmuran yang paling tinggi terwujud pada zaman khalifah ini. Kesejahteraan sosial, kesehatan, pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan serta kesusasteraan berada pada zaman keemasannya.pada masa inilah Negara islam menempatkan dirinya sebagai Negara terkuat dan tak tertandingi. Al- Ma’mun pengganti Al- Rasyid, dikenal sebagai khalifah yang sangat cinta kepada ilmu. Pada masa pemerintahannya, penerjemahan buku-buku asing digalakan, untuk menerjemahkan buku-buku Yunani, ia mengkaji penerjemah-penerjemah dari golongan kristen dan penganut golongan lain yang ahli. Ia juga banyak mendirikan sekolah, salah satu karya besarnya yang terpenting adalah pembangunan Bait Al- Hikmah, pusat penerjemah yang berfungsi sebagai perguruan tinggi dengan perpustakaan yang besar dan menjadi perpustakaan umum dan diberi nama ”Darul Ilmi” yang berisi buku-buku yang tidak terdapat di perpustakaan lainnya. Pada masa Al-Ma’mun inilah Bagdad mulai menjadi pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan, kekota inilah para pencari datang berduyun-duyun, dan pada masa ini pula kota Bagdad dapat memancarkan sinar kebudayaan dan peradaban islam keberbagai penjuru dunia. Kondisi politik yang tidak stabil menyebabkan perekonomian negara morat-marit. Sebaliknya, kondisi ekonomi yang buruk memperlemah kekuatan politik Dinasti Abbasiyah.
Rekonstruksi ssat ini adalah dengan adannya perpustakaan yang ada untuk mendapatkan ilmu.
Sekarang ini banyak terdapat perpustakaan. Hal ini lebih mencontoh pada masa itu yaitu banyak memanfaatkan perpustakaan untuk mengembangkan ilmu.
Kondisi ekonomi yang banyak permasalahan hamper sama pada masaa saat ini khususunya diindonesia yang semakn banyak permasalah khususnya banyaknya koruptor.

Ari Fajar Isbakhi mengatakan...

Nama : Ari Fajar Isbakhi
Nim :08410095
Pendidikan pada masa Dinasti Abbasiyah. mayoritas umat muslim sudah bisa membaca dan menulis dan dapat memahami isi dan kandungan Al-Quran dengan baik. Pada masa ini murid-murid di tingkat dasar mempelajari pokok-pokok umum yang ringkas, jelas dan mudah dipahami tentang beberapa masalah. Pendidikan di tingkat dasar ini diselenggarakan di masjid, dimana Al-Quran merupakan buku teks wajib. Pada tingkat pendidikan menengah diberikan penjelasan-penjelasan yang lebih mendalam dan rinci terhadap materi yang sudah diajarkan pada tingkat pendidikan dasar. Selanjutnya pada tingkat universitas sudah diberikan spesialisasi, pendalaman dan analisa. Pendidikan pada masa Bani Abbasiyah sangat berbeda dengan masa-masa sebelumnya seperti masa Nabi, masa khoilfah rasyidin dan umayah, tujuan pendidikan satu saja, yaitu keagamaan semata. Mengajar dan belajar karena Allah dan mengharap keridhoan-Nya. Namun pada masa abbasiyah tujuan pendidikan itu telah bermacam-macam karena pengaruh masyarakat pada masa itu.Akan tetapi sistem perekonomian pada masa abbasiyah sangat porak-poranda karena adanya suatu perebutan kekuasaan.
Rekonstruksi: Dapat kita lihat kaitan tujuan pendidikan antara zaman sekarang dengan zaman duhulu terutama pada zaman bani abbasiyah yang mana meliputi tujuan keagamaan dan akhlak,tujuan kemasyarakatan,cinta akan ilmu pengetahuan dan tujuan kebendaan. Dari hal tersebut sangat banyak kesamaan dengan tujuan pendidikan pada zaman sekarang ini.akan tetapi pendidikan pada zaman sekarang ini lebih hanya untuk kepentingan pribadi atau duniawi dan tidak mempedulikan keRidhoan Allah. Dan sistem perekonomian pada masa bani Abbasiyah sangat mirip dengan zaman sekarang karena sistem perekonomiannya juga mengandalkan politik yang memperebutkan jabatan sehingga dalam berpolitik tidak lagi mementingkan golongan akan tetapi mementingkan kepuasan dirinya sendiri.

