Daily Calendar

Jumat, Mei 02, 2008

MAKALAH AZWAR MUTTAQIN

SILABUS SEJARAH KEBUDAYAAN ISLAM (SKI)
(MAN LAB. FAKULTAS TARBIYAH UIN SUNAN KALAJAGA YOGYAKARTA)
BAB I
PENDAHULUAN
Di dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan dijelaskan: (1) Sekolah/Madrasah dan komite sekolah/madrasah, mengembangkan kurikulum tingkat satuan pendidikan dan silabusnya berdasarkan kerangka dasar kurikulum dan standar kompetensi lulusan di bawah supervisi Dinas Kabupaten/Kota yang bertanggung jawab terhadap pendidikan untuk SD, SMP, SMA, dan SMK, serta departemen yang menangani urusan pemerintahan di bidang agama untuk MI, MTs, MA, dan MAK (Pasal 17 ayat 2). (2) Perencanaan proses pembelajaran meliputi silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang memuat sekurang-kurangnya tujuan pembelajaran, materi ajar, metode pembelajaran, sumber belajar, dan penilaian hasil belajar (Pasal 20).
Berdasarkan ketentuan di atas, daerah atau sekolah/madrasah memiliki ruang gerak yang luas untuk melakukan modifikasi dan mengembangkan variasi-variasi penyelnggaraan pendidikan sesuai dengan keadaan, potensi, dan kebutuhan daerah, serta kondisi siswa. Silabus dan RPP merupakan kurikulum yang secara langsung akan digunakan untuk memberikan perlakuan terhadap kelompok belajar peserta didik tertentu dan dalam kondisi tertentu. Karena itu silabus dan RPP bersifat fleksibel, disesuaikan dengan peserta didik, dibutuhkan rekaman hasil pelaksanaan, serta dibutuhkan follow up atau tindak lanjut untuk dilakukan perbaikan/penyesuaian atau peningkatan secara terus-menerus.
Silabus dan RPP merupakan wujud rencana profesional yang disusun dan dikembangkan para guru. Mengembangkan dan menyusun silabus merupakan tugas dan tanggung jawab profesioanal setiap guru mata pelajaran. Silabus dan RPP yang baik akan dapat diimplementasikan secara tepat dan dapat meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran secara terus-menerus. Karena itu setiap guru dituntut memiliki kemampuan untuk mengembangkan silabus setiap mata pelajaran yang diampunya sesuai kondisi sekolah/madrasah mereka masing-masing. [1]
BAB II
PENGEMBANGAN SILABUS[2]

A. Pengertian Silabus
Silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu dan/atau kelompok mata pelajaran/tema tertentu yang mencakup standar kompetensi, kompetensi dasar, materi pokok/pembelajaran, kegiatan pemebelajaran, indikator, penilaian, alokasi waktu, dan sumber/bahan/alat belajar. Silabus merupakan penjabaran standar kompetensi dan kompetensi dasar ke dalam materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian. Silabus ini diperlukan sebagai pertanggungjawaban profesional pendidik terhadap lembaga, sejawat, perserta didik, dan masyarakat.
Pengembangan silabus pada dasarnya merupakan upaya melakukan analisis kompetensi ke dalam kompetensi dasar dan indikator-indikator, analisis materi ke dalam scope (ruang lingkup) dan squence (urutan) materi, analisis proses belajar ke dalam jenis dan bentuk kegiatan belajar mengajar, dan analisis penilaian ke dalam jenis dan alat-alat penilaian, yang semuanya itu bermuara pada pencapaian standar kompetensi dan kompetensi dasar. untuk memperjelas masalah tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:

Silabus disusun berdasarkan Standar Isi, yang di dalamnya berisikan Identitas Mata Pelajaran, Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD), Materi Pokok/Pembelajaran, Kegiatan Pembelajaran, Indikator, Penilaian, Alokasi Waktu, dan Sumber Belajar. Dengan demikian, silabus pada dasarnya menajawab pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut:
1) Kompetensi apa saja yang harus dikuasai peserta didik sesuai dengan yang dirumuskan oleh Standar Isi (SK dan KD).
2) Materi pembelajaran apa saja yang perlu dibahas dan dipelajari peserta didik sehingga peserta didik dapat menguasai dan mencapai setiap karakteristik materi yang dirumuskan dalam Standar Isi (SK dan KD).
3) Kegiatan apa saja yang seharusnya disekenariokan oleh guru untuk belajar peserta didik, sehingga peserta didik mampu berinteraksi dengan sumber-sumber belajar dalam mencapai standar isi.
4) Indikator apa saja yang harus dirumuskan sebagai penanda/tanda/ciri-ciri untuk mengetahui dan mengukur ketercapaian KD dan SK yang diterapkan.
5) Bagaimanakah cara yang tepat atau alat ukur apa yang paling tepat untuk mengetahui ketercapaian kompetensi berdasarkan indikator sebagai acuan dalam menentukan jenis, bentuk, dan alat pada setiap aspek yang akan dinilai.
6) Berapa lama waktu yang diperlukan untuk mencapai SK-KD-INDIKATOR Standar Isi tertentu sesuai waktu efektif yang ada.
7) Sumber belajar apa saja yang dapat diberdayakan untuk mencapai SK-KD-INDIKATOR Standar Isi tertentu.

