TUGAS KELOMPOK
Tuliskan hasil diskusi kelompok Anda tentang perbedaan kitab tafsir sesuai dengan kelompok Anda!
Senin, September 15, 2008
KELOMPOK ANNISA'
TUGAS KELOMPOK
Tuliskan hasil diskusi kelompok Anda tentang perbedaan kitab tafsir sesuai dengan kelompok Anda!
Tuliskan hasil diskusi kelompok Anda tentang perbedaan kitab tafsir sesuai dengan kelompok Anda!
KELOMPOK SUNRISE
TUGAS KELOMPOK
Tuliskan hasil diskusi kelompok Anda tentang perbedaan kitab tafsir sesuai dengan kelompok Anda!
Tuliskan hasil diskusi kelompok Anda tentang perbedaan kitab tafsir sesuai dengan kelompok Anda!
KELOMPOK AZ-ZAHRA
TUGAS KELOMPOK
Tuliskan hasil diskusi kelompok Anda tentang perbedaan kitab tafsir sesuai dengan kelompok Anda!
Tuliskan hasil diskusi kelompok Anda tentang perbedaan kitab tafsir sesuai dengan kelompok Anda!
Jumat, September 12, 2008
PEMBAGIAN TUGAS I BIOLOGI
KETENTUAN UMUM
1. Tugas ditulis secara individual, meskipun kitab yang dicari sama
2. Tugas dikirim melalui email dengan alamat masing-masing, tidak dititipkan
3. Baca Surat al-Fatihah, buat ringkasan dan berikan komentar terhadap kitab tersebut terutama komentar terhadap penafsiran Surat al-Fatihah
4. Tugas dikirim maksimal tanggal 18 September 2008 jam 24.00
5. Pembagian Tugas sebagai berikut:
a. Tafsir Jalalain [Nomor Presensi 1 s.d. 5]
b. Tafsir Al-Azhar [Nomor Presensi 6 s.d. 10]
c. Tafsir Al-Manar [Nomor Presensi 11 s.d. 15]
d. Tafsir Al-Thabary [Nomor Presensi 16 s.d. 20]
e. Tafsir Al-Ibriz [Nomor Presensi 21 s.d. 25]
f. Tafsir UII, Tim Universitas Islam Indonesia [Nomor Presensi 26 s.d. 30]
g. Tafsir Ibn Katsir [Nomor Presensi 31 s.d. 34]
h. Tafsir Al-Maraghi [Nomor Presensi [35 s.d. 38]
i. Tafsir The Holy Qur'an Yusuf Ali [Nomor Presensi 39 s.d. 43]
1. Tugas ditulis secara individual, meskipun kitab yang dicari sama
2. Tugas dikirim melalui email dengan alamat masing-masing, tidak dititipkan
3. Baca Surat al-Fatihah, buat ringkasan dan berikan komentar terhadap kitab tersebut terutama komentar terhadap penafsiran Surat al-Fatihah
4. Tugas dikirim maksimal tanggal 18 September 2008 jam 24.00
5. Pembagian Tugas sebagai berikut:
a. Tafsir Jalalain [Nomor Presensi 1 s.d. 5]
b. Tafsir Al-Azhar [Nomor Presensi 6 s.d. 10]
c. Tafsir Al-Manar [Nomor Presensi 11 s.d. 15]
d. Tafsir Al-Thabary [Nomor Presensi 16 s.d. 20]
e. Tafsir Al-Ibriz [Nomor Presensi 21 s.d. 25]
f. Tafsir UII, Tim Universitas Islam Indonesia [Nomor Presensi 26 s.d. 30]
g. Tafsir Ibn Katsir [Nomor Presensi 31 s.d. 34]
h. Tafsir Al-Maraghi [Nomor Presensi [35 s.d. 38]
i. Tafsir The Holy Qur'an Yusuf Ali [Nomor Presensi 39 s.d. 43]
PEMBAGIAN TUGAS I PAI A/B
KETENTUAN UMUM
1. Tugas ditulis secara individual, meskipun kitab yang dicari sama
2. Tugas dikirim melalui email dengan alamat masing-masing, tidak dititipkan
3. Baca Surat al-Fatihah, buat ringkasan dan berikan komentar terhadap kitab tersebut terutama komentar terhadap penafsiran Surat al-Fatihah
4. Tugas dikirim maksimal Kamis, tanggal 18 September 2008 jam 24.00
5. Pembagian Tugas sebagai berikut:
a. Tafsir Jalalain [Nomor Presensi 1 s.d. 5]
b. Tafsir Al-Azhar [Nomor Presensi 6 s.d. 10]
c. Tafsir Al-Manar [Nomor Presensi 11 s.d. 15]
d. Tafsir Al-Thabary [Nomor Presensi 16 s.d. 20]
e. Tafsir Al-Ibriz [Nomor Presensi 21 s.d. 26]
f. Tafsir UII, Tim Universitas Islam Indonesia [Nomor Presensi 27 s.d. 32]
g. Tafsir Ibn Katsir [Nomor Presensi 33 s.d. 38]
h. Tafsir Al-Maraghi [Nomor Presensi [39 s.d. 44]
i. Tafsir The Holy Qur'an Yusuf Ali [Nomor Presensi 45 s.d. 50]
1. Tugas ditulis secara individual, meskipun kitab yang dicari sama
2. Tugas dikirim melalui email dengan alamat masing-masing, tidak dititipkan
3. Baca Surat al-Fatihah, buat ringkasan dan berikan komentar terhadap kitab tersebut terutama komentar terhadap penafsiran Surat al-Fatihah
4. Tugas dikirim maksimal Kamis, tanggal 18 September 2008 jam 24.00
5. Pembagian Tugas sebagai berikut:
a. Tafsir Jalalain [Nomor Presensi 1 s.d. 5]
b. Tafsir Al-Azhar [Nomor Presensi 6 s.d. 10]
c. Tafsir Al-Manar [Nomor Presensi 11 s.d. 15]
d. Tafsir Al-Thabary [Nomor Presensi 16 s.d. 20]
e. Tafsir Al-Ibriz [Nomor Presensi 21 s.d. 26]
f. Tafsir UII, Tim Universitas Islam Indonesia [Nomor Presensi 27 s.d. 32]
g. Tafsir Ibn Katsir [Nomor Presensi 33 s.d. 38]
h. Tafsir Al-Maraghi [Nomor Presensi [39 s.d. 44]
i. Tafsir The Holy Qur'an Yusuf Ali [Nomor Presensi 45 s.d. 50]
Rabu, September 10, 2008
PEMBAGIAN TUGAS I PAI-F [PSI]
KETENTUAN UMUM
1. Tugas ditulis secara individual, meskipun kitab yang dicari sama
2. Tugas dikirim melalui email dengan alamat masing-masing, tidak dititipkan
3. Baca Surat al-Fatihah, buat ringkasan dan berikan komentar terhadap kitab tersebut terutama komentar terhadap penafsiran Surat al-Fatihah
4. Tugas dikirim maksimal tanggal 16 September 2008 jam 24.00
5. Pembagian Tugas sebagai berikut:
a. Tafsir Jalalain [M. Aziz A., Asep FN, M. Fauzan, Yusuf R, Rina K]
b. Tafsir Al-Azhar [Habib R., R. Anis F., Irfan N., Luk Luk J., Riaqon F.]