Anis Rif'atul Husni mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
aqu_in08 mengatakan...

Nama : Evrida Era Pratama
NIM : 08410212
E mail : aqu_in08@yahoo.com

Daulah Bani Abbasiyah berdiri pada mulanya dengan melakukan penyebaran islam dengan mencari pendukung dan penyebaran ide secara rahasia dan secara terang-terangan dan himbauan diforum-forum resmi untuk dengan usaha yang berlanjut dengan peperangan melawan bani umayah.
Sistem pemerintahan bani abbasiyah sedikit meniru cara bani umayah. Dasar-dasar pemerintahan Bani Abbasiyah diletakkan pada khalifah kedua, Abu Ja’far Al-Mansyur. Sistem politik Bani Abbasiyah yang dijalankan antara lain adalah para khalifah tetap dari keturunan Arab murni, kota Baghdad sebagai ibu kota negara yang menjadi pusat kegiatan politik, ilmu pengetahuan dipandang sebagai sesuatu yang sangat penting, kebebasan berpikir sebagai HAM yang diakui penuh, dan para menteri turunan Persia diberi hak penuh dalam menjalankan pemerintahan.
Untuk sistem ekonomi Khilafah Abbasiyah juga mengalami kemunduran di bidang ekonomi bersamaan dengan kemunduran di bidang politik. Pada periode pertama, pemerintahan Bani Abbas merupakan pemerintahan yang kaya. Dana yang masuk lebih besar dari yang keluar, sehingga Baitul-Mal penuh dengan harta. Pertambahan dana yang besar diperoleh antara lain dari al-Kharaj, semacam pajak hasil bumi.
Setelah khilafah memasuki periode kemunduran, pendapatan negara menurun sementara pengeluaran meningkat lebih besar. Menurunnya pendapatan negara itu disebabkan oleh makin menyempitnya wilayah kekuasaan, banyaknya terjadi kerusuhan yang mengganggu perekonomian rakyat. diperingannya pajak dan banyaknya dinasti-dinasti kecil yang memerdekakan diri dan tidak lagi membayar upeti. Sedangkan pengeluaran membengkak antara lain disebabkan oleh kehidupan para khalifah dan pejabat semakin mewah. jenis pengeluaran makin beragam dan para pejabat melakukan korupsi. Kondisi politik yang tidak stabil menyebabkan perekonomian negara morat-marit. Sebaliknya, kondisi ekonomi yang buruk memperlemah kekuatan politik dinasti Abbasiyah kedua, faktor ini saling berkaitan dan tak terpisahkan.
Masa kejayaan ini ditandai dengan berkembang pesatnya kebudayaan Islam secara mandiri.Dengan berkembang luasnya lembaga-lembaga pendidikan Islam, madrasah-madrasah dan universitas-universitas yang merupakan pusat-pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan kebudayaan Islam. Pada masa ini pendidikan Islam berkembang sebagai akibat dari hal tersebut dan merupakan jawaban terhadap tantangan yang diakibatkan oleh perkembangan dan kemajuan-kemajuan budaya Islam sendiri yang berlangsung sangat cepat. Tumbuh dan berkembangnya ilmu pengetahuan dan kebudayaan Islam dengan cepat, merupakan ciri pendidikan Islam masa ini. Pertumbuhan dan perkembangan pada tahap awalnya memang merupakan perpaduan antara unsur-unsur pembawaan ajaran Islam sendiri dengan unsur-unsur yang berasal dari luar, yaitu dari unsur budaya Persia, Yunani, Romawi, India dan sebagainya. Kemudian dalam perkembangannya potensi atau pembawaan Islam tidak merasa cukup hanya menerima saja unsur budaya dari luar itu, kemudian mengembangkannya lebih jauh, sehingga kemudian warna dan unsur-unsur Islamnya nampak lebih dominan dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Kemajuan-kemajuan dalam ilmu pengetahuan keagamaan saja. Tetapi juga dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan pada umumnya

nurtya mengatakan...