B. Prinsip Pengembangan Silabus
Berikut ini merupakan prinsip-prinsip yang harus diperhatikan dalm pengembangan silabus:
1) Ilmiah, yakni keseluruhan materi dan kegiatan yang menjadi muatan dalam silabus harus benar dan dapat dipertanggungjawabkan secara keilmuan.
2) Relevan, yakni cakupan, kedalaman, tingkat kesukaran, dan urutan penyajian silabus sesuai dengan tingkat pengembangan fisik, intelektual, sosial, emosional, dan spiritual peserta didik.
3) Sistematis, yakni komponen-komponen silabus saling berhubungan secara fungsional dalam mencapai kompetensi.
4) Konsisten, yakni adanya hubungan yang konsisten antara kompetensi dasar, indikator, materi pokok, pengalaman belajar, sumber belajar, dan sistem penilaian.
5) Memadai, yakni cakupan indikator, materi pokok, pengalaman belajar, sumber belajar, dan sistem penilaian cukup untuk menunjang pencapaian kompetensi dasar.
6) Aktual dan kontekstual, yakni cakupan indikator, materi pokok, pengalaman belajar, sumber belajar, dan sistem penilaian memperhatikan perkembangan ilmu, teknologi, dan seni mutakhir dalam kehidupan nyata, dan peristiwa yang terjadi.
7) Fleksibel, yakni keseluruhan komponen silabus dapat mengakomodasi keragaman peserta didik, pendidik, serta dinamika perubahan yang terjadi di sekolah dan tuntutan masyarakat.
8) Menyeluruh, yakni komponen silabus mencapai keseluruhan ranah kompetensi (kognitif, afektif, dan psikomotorik).

C. Pengembang Silabus
Pengembangan silabus dapat dilakukan oleh para guru secara mandiri atau berkelompok dalam sebuah madrasah atau beberapa madrasah melalui kelompok Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) atau Pusat Kegiatan Guru (PKG).
1) Disusun secara mandiri oleh guru sejauh guru yang bersangkutan mampu mengenali karakteristik peserta didik, kondisi madrasah, dan lingkungannya.
2) Apabila guru mata pelajaran karena sesuatu hal belum dapat melaksanakan pengembangan silabus secara madiri, maka pihak madrasah dapat mengusahakan untuk membentuk kelompok guru mata pelajaran untuk mengembangkan silabus yang akan digunakan oleh madrasah tersebut.
3) Sekolah yang belum mampu mengembangkan silabus secara mandiri, sebaiknya bergabung dengan madrasah/sekolah lain melalui forum MGMP/PKG untuk bersama-sama mengembangkan silabus yang akan digunakan oleh madrasah/sekolah dalam lingkup MGMP/PKG setempat.
4) Mapendais atau Dinas Pendidikan setempat dapat menfasilitasi penyusunan silabus dengan membetuk sebuah tim yang terdiri dari para guru berpengalaman di bidangnya masing-masing.

D. Komponen Dan Langkah-Langkah Pengembangan Silabus
a) Komponen silabus
Silabus memuat sekurang-kurangnya komponen-komponen berikut ini.
(1) Identitas Silabus (6) Indikator
(2) Standar Kompetensi (7) Penilaian
(3) Kompetensi Dasar (8) Alokasi Waktu
(4) Materi Pokok/Pembelajaran (9) Sumber Belajar
(5) Kegiatan Pembelajaran
Komponen-komponen silabus di atas, selanjutnya dapat disajikan dalam contoh format silabus secara horizontal atau vertikal sebagai berikut.

Format: Vertikal
SILABUS
Sekolah/Madrasah : ................................................................
Mata Pelajaran : ................................................................
Kelas : ................................................................
Semester : ................................................................
Kode (jika diperlukan) : ................................................................

1. Standar Kompetensi : ................................................................
2. Kompetensi Dasar : ................................................................
3. Materi Pokok/Pembelajaran : ................................................................
4. Kegiatan Pembelajaran : ................................................................
5. Indikator : ................................................................
6. Penilaian : ................................................................
7. Alokasi Waktu : ................................................................
8. Sumber Belajar : ................................................................

b) Langkah-langkah penulisan silabus
1. Mengisi identitas Silabus
Identitas terdiri dari nama sekolah/madrasah, kelas, mata pelajaran, dan semester. Dapat ditambah kode SK-MP.KLS-SMT. KD ke..... Identitas silabus ditulis di atas matriks silabus.
Contoh:
SILABUS
Sekolah/Madrasah : SMP/MTs............................
Mata Pelajaran : Pendidikan Agama Islam
Kelas : VII (tujuh)
Semester : I (satu)
Kode (jika diperlukan) : SK-QH.VII-1.KD.1-3
Standar Kompetensi : 1. Menerapkan hukum bacaan “AL” Syamsiyah dan
“AL” Qomariyah