c. Tafsir Al-Manar [Wahyu I., Ja'far S., Ahmad C., Nur Lailatul M., Khusnul I.]
d. Tafsir Al-Thabary [M. Luqman H., Lailatus S., Yusuf AM., Jahid QM., J. Himmah]
e. Tafsir Al-Ibriz [Andikasaputra, Zuhad NR., Egi AF., Khazmillabib, Efa H.]
f. Tafsir UII, Tim Universitas Islam Indonesia [Wahudi, C. Ulfah, Fatkhurrokhim, Danang FR, Eko FB.]
g. Tafsir Ibn Katsir [Evayuni L., Nasrul AR., Ayu F., Afrinaldi, Septirusli H., M. Fathul M.]
h. Tafsir Al-Maraghi [Siti NI., Rahmat K., Catur WI., Ahmad K., Diyah A., Irma WP.]
i. Tafsir The Holy Qur'an Yusuf Ali [Mardanis, Fauzan NH., Ambar DK., Khamim, Nurhidayat, Azam]
1. Tugas ditulis secara individual, meskipun kitab yang dicari sama
2. Tugas dikirim melalui email dengan alamat masing-masing, tidak dititipkan
3. Baca Surat al-Fatihah, buat ringkasan dan berikan komentar terhadap kitab tersebut terutama komentar terhadap penafsiran Surat al-Fatihah
4. Tugas dikirim maksimal tanggal 16 September 2008 jam 24.00
5. Pembagian Tugas sebagai berikut:
a. Tafsir Jalalain [M. Aziz A., Asep FN, M. Fauzan, Yusuf R, Rina K]
b. Tafsir Al-Azhar [Habib R., R. Anis F., Irfan N., Luk Luk J., Riaqon F.]
c. Tafsir Al-Manar [Wahyu I., Ja'far S., Ahmad C., Nur Lailatul M., Khusnul I.]
d. Tafsir Al-Thabary [M. Luqman H., Lailatus S., Yusuf AM., Jahid QM., J. Himmah]
e. Tafsir Al-Ibriz [Andikasaputra, Zuhad NR., Egi AF., Khazmillabib, Efa H.]
f. Tafsir UII, Tim Universitas Islam Indonesia [Wahudi, C. Ulfah, Fatkhurrokhim, Danang FR, Eko FB.]
g. Tafsir Ibn Katsir [Evayuni L., Nasrul AR., Ayu F., Afrinaldi, Septirusli H., M. Fathul M.]
h. Tafsir Al-Maraghi [Siti NI., Rahmat K., Catur WI., Ahmad K., Diyah A., Irma WP.]
i. Tafsir The Holy Qur'an Yusuf Ali [Mardanis, Fauzan NH., Ambar DK., Khamim, Nurhidayat, Azam]
Selasa, September 09, 2008
PEMBAGIAN TUGAS KELAS KHUSUS [PAI-PGMI]
KETENTUAN UMUM
1. Tugas ditulis secara individual, meskipun kitab yang dicari sama
2. Tugas dikirim melalui email dengan alamat masing-masing, tidak dititipkan
3. Baca Surat al-Fatihah, buat ringkasan dan berikan komentar terhadap kitab tersebut terutama komentar terhadap penafsiran Surat al-Fatihah
4. Tugas dikirim maksimal tanggal 15 September 2008 jam 24.00
5. Pembagian Tugas sebagai berikut:
a. Tafsir Jalalain [Nomor Presensi 1 s.d. 2]
b. Tafsir Al-Azhar [Nomor Presensi 3 s.d. 4]
c Tafsir Ibn Katsir [Nomor Presensi 5 s.d. 6]
d. Tafsir Al-Maraghi [Nomor Presensi [7 s.d. 8]
e. Tafsir The Holy Qur'an Yusuf Ali [Nomor Presensi 9 s.d. 11]
1. Tugas ditulis secara individual, meskipun kitab yang dicari sama
2. Tugas dikirim melalui email dengan alamat masing-masing, tidak dititipkan
3. Baca Surat al-Fatihah, buat ringkasan dan berikan komentar terhadap kitab tersebut terutama komentar terhadap penafsiran Surat al-Fatihah
4. Tugas dikirim maksimal tanggal 15 September 2008 jam 24.00
5. Pembagian Tugas sebagai berikut:
a. Tafsir Jalalain [Nomor Presensi 1 s.d. 2]
b. Tafsir Al-Azhar [Nomor Presensi 3 s.d. 4]
c Tafsir Ibn Katsir [Nomor Presensi 5 s.d. 6]
d. Tafsir Al-Maraghi [Nomor Presensi [7 s.d. 8]
e. Tafsir The Holy Qur'an Yusuf Ali [Nomor Presensi 9 s.d. 11]
PEMBAGIAN TUGAS I PGMI-B
KETENTUAN UMUM
1. Tugas ditulis secara individual, meskipun kitab yang dicari sama
2. Tugas dikirim melalui email dengan alamat masing-masing, tidak dititipkan
3. Baca Surat al-Fatihah, buat ringkasan dan berikan komentar terhadap kitab tersebut terutama komentar terhadap penafsiran Surat al-Fatihah
4. Tugas dikirim maksimal tanggal 14 September 2008 jam 24.00
5. Pembagian Tugas sebagai berikut:
a. Tafsir Jalalain [Nomor Presensi 1 s.d. 5]
b. Tafsir Al-Azhar [Nomor Presensi 6 s.d. 10]
c. Tafsir Al-Manar [Nomor Presensi 11 s.d. 15]
d. Tafsir Al-Thabary [Nomor Presensi 16 s.d. 20]
e. Tafsir Al-Ibriz [Nomor Presensi 21 s.d. 25]
f. Tafsir UII, Tim Universitas Islam Indonesia [Nomor Presensi 26 s.d. 30]
g. Tafsir Ibn Katsir [Nomor Presensi 31 s.d. 35]
h. Tafsir Al-Maraghi [Nomor Presensi [36 s.d. 40]
i. Tafsir The Holy Qur'an Yusuf Ali [Nomor Presensi 41 s.d. 45]
1. Tugas ditulis secara individual, meskipun kitab yang dicari sama
2. Tugas dikirim melalui email dengan alamat masing-masing, tidak dititipkan
3. Baca Surat al-Fatihah, buat ringkasan dan berikan komentar terhadap kitab tersebut terutama komentar terhadap penafsiran Surat al-Fatihah
4. Tugas dikirim maksimal tanggal 14 September 2008 jam 24.00
5. Pembagian Tugas sebagai berikut:
a. Tafsir Jalalain [Nomor Presensi 1 s.d. 5]