Nama: Nurtyaningsih
Kelas: PAI-F
NIM: 0841208
Pada masa Bani Abbasiyah, saat Al-Mahdi memimpin perekonomian mulai meningkat dengan peningkatan disektor pertanian, melalui irigasi dan peningkatan hasil pertambangan seperti emas, perak, tembaga, dan besi. Kemudian Bani Abbasiyah mencapai popularitasnya pada saat kepemimpinan Harun Al-Rasyid dan puteranya, Al-Ma’mun. Kekayaan yang banyak dimanfaatkan Harun untuk keperluan sosial seperti, membangun rumah sakit, lembaga pendidikan dokter, dan farmasi. Pada masa pemerintahan Al Ma’mun penterjemahan buku-buku asing digalakkan karena kecintaannya terhadap ilmu. Ia juga banyak mendirikan sekolah, salah satu karya besarnya adalah Bait Al Hikmah yaitu pusat penerjemahan yang berfungsi sebagai perguruan tinggi dengan perpustakaan yang besar. Pada masa Al-Ma’mun ini Baghdad mulai menjadi pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan.
Mari kita lihat negara kita, pendidikan di negara kita tidak dapat dinikmati oleh semua rakyat Indonesia. Padahal, setiap warga negara mempunyai hak untuk memperoleh pendidikan. Apa penyebabnya? Minimnya fasilitas pendidikan. Seperti sekolah, tenaga pendidik, serta fasilitas lain. Banyak terdapat sekolah di Indonesia yang bangunannya bahkan hampir rubuh namun tetap digunakan kegiatan pembelajaran dan lambat pemerintah menyalurkan bantuan. Ini karena banyak kejahatan yang dilakukan oleh pejabat. Seperti, dana pendidikan yang dikorupsi sehingga pembangunan fasilitas maupun penyaluran bantuan menjadi terhambat. Negara kita yang kaya hasil bumi, namun hanya dikuasai oleh orang-orang tertentu padahal dana dari kekayaan hasil bumi kita dapat membantu pendidikan di Indonesia. Namun sekarang banyak tempat-tempat hasil bumi dan perusahaan-perusahaan yang dikuasai oleh asing. Selain itu, gencarnya ingin membangun ekonomi Indonesia tidak mampu diiringi dengan pembangunan disektor pendidikan. Akibatnya mutu pendidikan kita tertinggal oleh negara lain. Jika saja kita mampu untuk bercermin pada saat kepemimpinan Al-Mahdi, Harun maupun puteranya. Selain perekonomian berkembang di sisi lain pendidikan mengalami kemajuan. Hal ini di pengaruhi juga oleh sang pemimpin yang mencintai ilmu pada saat itu sehingga pendidikan dapat berkembang dengan mudah. Bukan berarti menyalahkan pemimpin negara kita, namun tidak ada salahnya kita belajar dari sejarah. Rasa nasionalisme pemimpin-pemimpin Abbasiyah dapat menjadi motivasi bagi kita untuk menjadikan negara kita lebih baik.

FPI mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
lia507 mengatakan...

Aprilia Intan P/08410230

Masa pemerintahan bani abbasiyah dapat dikatakan sebagai masa keemasan untuk islam, dimana pada masa itu terjadi kemajuan di segala bidang, yaitu: politik, ekonomi, dan bidang pengetahuan serta kebudayaan yang berdampak pada kemajuan peradaban Abbasiyah. bukti dari kemajuan yang dicapai bani abbasiyah adalah banyaknya gedung-gedung yang dibangun sebagai sarana politik, selain itu banyaknya muncul ilmuwan di berbagai bidang. pemimpin bangsa yang sangat bertanggung jawab dan peduli pada rakyatnya sangat berpengaruh dalam hal ini. bercermin dari hal itu pemerintahan Indonesia masihlah sangat lemah, banyak pemimpin kita yang belum bertanggung jawab akan tugasnya dalam memimpin bangsa, hal ini dapat terlihat dari banyaknya kasus kemiskinan dan meluasnya kasus-kasus korupsi yang tidak jelas ujungnya. jika, bangsa ini ingin maju ada baiknya jika pemimpin dapat bercermin dari pemerintahan bani Abbasiyah ini.

rohana mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
rohana mengatakan...