2. Menuliskan Standar Kompetensi
Standar kompetensi adalah kualifikasi kemampuan peserta didik yang menggambarkan penguasaan pengetahuan, sikap, keterampilan, dan nilai yang diharapkan dicapai pada mata pelajaran tertentu. Standar Kompetensi diambil dari Standar Isi (SK dan KD) Mata Pelajaran.
Sebelum menuliskan Standar Kompetensi, penyusun terlebih dahulu mengkaji Standar Isi mata pelajaran dengan memperhatikan hal-hal berikut:
(a) Urutan berdasarkan hierarki konsep disiplin ilmu dan/atau SK dan KD;
(b) Keterkaitan antar-Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar dalam mata pelajaran;
(c) Keterkaitan Standar Kompetensi dan kompetensi dasar antarmata pelajaran.
3. Menuliskan Kompetensi Dasar
Kompetensi dasar merupakan sejumlah kemampuan minimal yang harus dimiliki peserta didik dalam rangka menguasai Standar Kompetensi mata pelajaran tertentu. Kompetensi dasar dipilih dari yang tercantum dari Standar Isi.
Sebelum menentukan atau memilih Kompetensi Dasar, penyusun terlebih dahulu mengkaji Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar mata pelajaran dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
a) Urutan berdasarkan hierarki konsep disiplin ilmu dan/atau tingkat kesulitas Kompetensi Dasar;
b) Katerkaitan antar-Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar dalam mata pelajaran; dan
c) Keterkaitan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar antarmata pelajaran.
4. Merumuskan Indikator
Indikator merupakan tanda-tanda atau ciri-ciri yang menggambarkan pencapaian Kompetensi Dasar yang ditandai oleh perubahan perilaku yang dapat diukur, diobservasi, yang mencakup aspek sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Indikator dan Kompetensin Dasar merupakan tanda-tanda kemampuan peserta didik untuk pencapaian kompetensi yang merupakan kemampuan bersikap, berfikir, dan bertindak secara konsisten.
Setiap KD dikembangkan menjadi beberapa indikator (lebih dari dua) dengan menggunakan kata kerja operasional yang dapat diukur dan/atau diobservasi. Tingkat kata kerja dalam indikator lebih rendah atau setara dengan kata kerja dalam KD maupun SK. Prinsip pengembangan indikator adalah Urgensi, Kontinuitas, Relevansi, dan Kontekstual. Indikator yang terumuskan dalam silabus menjadi standar acuan untuk mengembangkan instrumen penilaian. Oleh karena itu, di dalam penentuan indiaktor diperlukan kriteria-kriteria berikut:
a) Sesuai dengan tingkat berfikir siswa.
b) Mengacu pada pencapaian Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar.
c) Mengidentifikasi dan merumuskan indikator pencapaian hasil belajar pada aspek-aspek tingkatan afektif, kognitif, dan psikomotor yang lebih tinggi sehingga siswa mampu berfikir tingkat tinggi, memiliki sikap/karakter dengan nilai kuat, serta mampu melakukan kreativitas dan orisinalitas.
d) Mengelaborasi karakteristik materi pembelajaran yang relevan.
e) Menggunakan kata kerja operasoanal yang dapat diukur/dapat dikuantifikasikan/dapat diamati.
5. Mengidentifikasi Materi Pokok/Pembelajaran
Materi pelajaran merupakan subtansi isi yang harus dipelajari dan dikuasai peserta didik dalam proses pembelajaran. Substansi isi materi dapat berupa fakta, prinsip dalil, hukum, kaidah, prosedur, keterampilan, sikap, dan nilai. Substansi isi materi yang terstandar dalam indiakator untuk mencapai kompetensi dasar harus dirimuskan dalam kolom silabus materi pokok/pembelajaran.
Dalam mengidentifikasi materi pembelajaran harus mempertimbangkan:
a) Relevansi materi pokok dengan indikator, KD-SK;
b) Tingkat perkembangan fisik, intelektual, emosional, sosial, dan spiritual peserta didik;
c) Kebermanfaatan bagi peserta didik;
d) Struktur keilmuan;
e) Kedalaman dan keluasan materi;
f) Relevansi dengan kebutuhan peserta didik dan tuntutan lingkungan; dan
g) Alokasi waktu
Selain itu harus mempertimbangkan kesahihan (validity), tingkat kepentingan (significance), kebermanfaatan (utility), kelayakan untuk dipelajari (learnability), dan menarik minat (interest ).
6. Mengembangkan Kegiatan Pembelajaran
Kriteria dalam mengembangkan kegiatan pembelajaran sebagai berikut:
a) Kegiatan pembelajaran disusun bertujuan untuk memberikan bantuan kepada para pendidik, khususnya guru, agar mereka dapat bekerja dan melaksanakan proses pembalajaran secara profesioanal sesuai dengan tuntutan kurikulum.
b) Kegiatan pembelajaran disusun berdasarkan atas satu tuntutan kompetensi dasar secara utuh.
c) Kegiatan pembelajaran memuat rangkaian kegiatan yang harus dilakukan oleh siswa secara berurutan untuk mencapai kompetensi dasar.
d) Kegiatan pembelajaran berpusat pada siswa. Guru harus selalu berfikir kegiatan apa yang bisa dilakukan agar siswa memiliki kompetensi yang telah ditetapkan.
e) Meteri kegiatan pembelajaran dapat berupa pengetahuan, sikap, dan keterampilan.
f) Perumusan kegiatan pembelajaran harus jelas memuat materi yang harus dikuasai untuk mencapai Kompetensi Dasar.
g) Penentuan urutan langkah pembelajaran sangat penting artinya bagi KD-KD yang memerlukan prasyarat tertentu.
h) Pembelajaran bersifat spiral (terjadi pengulangan-pengulangan materi pembelajaran tertentu).
i) Rumusan pernyataan dalam Kegiatan Pembelajaran minimal mengandung dua unsur pembelajaran siswa, yaitu kegiatan dan objek belajar.
Pemilihan kegiatan pembelajaran mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut:
a) Memberikan peluang bagi siswa untuk mencari, mengolah, dan menemukan sendiri pengetahuan di bawah bimbingan guru;
b) Mencerminkan ciri khas dalam pengembangan kemampuan mata pelajaran;
c) Disesuaikan dengan kamampuan siswa, sumber belajar, dan sarana yang tersedia;
d) Bervariasi dengan mengombinasikan kegiatan individu/perorangan, berpasangan, kelompok, dan kalasikal; dan
e) Memeperhatikan pelayanan terhadap perbedaan individual siswa seperti: bakat, minat, kemampuan, latar belakang keluarga, sosial-ekonomi, dan budaya, serta masalah khusus yang dihadapi siswa yang bersangkutan.
7. Penilaian
Penilaian merupakan serangkaian kegiatan untuk memperoleh, menganalisis dan menafsirkan proses dan hasil belajar siswa yang dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan sehingga menjadi informasi yang bermakna dalam pengambilan keputusan untuk menentukan tingkat keberhasilan pencapaian kompetensi yang telah ditentukan.
a) Teknik penilaian
Dalam melaksanakan penilaian, penyusun silabus perlu memperhatikan prinsip-prinsip berikut ini:
1) Pemilihan jenis penilaian harus disertai dengan aspek-aspek yang akan denilai sehingga memudahkan dalam penyusunan soal.
2) Penilaian diarahkan untuk mengukur pencapaian indikator.
3) Penilaian menggunakan acuan kriteria, yaitu berdasarkan apa yang bisa dilakukan siswa setelah mengikuti proses pembelajaran, dan bukan untuk menentukan posisi seseorang terhadap kelompoknya.
4) Seitem yang direncanakan adalah sistem penilaian yang berkelanjutan. Artinya, semua indikator ditagih, kemudian hasilnya dianalisis untuk menentukan kompetensi dasar yang telah dimiliki dan yang belum, serta untuk mengetahui kesulitasn siswa.
5) Hasil penilaian dianalisis untuk menentukan tindakan perbaikan, berupa program remedi. Apabila siswa belum menguasai suatu kompetensi dasar, ia harus mengikuti proses pembelajaran lagi, dan bila telah menguasai kompetensi dasar, ia harus diberi tugas pengayaan.
6) Siswa yang telah menguasai semua atau hampir semua kompetensi dasar dapat diberi tugas untuk mempelajari kompetensi dasar berikutnya.
7) Dalam sistem penilaian berkelanjutan, guru harus membuat kisi-kisi penilaian dan rancangan penilaian secara menyeluruh untuk satu semester dengan menggunakan teknik penilaian yang tepat.
8) Penilaian dilakukan untuk menyeimbangkan berbagai aspek pembelajaran: afektif, kognitif, dan psikomotor dengan menggunakan berbagai model penilaian, baik formal maupun nonformal secara berkesinambungan.
9) Penilaian merupakan suatu proses pengumpulan dan penggunaan informasi tentang hasil belajar siswa dengan menerapkan prinsip berkelanjutan, bukti-bukti autentik, akuarat, dan konsisten sebagai akuntabilitas publik.
10) Penilaian merupakan proses identifikasi pencapaian kompetensi dan hasil belajar yang dikemukakan melalui pernyataan yang jelas tentang standar yang harus dan telah dicapai disertai dengan peta kemajuan hasil belajar siswa.
11) Penilaian berorientasi pada Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar dan Indikator.
12) Penilaian dilakukan secara berkelanjutan guna mendapatkan gambaran yang utuh mengenai perkembangan penguasaan kompetensi siswa, baik sebagai efek langsung maupun efek pengiring dari proses pembelajaran.
13) Sistem penilaian harus disesuaiakan dengan kegiatan pembelajaran yang ditempuh dalam proses pembelajaran.
b) Bentuk penilaian
Bentuk instrumen yang dipilih harus sesuai dengan teknik penilaiannya. Oleh karene itu, bentuk instrumen yang dikembangkan dapat berupa: tes tulis, tes lisan, tes unjuk kerja (praktek), penugasan, observasi, wawancara, portofolio, dan penilaian diri dengan menggunakan lembar penilaian diri. Sesudah penentuan instrumen tes telah dipandang tepat, selanjutnya tes itu dituliskan di dalam kolom matrik silabus yang tersedia.