b. Tafsir Al-Azhar [Nomor Presensi 6 s.d. 10]
c. Tafsir Al-Manar [Nomor Presensi 11 s.d. 15]
d. Tafsir Al-Thabary [Nomor Presensi 16 s.d. 20]
e. Tafsir Al-Ibriz [Nomor Presensi 21 s.d. 25]
f. Tafsir UII, Tim Universitas Islam Indonesia [Nomor Presensi 26 s.d. 30]
g. Tafsir Ibn Katsir [Nomor Presensi 31 s.d. 35]
h. Tafsir Al-Maraghi [Nomor Presensi [36 s.d. 40]
i. Tafsir The Holy Qur'an Yusuf Ali [Nomor Presensi 41 s.d. 45]
PEMBAGIAN TUGAS I PGMI-A
KETENTUAN UMUM
1. Tugas ditulis secara individual, meskipun kitab yang dicari sama
2. Tugas dikirim melalui email dengan alamat masing-masing, tidak dititipkan
3. Baca Surat al-Fatihah, buat ringkasan dan berikan komentar terhadap kitab tersebut terutama komentar terhadap penafsiran Surat al-Fatihah
4. Tugas dikirim maksimal tanggal 14 September 2008 jam 24.00
5. Pembagian Tugas sebagai berikut:
a. Tafsir Jalalain [Nomor Presensi 1 s.d. 5]
b. Tafsir Al-Azhar [Nomor Presensi 6 s.d. 10]
c. Tafsir Al-Manar [Nomor Presensi 11 s.d. 15]
d. Tafsir Al-Thabary [Nomor Presensi 16 s.d. 20]
e. Tafsir Al-Ibriz [Nomor Presensi 21 s.d. 25]
f. Tafsir UII, Tim Universitas Islam Indonesia [Nomor Presensi 26 s.d. 30]
g. Tafsir Ibn Katsir [Nomor Presensi 31 s.d. 35]
h. Tafsir Al-Maraghi [Nomor Presensi [36 s.d. 40]
i. Tafsir The Holy Qur'an Yusuf Ali [Nomor Presensi 41 s.d. 44]
1. Tugas ditulis secara individual, meskipun kitab yang dicari sama
2. Tugas dikirim melalui email dengan alamat masing-masing, tidak dititipkan
3. Baca Surat al-Fatihah, buat ringkasan dan berikan komentar terhadap kitab tersebut terutama komentar terhadap penafsiran Surat al-Fatihah
4. Tugas dikirim maksimal tanggal 14 September 2008 jam 24.00
5. Pembagian Tugas sebagai berikut:
a. Tafsir Jalalain [Nomor Presensi 1 s.d. 5]
b. Tafsir Al-Azhar [Nomor Presensi 6 s.d. 10]
c. Tafsir Al-Manar [Nomor Presensi 11 s.d. 15]
d. Tafsir Al-Thabary [Nomor Presensi 16 s.d. 20]
e. Tafsir Al-Ibriz [Nomor Presensi 21 s.d. 25]
f. Tafsir UII, Tim Universitas Islam Indonesia [Nomor Presensi 26 s.d. 30]
g. Tafsir Ibn Katsir [Nomor Presensi 31 s.d. 35]
h. Tafsir Al-Maraghi [Nomor Presensi [36 s.d. 40]
i. Tafsir The Holy Qur'an Yusuf Ali [Nomor Presensi 41 s.d. 44]
Minggu, September 07, 2008
KESADARAN PROFETIK
Muhammad Iqbal dalam salah satu karyanya, Javid Nama, kurang lebih pernah mengatakan "Kesadaran profetik [prophetic consciousness] adalah cakrawala larut dalam diri kita, kesadaran mistik [mystical consciousness] adalah kita larut dalam cakrawala." Makna dari bahasa Iqbal itu adalah bahwa orang yang mempunyai kesadaran kenabian mampu menentukan arah sejarah. Ini berarti dia mampu membaca realitas dengan berbagai permasalahannya dan mampu mencari alternatif pemecahan. Orang dengan tipe ini proaktif membaca realitas. Hal ini sesuai dengan Nabi Muhammad SAW yang proaktif memecahkan persoalan sekitar. Sebaliknya, kesadaran mistik adalah ketika orang larut dalam cakrawala. Dia terombang-ambing oleh tuntutan realitas dan tidak mampu menawarkan solusi dari persoalan realitas. Dalam bahasa Iqbal, orang yang berkesadaran mistik larut dalam tasbih mengejar kesalehan individu sementara dia justru dihidupi oleh orang lain.
MULTIPLE INTELLIGENCES
"Biarlah 100 sekolah berkembang", kata Howard Gardner. Penggagas teori multiple intelligences ini menegaskan bahwa pola pendidikan/pembelajaran di sekolah tidak boleh tunggal. Keragaman model sekolah itu sangat ditentukan oleh keunikan dan kebutuhan setiap peserta didik di tiap sekolah. Menurut Gardner, ukuran kecerdasan manusia tidak tunggal. Paling tidak dia menawarkan sembilan jenis kecerdasan yaitu cerdas kata [linguistic intelleigence], cerdas angka [logical-mathematical intelligence], cerdas ruang [spatial intelligence], cerdas fisik [kinesthetic intelligence], cerdas irama [rythmic intelligence], cerdas diri [intrapersonal intelligence], cerdas sosial [interpersonal intelligence], cerdas alam [natural intelligence], dan cerdas makna hidup [existential intelligence]. Beragam jenis kecerdasan itu harus dipahami setiap pendidik dan pengelola pendidikan, sebab pemahaman tersebut mempunyai efek terhadap model kurikulum, strategi pembelajaran, media pembelajaran, evaluasi pembelajaran, lingkungan, bahkan bentuk fisik bangunan. Hal ini senada dengan penggagas teori Accelerated Learning [Dave Meier] yang menyatakan tentang perlunya melakukan inovasi pembelajaran dengan memperhatikan musik, aroma, ventilasi, dan sebagainya.