ROHANA FITRIA/08410160

Masa dinasti abbasiyyah merupakan masa kemajuan islam dalam segala bidang termasuk bidang pendidikan. Puncak kejayaan dinasti ini saat berada di bawah kepemimpinan Harun arrosyid dan al-makmun.Saat itu kota baghdad menjadi pusat pemerintahan dan juga menjadi pusat peradaban dunia dalam segala bidang kehidupan.
Tingkat kemakmuran kehidupan rakyatnya sangat terjamin ketika di bawah kepemimpinan harun ar-rosyid. Perekonomian saat itu mengalami peningkatan yang sangat tajam karena saat itu kota baghdad menjadi kota perdagangan pusat dunia. Demikian halnya dengan sistem politik pemerintahan berjalan sebagaimana mestinya tanpa adanya konflik internal yang terjadi di kalangan birokrat kerajaan. Sedangkan dunia pendidikan mengalami perhatian yang sangat serius dari pemerintah ketika dibawah kepemimpinan al-makmun dengan dibangunnya baitul hikmah sebagai pusat penerjemahan buku-buku asing dalam bahasa arab dan juga pusat pengkajian ilmu pengetahuan.Berbeda dengan kondisi negara kita yang mengalami keterpurukan di segala bidang, hal ini disebabkan karena ketidakseriusan pemerintah dalam memajukan kehidupan negara kita. Kepentingan pribadi lebih diutamakan daripada kepentingan bersama sehingga menyebabkan persoalan-persoalan dalam segala bidang menjadi terabaikan dan tidak terselesaikan. Perekonomian negara kita sudah lama terpuruk sejak tahun 99 dengan adanya krisis moneter ditambah juga dengan perebutan kekuasaan oleh kalangan tertentu dan melibatkan dunia pendidikan semakin menjadi permasalahan yang tidak terselesaikan.

www.rinaldi.com mengatakan...

AFRINALDI/ PAI-F/ 08410261

Bani Abbassiyah adalah dinasti kedua dalam sejarah Islam, setelah Bani Umayyah. Bani Abbasiyah didirikan oleh Abdullah al-Saffah ibn Muhammad ibn Ali ibn Abdullah ibn al-Abbas Rahimahullah. Kekuasaannya berlangsung dalam rentang waktu yang panjang, dari tahun 132 H (750 M) s/d. 656 H (1258 M).
Kemajuan Ekonomi:
Era Abbasiyah adalah di anggap sebagai zaman yang paling kaya dalam sejarah kekhalifahan Islam, ahli-ahli sejarah klasik dan moden bersetuju secara khusus meletakkan zaman pemerintahan Khalifah Harun Al-Rasyid (170 – 194H/786 – 809M) sebagai zaman pencapaian ekonomi yang paling tinggi sehingga layak menerima julukan zaman keemasan (golden period). Prof.Philip K.Hitti menyifatkan kejayaan Abbasiyah dalam soal ini adalah luar biasa kerana ia mampu menaikkan taraf Baghdad dari satu keadaan yang mengagungkan setanding dengan keagungan Bayzantin.
Kemajuan diperoleh oleh Bani Abbassiyah ialah karena mereka benar-benar memperhatikan berbagai sektor, yaitu sector pertanian, perindustrian dan perdagangan. Serta juga pemasukkan Negara dari pajak hasil bumi.
Hal ini yg seharusnya diperhatikan oleh Indonesia, yaitu memajukan semua sector tersebut, agar saling bersinergi. Jangan hanya memgembangkan setengah-setengah. Indonesia adalah Negara maritime dan agraris, tapi pemerintah tidak serius untuk mengembangkan sector tersebut. Kita perlu belajar kepada Abbasiyah. Jangan hanya saja memungut pajak dari rakyat, akan tetapi tidak mau mensejahterhkan rakyat.
Kemajuan Pendidikan:
Kemajuan pendidikan Era Abassiyah ialah mereka benar-benar mengemabangkan keilmuan dan melanjutkan tradisi filasafat, dg menerjemahkan berbagai buku-buku filsafat.

Kita perlu bnyak belajar dari Bani Abbassiyah ini, tidk hanya saja dari kemajuannya, akan tetapi juga dari kemundurannya. Kelemahan dari berbagai sector, serta korupsi, telah membuat peradaban besar seperti Abbassiyah jatuh. Hal ini juga perlu kita lihat di Indonesia, yaitu kelemahan di berbagai sector; ekonomi, militer (angkatan laut), korupsi yg meraja lela. Hal ini kalau tidak kita benahi dari sekarang, maka bukan tidak mungkin, apa yg terjadi kepada Bani Abbassiyah, juga akan berlaku pd Indonesia.

Djangkaru Bumi mengatakan...

Salam kenal.