Tabel, Ragam Teknik Penilaian Beserta Ragam Bentuk Instrumennya
Teknik
Bentuk Instrumen
- Tes tulis
· Tes isian
· Tes uraian
· Tes pilihan ganda
· Tes menjodohkan
· Dan lain-lain
- Tes Lisan
· Daftar pertanyaan
- Tes Unjuk Kerja
· Tes identifiasi
· Tes simulasi
· Tes petik kerja produk
· Tes petik kerja prosedur
· Uji petik kerja prosedur dan produk
- Penugasan
· Tugas proyek
· Tugas penelitian
· Tugas runah
- Observasi
· Lembar observasi
- Wawancara
· Pedoman wawancara
- Portofolio
· Dokumen pekerjaan, karya, dan/atau prestasi siswa
- Penilaian diri
· Lembar penilaian diri

8. Menetukan Alokasi Waktu
Alokasi waktu adalah jumlah waktu yang dibutuhkan untuk ketercapaian suatu Kompetensi Dasar tertentu, dengan memperhatikan:
a) Minggu efektif persemester,
b) Alokasi waktu mata pelajaran, dan
c) Jumlah standar kompetensi-kompetensi dasar persemester,
d) Membagi alokasi waktu perjunlah SK-KD dengan memperhatikan tingkat kerumitan dan keluasan materi
9. Menentukan Sumber Belajar
Sumber belajar merupakan segala sesuatu yang diperlukan dalam kegiatan pembelajaran, yang dapat berupa: buku teks, media cetak, media elektronika, nara sumber, lingkungan alam sekitar, dan sebagianya. Menentukan sember belajar dapat berupa: sumber belajar, bahan, alat atau media yang sengaja dirancang untuk digunakan dan difungsikan mencapai indikator-KD dan SK dalam pembelajaran atau dapat memanfaatkan segala sumber yang dapat digunakan dan difungsikan untuk meningkatkan kualitas pencapaian peserta didik.

BAB III
MATA PELAJARAN
SEJARAH KEBUDAYAAN ISLAM (SKI) DI MADRASAH ALIYAH[3]

Sejarah Kebudayaan Islam di Madrasah Aliyah merupakan mata pelajaran yang menelaah tentang asal-usul, perkembangan, peranan kebudayaan/peradaban Islam di masa lampau, mulai dari dakwah Nabi Muhammad pada periode Makkah dan Madinah, kepemimpinan umat setelah Rasulullah SAW wafat, sampai perkembangan Islam periode klasik (pada zaman keemasan) pada tahun 650-1250 M, abad pertengahan atau zaman kemunduran (1250-1800 M), dan masa modern/zaman kebangkitan (1800 M- sekarang), serta pekembangan Islam di Indonesia dan di dunia. Secara substansial mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam memiliki kontribusi dalam memberikan motivasi kepada peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati sejarah kebudayaan Islam, yang mengandung nilai-nilai kearifan yang dapat digunakan untuk melatih kecerdasan, membentuk sikap, watak, dan kepribadian peserta didik.
Penyusunan Standar Kompetensi Lulusan (SKL), Standar Kompetensi (SK), dan Kompetensi Dasar (KD) mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam di Madrasah Aliyah ini dilakukan dengan cara mempertimbangkan dan me-review Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 23 Tahun 2006 tentang Stadar Kompetensi Lulusan (SKL) untuk Satuan Penididikan Dasar dan Menengah, terutama pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam aspek Sejarah Kebudayaan Islam untuk SMA/MA, serta memperhatikan Surat Edaran Dirjen Pendidikan Islam Nomor: DJ.II.1/PP.00/ED/681/2006, tanggal 1 Agustus 2006, tentang pelaksanaan Standar Isi, yang intinya bahwa madrasah dapat meningkatkan kompetensi lulusan dan mengembangkan kurikulum dengan standar yang lebih tinggi.