Rabu, September 03, 2008
POLITISASI PENDIDIKAN
Pidato SBY tanggal 16 Agustus 2008 lalu memberikan angin segar bagi dunia pendidikan. Bagaimana tidak? Mahkamah Konstitusi berkali-kali memutuskan bahwa pemerintah telah melanggar amant konstitusi dalam hal pemenuhan anggaran pendidikan minimal 20%. Baru kali ini pemerintah "sadar" pentingnya memikirkan pendidikan meskipun berbagai persoalan telah mengingatkan pemerintah tentang arti penting pendidikan. Apakah ini berarti pemerintah serius menggarap sektor pendidikan? Belum tentu! Sebab kenapa baru sekarang rencana anggaran tersebut diwujudkan. Kenapa tidak awal pemerintahan SBY tiga tahun lalu? Masyarakat pendidikan patut mencurigai bahwa jangan-jangan pemerintah terpaksa menaikkan anggaran pendidikan karena desakan atau keputusan MK atau jangan-jangan karena kampanye politik menjelang 2009. Sebab bagaimanapun pendidikan merupakan isu paling tepat untuk menarik perhatian masyarakat. Jika ini yang terjadi, maka dunia pendidikan hanya menjadi "angin surga" menjelang pemilu saja. Setelah pesta demokrasi usai pendidikan dilupakan. Good by. Suudzan sebenarnya kurang baik, tapi kalau suudzan terhadap kebijakan publik untuk kemajuan bersama tentu diperbolehkan. Anggap saja bahwa ini tawashaw bil-haqq wa-tawashaw bish-shabr. Semoga dengan puasa Ramadhan janji pemerintah tersebut benar-benar dilaksanakan. Mudah-mudahan anggaran tersebut di luar gaji rutin pendidik, yaitu khusus untuk pengembangan pendidikan. Kita tentu ingat peribahasa "Tiada gedung yang tak retak" Gedung itu bernama sekolah/madrasah.
Selasa, September 02, 2008
MADRASAH RAMADHAN
Bagi pemerhati dan praktisi pendidikan, puasa ramadhan identik dengan sekolah atau madrasah, meskipun tidak sama persis. Setidaknya hal ini menurut pandangan Said Hawwa bahwa puasa ramadhan sebagai madrasah. Dalam konteks persekolahan ada input [peserta didik], pendidik, kurikulum, strategi pembelajaran, evaluasi, lingkungan, dan sumber belajar. Peserta didik sebagai input mempunyai kualitas yang beragam, ada yang kemampuannya unggul dan pas-pasan. Begitu juga dengan input puasa ramadhan. Menurut al-Ghazali, input puasa diklasifikasikan menjadi tiga, yaitu kualitas awam, kualitas khawas, dan khawas al-khawas. Kualitas awam antara lain dicirikan dengan cara berpuasa yang hanya menahan tidak makan dan minum serta berhubungan seks [bagi yang bersuami/istri] dari terbit fajar sampai terbenamnya matahari. Kualitas khawas ditandai dengan kemampuan menahan tidak sekedar makan, minum dan berhubungan seks, tapi juga menahan panca indera dari melakukan kegiatan negatif/menyimpang. Sementara itu, kualitas khawas al-khawas melebihi dua kualitas input sebelumnya, bahwa orang dengan tingkatan khawas al-khawas mampu menjaga hati [qalb] dari kecenderungan ke arah maksiat seperti berprasangka negatif terhadap orang lain meski masih dalam hati.
Selama belajar di madrasah ramadhan boleh jadi kaulitas ketiga input tersebut berubah, bisa meningkat tapi bisa juga menurun tergantung tiap input dalam menjalani proses pembelajaran. Tentu yang baik adalah ketika dapat meningkatkan kualitas diri kita dari tingkatan awam ke khawas dan dari khawas ke khas al-khawas sebagai tingkatan tertinggi. Inilah sebenar-benar taqwa yang menjadi tujuan dari madrasah ramadhan. Man 'arafa qalbahu faqad 'arafa nafsahu, man 'arafa nafsahu faqad 'arafa rabbahu.
Selama belajar di madrasah ramadhan boleh jadi kaulitas ketiga input tersebut berubah, bisa meningkat tapi bisa juga menurun tergantung tiap input dalam menjalani proses pembelajaran. Tentu yang baik adalah ketika dapat meningkatkan kualitas diri kita dari tingkatan awam ke khawas dan dari khawas ke khas al-khawas sebagai tingkatan tertinggi. Inilah sebenar-benar taqwa yang menjadi tujuan dari madrasah ramadhan. Man 'arafa qalbahu faqad 'arafa nafsahu, man 'arafa nafsahu faqad 'arafa rabbahu.
AGAMAWAN ORGANIK
Rabi'ah Adawiyah kurang lebih mengatakan, "Ya Allah, kalau aku beribadah karena berharap akan surgamu, maka jauhkan saja aku dari surgamu. JIka aku beribadah karena takut akan nerakamu, maka masukkan saja aku ke nerakamu. Sebab, aku beribadah hanya untuk Engkau ya Allah, bukan berharap surga atau takut neraka"
Pernyataan Rabi'ah tersebut patut menjadi renungan bersama, sudahkah kita beribadah karena untuk Allah semata? Jangan-jangan kita beribadah karena ada "hukum dagang". Bukan berarti ini tidak perlu, tapi iyyaka na'budu [hanya kepada-Mulah aku menyembah] patut kita renungkan kembali, bahwa kita beribadah hanya untuk Allah semata, bukan yang lain.
Agamawan organik adalah beragama karena untuk menyembah Allah semata di mana saja dan kapan saja. Bukan beribadah karena orang, karena ada Ramadhan atau karena pahala. Memang manusiawi bahwa manusia berbuat karena iming-iming. Namun, sebenarnya, motivasi beribadah karena iming-iming berada pada tingkatan awal [awam]. Ketika kita beribadah karena iming-iming maka termasuk kategori agamawan mekanik. Mudah-mudahan puasa tahun ini dapat menjadikan kita sebagai agamawan organik.
Pernyataan Rabi'ah tersebut patut menjadi renungan bersama, sudahkah kita beribadah karena untuk Allah semata? Jangan-jangan kita beribadah karena ada "hukum dagang". Bukan berarti ini tidak perlu, tapi iyyaka na'budu [hanya kepada-Mulah aku menyembah] patut kita renungkan kembali, bahwa kita beribadah hanya untuk Allah semata, bukan yang lain.
Agamawan organik adalah beragama karena untuk menyembah Allah semata di mana saja dan kapan saja. Bukan beribadah karena orang, karena ada Ramadhan atau karena pahala. Memang manusiawi bahwa manusia berbuat karena iming-iming. Namun, sebenarnya, motivasi beribadah karena iming-iming berada pada tingkatan awal [awam]. Ketika kita beribadah karena iming-iming maka termasuk kategori agamawan mekanik. Mudah-mudahan puasa tahun ini dapat menjadikan kita sebagai agamawan organik.