A. Tujuan
Mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam di Madrasah Aliyah bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan-kemapuan sebagai berikut:
1. Membangun kesadaran peserta didik tentang pentingnya mempelajari landasan ajaran, nilai-nilai dan norma-norma Islam yang telah dibangun Rasulullah saw dalam rangka mengembangkan kebudayaan dan peradaban Islam.
2. Membangun kesadaran peserta didik tentang pentingnya waktu dan tempat yang merupakan sebuah proses dari masa lampau, masa kini, dan masa depan.
3. Melatih daya kritis peserta didik untuk memahami fakta sejarah secara benar dengan didasarkan pada pendekatan ilmiah.
4. Menumbuhkan apresiasi dan penghargaan peserta didik terhadap peninggalan sejarah Islam sebagai bukti peradaban Islam di masa lampau.
5. Mengembangkan kemampuan peserta didik dalam mengambil ibrah dari peristiwa-peristiwa bersejarah (Islam), meneladani tokoh-tokoh berprestasi, dan mengaitkannya dengan fenomena sosial, budaya, politik, ekonomi, iptek dan lain-lain untuk mengembangkan kebudayaan dan peradaban Islam.

B. Ruang Lingkup
Ruang lingkup Sejarah Kebudayaan Islam di Madrasah Aliyah meliputi:
1. Dakwah Nabi Muhammad pada periode Makkah dan periode Madinah,
2. Kepemimpinan umat setelah Rasulullah SAW wafat,
3. Perkembangan Islam periode klasik (zaman keemasan) pada tahun 650-1250 M,
4. Perkembangan Islam pada abad pertengahan/zaman kemunduran (1250-1800 M),
5. Perkembangan Islam pada masa modern/zaman kebangkitan (1800 M -sekarang),
6. Pekembangan Islam di Indonesia dan di dunia

C. Standar Kompetensi Lulusan Mata Pelajaran (SKL-MP)
1. Memahami dan mengambil ibrah sejarah dakwah Nabi Muhammad pada periode Makkah dan periode Madinah, masalah kepemimpinan umat setelah Rasulullah SAW wafat, perkembangan Islam periode klasik/ zaman keemasan (650-1250 M), abad pertengahan/zaman kemunduran (1250-1800 M), masa modern/zaman kebangkitan (1800 M -sekarang), serta pekembangan Islam di Indonesia dan di dunia.
2. Mengapresiasi fakta dan makna peristiwa-peristiwa bersejarah, dan mengkaitkannya dengan fenomena kehidupan sosial, budaya, politik, ekonomi dan iptek.
3. Meneladani tokoh-tokoh yang berprestasi dalam perkembangan sejarah kebudayaan/peradaban Islam.
D. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar
Kelas/
semester
Standar Kompetensi
Kompetensi Dasar

XII / 1
1. Memahami keteladanan dakwah Rasulullah dalam membina umat
1.1 Menceritakan sejarah dakwah Rasulullah saw pada periode Makkah dan Madinah
1.2 Mendeskripsikan substansi dan strategi dakwah Rasulullah saw pada periode Makkah dan Madinah
1.3 Mengidentifikasi hasil perjuangan Rasulullah SAW dalam dakwah Islam pada periode Makkah dan Madinah
1.4 Mengambil ibrah dari perjuangan Rasulullah SAW dalam dakwah Islam pada periode Makkah dan Madinah untuk kepentingan masa kini dan yang akan datang
2. Memahami masalah kepemimpinan umat Islam pasca Nabi wafat
2.1 Menceritakan proses dan model pemilihan kepemimpinan pada masa Khulafaur Rasyidin
2.2 Mendeskripsikan strategi kepemimpinan Khulafaur Rasyidin
2.3 Mengambil ibrah dari kepemimpinan Khulafaur Rasyidin untuk kepentingan masa kini dan yang akan datang
3. Memahami perkembangan Islam periode klasik (zaman keemasan) pada tahun 650-1250 M
3.1 Menjelaskan perkembangan Islam pada periode klasik
3.2 Mengidentifikasi peristiwa-peristiwa penting dan tokoh-tokoh yang berprestasi dalam perkembangan Islam pada periode klasik
3.3 Mengambil ibrah dari perkembangan Islam pada periode klasik untuk kepentingan masa kini dan yang akan datang
3.4 Meneladani tokoh-tokoh yang berprestasi dalam perkembangan Islam pada periode klasik
4. Memahami perkembangan Islam pada periode pertengahan/zaman kemunduran (1250-1800 M)
4.1 Menjelaskan perkembangan Islam pada abad pertengahan
4.2 Menceritakan sebab-sebab kemunduran Islam pada abad pertengahan
4.3 Mengambil ibrah dari peristiwa perkembangan Islam pada abad pertengahan untuk kepentingan masa kini dan yang akan datang

XII / 2
5. Memahami perkembangan Islam pada masa modern/zaman kebangkitan
(1800 M-sekarang