Selamat Berpuasa 1429H
SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH PUASA RAMADHAN 1429H. SEMOGA DENGAN BERPUASA KITA DAPAT MENJADI AGAMAWAN ORGANIK, BUKAN AGAMAWAN MEKANIK. AMIN
Kamis, Juli 24, 2008
SAP SKIP
SATUAN ACARA PERKULIAHAN
SKI dan Pembelajarannya
Standar Kompetensi
Mahasiswa mampu memahami proses perkembangan sejarah kebudayaan Islam sebagaimana termaktub dalamKurikulum SKI MI, MTs dan MA dan mampu membelajarkannya secara metodologis.
Kompetensi Dasar
1. Mahasiswa mampumemahami SKI sebagai mata pelajaran dan pembelajarannya.
2. Mahasiswa mampumemahami konsep dasar kurikulum secara umum dan secara khusus (kurikulum SKI, MI, MTs, MA)
3. Mahasiswa mampumemahami pendekatan dalam pembelajaran SKI
4. Mahasiswa mampuMemahami pengembangan tujuan pembelajaran SKI
5. Mahasiswa mampuMemahami pengembangan materi SKI
6. Mahasiswa mampu memahami pengembangan konsep dasar strategi pembelajaran
7. Mahasiswa mampu memahami konsep dasar pengembangan media pembelajaran SKI
8. Mahasiswa mampu memahami konsep dasar pengembangan evaluasi
9. Mahasiswa memahami konsep dasar silabus dan RPP
10. Mahasiswa memiliki kemampuan dalam merencanakan dan mengaplikasikannya dalam pembelajaran SKI
Deskripsi Matakuliah
Mata kuliah ini mencakup aspek substansi dan metodologi. Substansi dimaksudkan sebagai materi kajian Sejarah Kebudayaan Islam. SKI dan Pembelajarannya merupakan mata kuliah yang memberikan pemahaman kepada mahasiswa tentang berbagai hal terkait dengan substansi materi kajian Sejarah Kebudayaan Islam sebagaimana termaktub dalam Kompetensi Dasar Kurikulum MI, MTs dan MA. Selain itu pra mahasiswa juga diajak untuk bersama-sama untuk memahami cara yang efektif untuk membuat perencanaan pembelajaran dan menerapkan perencanaan pembelajaran tersebut serta menganalisis dan mengkritisi substansi materi, perencanaan pembelajaran dan praktiknya, guna mendapatkan pemahaman dan ketrampilan yang lebih baik dalam membelajarkan SKI yang mencakup multi ranah (kognitif, afektif, dan psikomotorik) secara efektif. Untuk itu dalam perkuliahan SKI dan Pembelajarannya selain mahasiswa diajak untuk memahami, menganalisis dan mendiskusikan kandungan substansi SKI dan metodologi pembelajarannya, mahasiswa akan diajak pula memahami beberapa materi pengantar untuk masuk pada substansi SKI, seperti: pengertian SKI, Kurikulum SKI, Pendekatan Pembelajaran SKI, dan RPP SKI.
Materi Pokok
1. Pengantar SKI dan Pembelajarannya (pertemuan ke-1)
2. Pendekatan Sejarah (pertemuan ke-2)
3. Pembelajaran SKI (pertemuan ke-3)
4. Orientasi Kurikulum SKI di Sekolah/Madrasah (pertemuan ke-4)
5. Pengembangan Materi SKI (pertemuan ke-5)
6. Pengembangan Pendekatan dan Strategi pembelajaran SKI (pertemuan ke-6)
7. Problematika Pembelajaran SKI: Survey di Sekolah/Madrasah (pertemuan ke-7 s.d. 8)
8. Pengembangan evaluasi pembelajaran SKI (pertemuan ke-9)
9. Pengembangan silabus dan RPP (pertemuan ke-10)
10. Pembelajaran Mikro untuk SKI (pertemuan ke-11 s.d. 28)
Referensi
Wajib
1. Nasar, Merancang Pembelajaran yang Menyenangkan
2. Kurikulum SKI MI, MTs dan MA
3. Nana Sujana, Media Pembelajaran
4. Mel Siberman, Pembelajaran Aktif
5. Nana Sujana, Dasar-dasar PBM ,
6. Kuntowijoyo, Pengantar Ilmu Sejarah
7. Puskur, Pengantar Silabi
8. Puskur, Pengantar RPP
9. Maman Abdul Malik Sya’roni, dkk., Buku Ajar SKI
Anjuran
1. Effat al-Syarqawi, Filsafat Kebudayaan Islam,
2. Abdul Mun’im Majid, Peradaban Islam
3. Nourouzzaman Shiddiqiy, Pengantar Sejarah Muslim
4. Muhammad Husein Haikal, Hayatu Muhammad
5. Yousouf Syueib, Daulat Khulafaurrasyidin
6. MA. Shaban, Sejarah Islam Penafsiran Baru
7. Siti Maryam dkk., (ed.), Sejarah Peradaban Islam: Dari Masa Klasik Hingga Modern
8. Ahmad Syalabi, Sejarah Kebudayaan Islam I
9. Akram Dhiyauddin Umari, Masyarakat Madani, Tinjauan Historis Kehidupan Zaman Nabi.
SKI dan Pembelajarannya
Standar Kompetensi
Mahasiswa mampu memahami proses perkembangan sejarah kebudayaan Islam sebagaimana termaktub dalamKurikulum SKI MI, MTs dan MA dan mampu membelajarkannya secara metodologis.
Kompetensi Dasar
1. Mahasiswa mampumemahami SKI sebagai mata pelajaran dan pembelajarannya.
2. Mahasiswa mampumemahami konsep dasar kurikulum secara umum dan secara khusus (kurikulum SKI, MI, MTs, MA)
3. Mahasiswa mampumemahami pendekatan dalam pembelajaran SKI
4. Mahasiswa mampuMemahami pengembangan tujuan pembelajaran SKI
5. Mahasiswa mampuMemahami pengembangan materi SKI
6. Mahasiswa mampu memahami pengembangan konsep dasar strategi pembelajaran
7. Mahasiswa mampu memahami konsep dasar pengembangan media pembelajaran SKI
8. Mahasiswa mampu memahami konsep dasar pengembangan evaluasi
9. Mahasiswa memahami konsep dasar silabus dan RPP
10. Mahasiswa memiliki kemampuan dalam merencanakan dan mengaplikasikannya dalam pembelajaran SKI
Deskripsi Matakuliah
Mata kuliah ini mencakup aspek substansi dan metodologi. Substansi dimaksudkan sebagai materi kajian Sejarah Kebudayaan Islam. SKI dan Pembelajarannya merupakan mata kuliah yang memberikan pemahaman kepada mahasiswa tentang berbagai hal terkait dengan substansi materi kajian Sejarah Kebudayaan Islam sebagaimana termaktub dalam Kompetensi Dasar Kurikulum MI, MTs dan MA. Selain itu pra mahasiswa juga diajak untuk bersama-sama untuk memahami cara yang efektif untuk membuat perencanaan pembelajaran dan menerapkan perencanaan pembelajaran tersebut serta menganalisis dan mengkritisi substansi materi, perencanaan pembelajaran dan praktiknya, guna mendapatkan pemahaman dan ketrampilan yang lebih baik dalam membelajarkan SKI yang mencakup multi ranah (kognitif, afektif, dan psikomotorik) secara efektif. Untuk itu dalam perkuliahan SKI dan Pembelajarannya selain mahasiswa diajak untuk memahami, menganalisis dan mendiskusikan kandungan substansi SKI dan metodologi pembelajarannya, mahasiswa akan diajak pula memahami beberapa materi pengantar untuk masuk pada substansi SKI, seperti: pengertian SKI, Kurikulum SKI, Pendekatan Pembelajaran SKI, dan RPP SKI.
Materi Pokok
1. Pengantar SKI dan Pembelajarannya (pertemuan ke-1)
2. Pendekatan Sejarah (pertemuan ke-2)
3. Pembelajaran SKI (pertemuan ke-3)
4. Orientasi Kurikulum SKI di Sekolah/Madrasah (pertemuan ke-4)
5. Pengembangan Materi SKI (pertemuan ke-5)
6. Pengembangan Pendekatan dan Strategi pembelajaran SKI (pertemuan ke-6)
7. Problematika Pembelajaran SKI: Survey di Sekolah/Madrasah (pertemuan ke-7 s.d. 8)
8. Pengembangan evaluasi pembelajaran SKI (pertemuan ke-9)
9. Pengembangan silabus dan RPP (pertemuan ke-10)
10. Pembelajaran Mikro untuk SKI (pertemuan ke-11 s.d. 28)
Referensi
Wajib
1. Nasar, Merancang Pembelajaran yang Menyenangkan
2. Kurikulum SKI MI, MTs dan MA
3. Nana Sujana, Media Pembelajaran
4. Mel Siberman, Pembelajaran Aktif
5. Nana Sujana, Dasar-dasar PBM ,
6. Kuntowijoyo, Pengantar Ilmu Sejarah
7. Puskur, Pengantar Silabi
8. Puskur, Pengantar RPP
9. Maman Abdul Malik Sya’roni, dkk., Buku Ajar SKI
Anjuran
1. Effat al-Syarqawi, Filsafat Kebudayaan Islam,
2. Abdul Mun’im Majid, Peradaban Islam
3. Nourouzzaman Shiddiqiy, Pengantar Sejarah Muslim
4. Muhammad Husein Haikal, Hayatu Muhammad
5. Yousouf Syueib, Daulat Khulafaurrasyidin
6. MA. Shaban, Sejarah Islam Penafsiran Baru
7. Siti Maryam dkk., (ed.), Sejarah Peradaban Islam: Dari Masa Klasik Hingga Modern
8. Ahmad Syalabi, Sejarah Kebudayaan Islam I
9. Akram Dhiyauddin Umari, Masyarakat Madani, Tinjauan Historis Kehidupan Zaman Nabi.
Rabu, Juli 23, 2008
SAP PSI
SATUAN ACARA PERKULIAHAN
Pengantar Studi Islam
Deskripsi Matakuliah
Matakuliah ini lebih dimaksudkan untuk memberikan bekal bagi mahasiswa untuk menjadi seorang peneliti (researcher) dalam bidang ke-Islam-an. Selama ini di kalangan umat Islam masih terdapat misunderstanding dan misconception dalam memahami kajian Islam secara akademik. Islam lebih dipahami sebagai suatu doktrin statis yang tidak perlu dikaji, sebab meneliti Islam berarti mempertanyakan eksistensi dan validitas wahyu agama Islam. Mengkaji Islam berarti mereduksi agama Islam, sebab Islam disamakan dengan ilmu pengetahuan lain yang observable, measurable, dan verifiable. Anggapan ini to some extent benar, meski tidak harus demikian cara memandang Islam. Dalam dataran doktrin (wahyu) yang normatif asumsi ini bisa diterima, namun ketika hal demikian dibenturkan dengan konteks zaman (sejarah), maka muncul berbagai pertanyaan yang perlu dijawab. Misalnya, mengapa terjadi perbedaan yang cukup tajam antara doktrin yang terkandung di dalam nusūs dengan manifestasi doktrin dalam konteks historis, antara das Sein dan das Sollen. Perbedaan ini dapat dilihat dalam berbagai bentuk, baik dari konteks zamān (waktu) maupun makān (tempat). Bila ditarik dalam konteks yang lebih global, mengapa peradaban Islam saat ini ketinggalan dengan peradaban lain, kalau memang Islam itu tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi darinya (al-islām ya’lū walā yu’lā ‘alayh). Selain itu, dalam al-Qur’an secara tegas dinyatakan bahwa Islam sebagai agama rahmatan lil-‘ālamīn, bukan hanya rahmatan lil-muslimīn saja, namun kenyataannya banyak kasus kerusuhan dan kekerasan yang justru dilakukan oleh umat Islam. Matakuliah ini tidak dimaksudkan untuk menilai sebuah peristiwa atau pemikiran sebagai sesuatu yang baik atau buruk, benar atau salah, akan tetapi matakuliah ini lebih dimaksudkan untuk menelaahnya secara kritis, obyektif, dan rasional.Pada dasarnya keragaman cara memandang Islam lebih disebabkan oleh perbedaan pemahaman dan konteks sosial-budaya yang dihadapi oleh umat Islam dan para pemerhati Islam. Perbedaan pemahaman tersebut sangat terkait dengan tingkat pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki, sementara konteks sosial dan budaya sangat terkait dengan situasi masyarakat yang dihadapi. Karena itu, banyaknya metodologi yang ditawarkan dalam melakukan kajian Islam, baik yang selama ini dikembangkan di Dunia Timur maupun di Dunia Barat adalah sebagai sebuah keniscayaan. Adanya perbedaan arah dan kecenderungan kajian Islam yang selama ini berkembang dan dikembangkan di pusat-pusat kajian Islam di dua dunia tersebut, lebih disebabkan oleh perbedaan sudut pandang (perspective) dalam memahami Islam yang menyejarah. Dunia Timur lebih concern terhadap persoalan materi (content) sementara Dunia Barat lebih menekankan pada segi metodologi dan pisau analisis. Perbedaan pemahaman dan konteks sosial tersebut pada akhirnya menyebabkan munculnya perbedaan pendekatan dan metodologi yang digunakan, misalnya pendekatan sejarah, sosiologi, antropologi, dan filologi. Beberapa pendekatan tersebut akan menjadi topik kajian dalam matakuliah ini. Selain itu, mata kuliah ini juga akan membahas studi Islam dalam berbagai disiplin, khususnya dikaitkan dengan paradigma yang digunakan oleh al-Jabiri, yaitu bayani, burhani, dan irfani.