5.1 Menjelaskan perkembangan Islam pada masa modern
5.2 Mengidentifikasi peristiwa-peristiwa penting dan tokoh-tokoh yang berprestasi dalam perkembangan Islam pada masa modern
5.3 Mengambil ibrah dari peristiwa perkembangan Islam pada pada masa modern
6. Memahami perkembangan Islam di Indonaesia
6.1 Menjelaskan perkembangan Islam di Indonaesia
6.2 Mengidentifikasi peristiwa-peristiwa penting dan tokoh-tokoh yang berprestasi dalam perkembangan Islam di Indonaesia
6.3 Mengambil ibrah dari peristiwa perkembangan Islam di Indonesia
6.4 Meneladani tokoh-tokoh yang berprestasi dalam perkembangan Islam di Indonaesia
7. Memahami perkembangan Islam di dunia
7.1 Menjelaskan perkembangan Islam di dunia
7.2 Mengidentifikasi peristiwa-peristiwa penting dan tokoh-tokoh yang berprestasi dalam perkembangan Islam di dunia
7.3 Mengambil ibrah dari peristiwa perkembangan Islam di dunia
7.4 Meneladani tokoh-tokoh yang berprestasi dalam perkembangan Islam di dunia


BAB IV
SILABUS SKI MADRASAH ALIYAH NEGERI LAB
FAKULTAS TARBIYAH UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA[4]

Silabus yang digunakan untuk pembelajaran SKI di MAN Lab pada dasarnya bersumber dari pemerintah pusat. Dengan kata lain, sekolah ini tidak mengembangkan silabusnya secara mandiri, melainkan menggunakan silabus SKI yang diperoleh dari Pemerintah. Soalnya hanya karena silabus yang dibuat oleh pemerintah sesuai dengan konteks sekolah, atau setidaknya mudah untuk digunakan sebagai acuan dalam pembelajarannnya. Walaupun demikian, guru-guru mata pelajaran Pendidikan Agama Islam MAN Lab - dalam tiap bulannya - mengikuti kegiatan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) di MAN 3 untuk membahas persoalan-persoalan yang dihadapi dalam kegiatan pembelajaran, menurut mata pelajarannya masing-masing. Misalnya, guru mata pelajaran SKI, berkumpul dengan guru mata pelajaran SKI lainnya yang berasal dari berbagai Madrasah Aliyah se-Yogyakarta untuk membahas permasalahan yang dihadapi sekolahnya, mengenai kurangnya sarana-prasana, sulitnya pencapaian SK-KD-Indikatoar, ataupun mengenai bagaimana mengembangkan silabus supaya lebih efektif dan efisien.
Kegiatan MGMP ini, berada dalam wilayah praktis saja, yakni bagaimana agar kegiatan pembelajaran dapat dilaksanakan sesuai dengan silabus yang telah dibuat, dengan mempertimbangkan keadaan sekolahnya masning-masing. Sehingga pengembangan silabus yang dilakukan di MAN Lab, seperti halnya Madrasah Aliyah lainnya, tidak dalam bentuk format silabusnya, melainkan dalam bentuk penerapannya di lapangan, walaupun nantinya antara silabus yang dijadikan rujukan pembelajaran SKI berbeda dengan kegiatan pembelajarannya di lapangan.
Adapun komponen-komponen silabus SKI yang dibuat oleh pemerintah pusat, yaitu: (1) Identitas Silabus, (2) Standar Kompetensi, (3) Kompetensi Dasar, (4) Materi Pembelajaran, (5) Kegiatan Pembelajaran, (6) Indikator, (7) Penilaian, (8) Alokasi Waktu, dan (9) Sumber Belajar. Komponen-komponen ini merupakan silabus yang digunakan di MAN Lab. Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

BAB V
PENUTUP

Bedasarkan silabus yang dibuat oleh Pemerintah Pusat, dapat kita simpulkan bahwa pembelajaran SKI yang diajarkan di madrasah-madrasah, khususnya Madrasah Aliyah, alokasi waktunya hanya 2X45 menit (satu jam tiga puluh menit) setiap minggunya. Waktu pembelajarannya yang singkat - sedangkan materinya yang banyak – menjadi persoalan bagi setiap guru yang mengajarkan mata pelajaran ini. Seperti halnya yang terjadi di MAN Lab yang kami teliti. Ada banyak kemungkinan yang dilakukan oleh para guru apabila waktunya tidak mencukupi, mereka terkadang memberikan tugas rumah – yang seharusnya dijelaskan oleh guru itu sendiri - , dan ada yang memberikan tugas kepada siswanya – ketika pada jam pelajarannya – agar masing-masing mereka membaca buku di perpustakaan. Hal ini merupakan salah satu strategi yang dilakukan guru dalam kegiatan pembelajarannya, yang terkadang tidak sesuai dengan silabus atau Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang sudah disusun. Akan tetapi apakah strategi ini relevan jika digunakan dalam pembelajaran SKI - jika kita mempertimbangkan SK, KD, dan Indikator yang sudah dibuat - , lebih-lebih motivasi siswa dalam belajar berbeda-beda.
Adapun mengenai silabus SKI di MAN Lab yang kami teliti, penerapannya disesuaikan dengan kondisi sekolahnya. Semisal dalam penggunaan sumber belajar dan media pembelajaran, sekolah hanya menggunakan buku-buku tertentu saja seperti buku paket SKI, sedangkan penggunaan medianya disesuaiakan dengan kelengkapan sekolah. Dalam kegiatan pembelajaran, walaupun menggunakan silabus yang dibuat oleh pemerintah pusat, pelaksanaannya juga disesuaikan dengan kondisi siswa, sekolah, dan lingkungannya.
Pada tahun ajaran yang lalu, mata pelajaran SKI hanya diberikan pada siswa kelas XII dan hanya pada semester ganjil, sedangkan pada semester genap mata pelajaran SKI dan mata pelajaran PAI lainnya tidak diajarkan. Karena siswa disiapkan untuk menghadapi Ujian Nasional (UN). Dan untuk tahun ini, sebagai usaha perbaikan dan mengadakan pembelajaran yang efektif, SKI sudah diajarkan di kelas XI dan XII.