Ranah Integrasi-Interkoneksi
a. Filosofis: pada level ini matakuliah ini memberikan perspektif terhadap semua matakuliah lain, sebab pemaknaan tentang Islam sangat tergantung pada perkuliahan ini. Makna studi Islam secara komprehensif yang menjadikan al-Qur'an dan al-Sunnah sebagai inti (core) atau inspirasi merupakan cermin tidak adanya paradigma dikotomik dalam pendidikan.
b. Materi: pada tingkat ini perkuliahan PSI didukung dan dijabarkan lebih konkret dalam matakuliah-matakuliah lain. PSI memberikan sebuah pengantar tentang makna Islam secara global yang akan dielaborasi secara substansi dan metodologinya melalui perkuliahan yang lain.
c. Metodologi: pada tahapan ini matakuliah PSI memberikan gambaran yang utuh tentang makna studi Islam dan bagaimana melakukan studi Islam dengan menggunakan banyak pendekatan, baik normatif, sosial-humaniora, bahkan kealaman. Wilayah studi Islam yang empirik dapat dianalisis dengan menggunakan berbagai pendekatan ilmu sosial, sehingga mampu menjelaskan persoalan adanya jurang antara idealitas Islam dan realitas Islam.
d. Strategi: pada fase ini perkuliahan dilakukan dengan menggali berbagai persoalan yang terkait dengan Islam, baik dari aspek idealitas yang terkandung dalam nas ataupun dalam realitas yang menyejarah, sehingga ajaran Islam dapat memberikan alternatif pemecahan terhadap berbagai persoalan realitas empirik-historis. Proses integrasi matakuliah ini dilakukan dengan mengaitkan seluruh matakuliah, sebab semua matakuliah pada dasarnya merupakan penjabaran lebih detil dari makna studi Islam yang ada dalam perkuliahan PSI. Untuk itu, semua matakuliah lain harus menjabarkan proses perkuliahan dengan terlebih dahulu memahami makna studi Islam dalam perspektif baru, yaitu studi Islam dalam arti interconnected entities.
Standar Kompetensi
Mahasiswa memahami konsep studi Islam; memiliki sikap apresiatif terhadap berbagai pendekatan dan mampu mengaplikasikannya dalam studi Islam
Kompetensi Dasar
1. Mahasiswa mampu memahami ruang lingkup studi Islam
2. Mahasiswa mampu memahami perkembangan studi Islam
3. Mahasiswa mampu memahami sumber ajaran Islam
4. Mahasiswa mampu memahami pengelompokan keilmuan dalam Islam
5. Mahasiswa mampu memahami berbagai pendekatan dalam studi Islam
6. Mahasiswa memahami beberapa isu aktual dalam studi Islam
Materi Pokok
1. Pengertian studi Islam (pertemuan ke-1 dan 2)
2. Perkembangan studi Islam di Barat, Timur, dan Indonesia (pertemuan ke-3)
3. Sumber ajaran Islam (pertemuan ke-4 dan 5)
4. Pengelompokan keilmuan dalam Islam ([ertemuan ke-6)
5. Berbagai pendekatan dalam studi Islam (pertemuan ke-7 s.d. 9)
6. Isu-isu aktual dalam studi Islam (pertemuan ke-10 s.d.12)
Referensi
Wajib
A. Mukti Ali, Metode Memahami Agama Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1991: v-xii, 23-44.
Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam, Jakarta: Logos, 1998 : 1-7.
Ahmad Syafii Ma’arif, “Posisi Sentral Al-Qur’an dalam Studi Islam,” dalam Taufik Abdullah dan M. Rusli Karim (ed.), Metodologi Penelitian Agama Sebuah Pengantar, Yogyakarta: Tiara Wacana, 1991: 125-134.
Anthony H. Johns, Qur’anic Exegesis in the Malay World: In Search of a Profile: 257-287.
Azyumardi Azra, Pendidikan Islam Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru, Jakarta : Logos, 1999 : 201-216.
Fazlur Rahman, “Al-Qur’an,” dalam Islam, terj. Ahsin Mohammad, Bandung : Pustaka, 1994 : 31-50.
Fazlur Rahman, “Approaches to Islam in Religious Studies: Review Essay,” dalam Richard C. Martin (ed.), Approaches to Islam in Religious Studies, USA: The University of Arizona Press, 1985: 189-201.
Isma’il Ragi al-Faruqi, “Toward A New Methodology for Qur’anic Exegesis,” dalam Islamic Studies, vol. I: 1 (1962): 25-52
Kuntowijoyo, Islam sebagai Ilmu: Epistemologi, Metodologi, dan Etika, Yogyakarta: Tiara Wacana, 2006.
M. Amin Abdullah, Islamic Studies di Perguruan Tinggi, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2006.
M. Amin Abdullah, Studi Agama: Normatifitas atau Historisitas?, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996.
M. Atho’ Mudzhar, Pendekatan Studi Islam, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999: 1-10.
M. Atho’ Mudzhar, “Penelitian Agama dan Keagamaan: Peta dan Strategi Penelitian di IAIN,” dalam Affandi Mochtar (peny.), Menuju Penelitian Keagamaan dalam Perspektif Penelitian Sosial, Cirebon: Pusat Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Islam Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Gunung Djati, 1996: 1-30.
Mohammad Nur Kholis Setiawan, “Literary Interpretation of the Qur’an: A Study of Amin al-Khuli’s Thought,” dalam Al-Jami’ah, No. 61/1998: 89-105.
Mohammad Quraish Shihab, “Posisi Sentral Al-Qur’an dalam Studi Islam,” dalam Taufik Abdullah dan M. Rusli Karim (ed.), Metodologi Penelitian Agama Sebuah Pengantar, Yogyakarta: Tiara Wacana, 1991: 135-148.
Muhammad Abdul Rauf, “Outsiders’ Interpretations of Islam: A Muslim’s Point of View,” dalam Richard C. Martin (ed.), Approaches to Islam in Religious Studies, USA: The University of Arizona Press, 1985: 179-188.
Muqowim, “Kenabian dalam al-Qur’an,” dalam Jurnal Dakwah, No. 3 Th. II Juli-Desember 2001: 113-129.
Richard C. Martin, “Islam and Religious Studies: An Introductory Essay,” dalam Richard C. Martin (ed.), Approaches to Islam in Religious Studies, USA: The University of Arizona Press, 1985: 1-18.