DAFTAR PUSTAKA

Direktorat Pendidikan Madrasah, Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, Departemen Agama Islam. 2007. Standar Kompetensi Lulusan (SKL), Standar Kompetensi (SK), dan Kompetensi Dasar (KD), Serta Model Pengembangan Silabus Madrasah Aliyah (Mata Pelajaran Serjarah Kebudayaan Islam)
Darajat, Zakiah, dkk. 2004. Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam. Jakarta: Bumi Aksara
Muhaimin, dkk. 2008. Pengembangan Model Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Pada Sekolah dan Madrasah. Jakarta: Rajawali Pers. hal. 111-112

[1] Muhaimin, M.A. dkk. 2008. Pengembangan Model Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Pada Sekolah dan Madrasah. Jakarta: Rajawali Pers. hal. 111-112
[2] Ibid. hal. 112-135

[3] Standar Kompetensi Lulusan (SKL), Standar Kompetensi (SK), dan Kompetensi Dasar (KD), Serta Model Pengembangan Silabus Madrasah Aliyah (Mata Pelajaran Serjarah Kebudayaan Islam) Dikeluarkan oleh: Direktorat Pendidikan Madrasah, Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, Departemen Agama Islam 2007
[4] Hasil wawancara dengan guru Sejarah Kebudayaan Islam Madrasah Aliyah Negeri Lab. Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

17 komentar:

ABAS mengatakan...

dalam makalah mas azhar saya melihat hanya bersifat deskripsi tentang bagaimana guru menjalankan silabus tersebut, belum kepada analisis tentang bagaimana dampak dari silabus tersebut terhadap pembelajaran? padahal yang paling penting dari silabus adalah mampu meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran secara terus-menerus. menurut mas azhar, bagaimana peranan silabus disekolah tersebut dalam meningkatkan kualitas dan hasil pembelajaran dan juga apakah silabus tersebut sudah peka terhadap kondisi sosial sekolah sebab silabus yang digunakan merupakan silabus dari pusat?

agung mengatakan...

nama : Agung Prayoga
nim : 0641092-05
komentar :
dalam makalh saudara azhar mutaqinn sudah bagus, yaitu sudah memuat landasan silabus, pengertian silabus, prinsip pengembangan silabus, pembangan silabus, komponen, dan lanngkah-lanngkah pengembangan silabus, dan analisis silabus yang ada di man lab. namun tidak di tulis contoh format yang ada di sekolah tersebut (MAN LAB UIN SUNAN KALIJAG )

hidup adalah perjuangan mengatakan...

guru selalu mencontoh silabus yang sudah ada, dan seringkali tidak memberikan eksplorasi. apa yang menjadi kendala di sekolah tersebut sehingga sumber daya guru tidak optimal?

by:karuni ayu sawitri (05410110)

ahmadsafii mengatakan...

wah-wah... baru kali ini aku liat makalah yang datanya komplit zar... bagus.. bagus...
tapi alangkah lebih bagus jika kamu kasih analisismu secara "pribadional" (bahasanya aneh) tentang silabus di Madrasah tersebut... jangan cuma nyantumin konsepnya aja... ngomong-ngomong, itu silabi kelas berapa zar?

endah nurjanah mengatakan...

Makalah sdr Azhar kenapa tidak dilampirkan bentuk silabus di sekolah tsb (MAN Labs. Tarbiyah UIN)? Jika dicantumkan, paling tidak saya jadi tahu apakah silabus tersebut sesuai dengan konteks sekarang? menurut saya, sebaiknya mata pelajaran SKI di tingkat Madrasah Aliyah mampu mengembangkan kesadaran sosial dan kesadaran siswa untuk menjunjung nilai-nilai Islam sesuai kultur Islam di masa lalu dan tentu saja nilai2 tsb sesuai dengan konteks nilai yang sedang berkemnbang di lingkungan sekitar. Anak setingkat MA sudah dapat bersikap kritis dan mulai membedakan dan memilih yang baik dan tidak baik. Kemudian, apakah silabus SKI di sekolah tsb sudah sesuai dengan konteks sekarang? selama proses pembelajaran apakah tujuan pembelajaran SKI di MAN lab sudah tercapai? Seperti apa?

machfud mengatakan...

Dari makalah yang ditulis oleh mas azhar sudah cukup sesuai dengan prosedur yanga ada dalam pembutan silabus dan sudah menjelaskan sacara rinci dam mendetail. dari yang saya baca dimakalahnya ini pengembangan silabus merujuk dari silabus pemerintah pusat, padahal MAN LAB seandiri anak cabang dari UIN, apakah tidak lebih baiknya bekerja sama untuk menyusun sialabus tersebut agar menjadi lebih baik.biar MAN LAB maju

RIZKA FITRIA SARI mengatakan...

NAMA : Rizka fitria sari
Komentar :

a.Dalam makalah ini belum menggambarkan bagaimana aktifitas pembelajaran SKI di Ponpes Wahid Hasyom.
b.Bentuk penelitian dari makalah ini, dari penilaian belum cukup menyatakan hasil dari dalam komentar pemakalah.
c.Makalah saudara Khoirul Anwar hanya hanya kelemahannya saja yang dikemukakan.
d.Dalam makalah saudara Azhar Muttaqin hanya menguraikan definisi KTSP, belum menyinggung masalah SKInya, dan tidak menggambarkan bagaimana praktek pembelajaran SKI.
e.Dari ketiga pemakalah belum memberikan kontribusi riil bagi lokasi penelitian.
f.Dari ketiga makalah ini menguraikan secara detail definisi KTSP secara keseluruhan.

fuad ilul mengatakan...

buat bli azhar ni komenatar saya
" masih terlalu banyak teori, analisisnya ga seimbang dengan teorinya
alasan guru tidak mebuat silabi bener kaya gitu ta? berarti gurunya males ya?atau pengennya yang praktis-prakti aja
trus bli azhar tidak mencantumkan analisis silabinya,,,"

by Fuad Nailulhuda (05410144)

SiDo RoNDo mengatakan...

wah ...it's very good
your paper is complete so i'm confused
makalahmu sangat komplit zar..! saya rasa justru dari teori yang banyak itu, malah hasil penelitianmu di lapangan kurang bisa terangkat. lebih baik teorinya sedikit tetapi diperbanyak pada apa yang terjadi di lapangan. itu saja mas azhar
don't be angry...!!! i think enougf, the last i say asalmaualiakum..wr.wb.. writen by sigit bugiarto/05410065

azhar mengatakan...

konsep silabus yang digunakan di MAN lab sebenarnya sudah dicantumkan, mungkin karena format blognya yang tidak mendukung. mengenai anaslisisnya, tidak saya cantumkan, saya kira yang mengalisis seharusnya teman-teman berdasarkan data yang saya uraikan. efektifitas dari penggunaan silabus SKI dari pusat, di samping praktis dalam penggunaannya, juga karena untuk menghemat waktu dan biaya. Madrasah-madrasah lain yang ada di jogja sebagiannya juga melakukan hal yang sama, seperti yang dikatakan oleh guru SKI di sekolah yang kami teliti. dampak bagi sekolah, tidak begitu berarti, walaupun tidak mandiri, akan tetapi kebijakan-kebijakan pemerintah yang berubah-ubahlah yang menyebabkan kesulitan bagi guru dalam pelaksanaannya. kita lihat saja perubahan kurikulum yang terjadi dalam beberapa kurun, yang kepayahan adalah gurunya, karena merekalah yang menjalankannya kalian bisa lihat di lapangan. bagi proses pembelajarannya, saya rasa tidak masalah, karena selain dibantu oleh kegiatan MGMP setiap bulannya, juga karena pelksanaan silabusnya disesuaikan dengan kondisi sekolah, jika tidak bisa dilaksanakan seperti karena media pembelajaran yang tdak lengkap, cukup dengan media yang sdah ada, selama substansi dari pembelajarannya tidak hilang.

QTa mengatakan...

Dari : Zaqqi Qudsi Kurniawan, NIM : 05410098
Dalam makalah Mas Azhar, telah dicantumkan teori pengembangan silabus dan teori aplikasinya. Selain itu, makalah ini juga menelaah apa dan bagaimana seharusnya SKI di MA dan apa saja yang perlu dicapai dengan adanya pembelajaran mata pelajaran ini. Setelah konsep telah diketahui, dengan dasar konsep tersebut ditelaah silabus SKI di MA Lab. UIN Sunan Kalijaga. Yang mana dalam hal ini, MA tersebut masih menggunakan silabus yang dikembangkan pemerintah, walau ada musyawarah guru mata pelajaran. Akan tetapi apakah dengan musyawarah tersebut apa yang menjadi kebutuhan setiap sekolah dan anak didik dapat terjawab dengan baik…?

Zainul Arifin mengatakan...

Busyeet... Makalah anda panjang banget, sampe2 bacanya aja pegel. Tp lumayan dah nyantumin contoh silabus meskipun bukan silabus Madrasah yang anda teliti. Mungkin akan lebih ideal kalo yang tercantum di makalah anda adalah silabus MAN LAB UIN SUNAN KALIJAGA. Lebih keliatan kl anda bener2 meneliti di sana gitu..

Zainul Arifin mengatakan...

Busyeet... Makalah anda panjang banget, sampe2 bacanya aja pegel. Tp lumayan dah nyantumin contoh silabus meskipun bukan silabus Madrasah yang anda teliti. Mungkin akan lebih ideal kalo yang tercantum di makalah anda adalah silabus MAN LAB UIN SUNAN KALIJAGA. Lebih keliatan kl anda bener2 meneliti di sana gitu..

cute mengatakan...

mungkin perlu dijelaskan, kenapa silabus yang menjadi rujukan (dari pemerintah pusat) berbeda dengan kegiatan pembelajaran dilapangan.
setelah materi SKI diajarkan dikelas X1 dan X11, apakah sudah dapat membantu pelaksanaan standar kompetensi lebih baik? karna sebelumnya dikatakan " ada kendala dalam pemberian materi karena waktunya yang singkat." apa dengan telah diadakannya ski untuk kelas X1 dan X11, berkaitan dengan materi yang begitu banyak?.
sukses buat km.
thanks
by: sinta diana sukmawati/PAI 3/VI

naris mengatakan...

nama:narisan
NIM:04410775
uraian makalah saudara azhar lumayan cukup tetapi sepertinya masih ngirit untuk membuat BAB lg, orang aku baca pendahuluan sampai megap2,biar selaras dg uraian bagian yang lainnya, kemudian ttg karakter silabus sekolahan tsbt belum kelihatan tampak krn untuk lbh membedakan dg sekolah lain, yang terahir kenapa anda memilih tema silabus di sekolahan tsbt?

abah mengatakan...

zar makalhmu mungkn sangat panjang sampe gw ngenet lama buat bacanya... tapi yang pastinya bahsa yang loe pake kalo bisa jangan terlalu bangk ngutip dari buku yang orisisnil yo.......

ADEabdurrahman mengatakan...

teori yang dijelaskan cukup membantu dalam memahami dari hasil penelitiannya. akan tetapi kenapa tidak ada anlisis atas data yang diperoleh.
mengenai silabus yang digunakan, yang bersumber dari pusat, hal itu memang cukup efektif dan efisien. tap jika sekolah mampu untuk membuat sebdiri silabusnya, sebaiknya dibuat sendiri, karena akan menambah profesionalitasnya di lapangan itu sendiri.