Taufik Abdullah dan M. Rusli Karim (ed.), Metodologi Penelitian Agama: Sebuah Pengantar, Yogyakarta: Tiara Wacana, 1991: xi-xvi.
Anjuran
Ahmad Syafii Mufid, “Penelitian Agama: Hakekat, Metode dan Kegunaannya,” dalam Affandi Mochtar (peny.), Menuju Penelitian Keagamaan dalam Perspektif Penelitian Sosial, Cirebon: Pusat Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Islam Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Gunung Djati, 1996: 31-42.
Azim Nanji, “Toward a Hermeneutic of Qur’anic and Other Narratives of Isma’ili Thought,” dalam Richard C. Martin (ed.), Approaches to Islam in Religious Studies: 164-174.
B. Todd Lawson, “Akhbari Shii Approaches to Tafsir,” dalam G.R. Hawting and Abdul-Kader A. Shareef (ed.), Approaches to the Qur’an, London and New York: Routledge, 1993: 173-210.
Deliar Noer, “Diperlukan Pendekatan Bukan Barat Terhadap Kajian Masyarakat Indonesia,” dalam Mulyanto Sumardi (ed.), Penelitian Agama Masalah dan Pemikiran: 31-49.
Farid Esack, “Between Text and Context,” “Redefining Self and Other,” dan “The Qur’an and the Other,” dalam Qur’an, Liberation and Pluralism, Oxford: Oneworld, 1997: 49-81; 114-145; dan 146-178.
Fazlur Rahman, “Some Recent Books on the Qur’an by Western Authors,” dalam The Journal of Religion: 73-95.
Harun Nasution, Islam Rasional, Bandung: Mizan, 1995.
Howard M. Federspiel, (ed.), An Anthology of Islamic Studies, Volume II, Montreal: McGill Institute of Islamic Studies, 1996: 1-5.
Isma’il Ragi al-Faruqi, “Toward A New Methodology for Qur’anic Exegesis,” dalam Islamic Studies, vol. I: 1 (1962): 25-52
Ismail K. Poonawala, “Muhammad ‘Izzat Darwaza’s Principles of Modern Exegesis: A Contribution toward Qur’anic Hermeneutics,” dalam G.R. Hawting and Abdul-Kader A. Shareef (ed.), Approaches to the Qur’an: 225-246.
Issa J. Boullata, (ed.), An Anthology of Islamic Studies, Montreal: McGill Indonesian IAIN Development Project, 1992: 1-6.
Kuntowijoyo, Paradigma Islam: Interpretasi untuk Aksi, Bandung: Mizan, 1991.
Kuntowijoyo, Muslim tanpa Masjid, Bnadung: Mizan, 2001.
M. Amin Abdullah, “Rekonstruksi Metodologi Studi Agama dalam Masyarakat Multikultural dan Multirelijius,” dalam Ahmad Norma Permata, Metodologi Studi Agama, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2000.
M. Atho’ Mudzhar, “Penelitian Agama dan Keagamaan: Peta dan Strategi Penelitian di IAIN,” dalam Affandi Mochtar (peny.), Menuju Penelitian Keagamaan dalam Perspektif Penelitian Sosial, Cirebon: Pusat Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Islam Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Gunung Djati, 1996: 1-30.
M.A.S. Abdel Haleem, “Content and Internal Relationship: Keys to Qur’anic Exegesis,” dalam G.R. Hawting and Abdul-Kader A. Shareef (ed.), Approaches to the Qur’an: 71-98.
Moch. Nur Ichwan, “Beyond Ideological Interpretation: Nasr Abu Zayd’s Theory of Qur’anic Hermeneutic,” dalam Al-Jami’ah, No. 65/XII/2000: 14-38.
Mulyanto Sumardi, (ed.), Penelitian Agama Masalah dan Pemikiran, Jakarta: Sinar Harapan, 1981: 1-6
Mustansir Mir, “The Sura as a Unity: A Twentieth Century Development in Qur’an Exegesis,” dalam G.R. Hawting and Abdul-Kader A. Shareef (ed.), Approaches to the Qur’an: 211-224.
Norman Calder, “Tafsir from Tabari to Ibn Kathir: Problems in the Description of a Genre, Illustrated with Reference to the Story of Abraham,” dalam G.R. Hawting and Abdul-Kader A. Shareef (ed.), Approaches to the Qur’an: 101-140.
William A. Graham, “Qur’an as Spoken Word: An Islamic Contribution to the Understanding of Scripture,” dalam Richard C. Martin (ed.), Approaches to Islam in Religious Studies: 23-40.
Pengantar Studi Islam
Deskripsi Matakuliah
Matakuliah ini lebih dimaksudkan untuk memberikan bekal bagi mahasiswa untuk menjadi seorang peneliti (researcher) dalam bidang ke-Islam-an. Selama ini di kalangan umat Islam masih terdapat misunderstanding dan misconception dalam memahami kajian Islam secara akademik. Islam lebih dipahami sebagai suatu doktrin statis yang tidak perlu dikaji, sebab meneliti Islam berarti mempertanyakan eksistensi dan validitas wahyu agama Islam. Mengkaji Islam berarti mereduksi agama Islam, sebab Islam disamakan dengan ilmu pengetahuan lain yang observable, measurable, dan verifiable. Anggapan ini to some extent benar, meski tidak harus demikian cara memandang Islam. Dalam dataran doktrin (wahyu) yang normatif asumsi ini bisa diterima, namun ketika hal demikian dibenturkan dengan konteks zaman (sejarah), maka muncul berbagai pertanyaan yang perlu dijawab. Misalnya, mengapa terjadi perbedaan yang cukup tajam antara doktrin yang terkandung di dalam nusūs dengan manifestasi doktrin dalam konteks historis, antara das Sein dan das Sollen. Perbedaan ini dapat dilihat dalam berbagai bentuk, baik dari konteks zamān (waktu) maupun makān (tempat). Bila ditarik dalam konteks yang lebih global, mengapa peradaban Islam saat ini ketinggalan dengan peradaban lain, kalau memang Islam itu tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi darinya (al-islām ya’lū walā yu’lā ‘alayh). Selain itu, dalam al-Qur’an secara tegas dinyatakan bahwa Islam sebagai agama rahmatan lil-‘ālamīn, bukan hanya rahmatan lil-muslimīn saja, namun kenyataannya banyak kasus kerusuhan dan kekerasan yang justru dilakukan oleh umat Islam. Matakuliah ini tidak dimaksudkan untuk menilai sebuah peristiwa atau pemikiran sebagai sesuatu yang baik atau buruk, benar atau salah, akan tetapi matakuliah ini lebih dimaksudkan untuk menelaahnya secara kritis, obyektif, dan rasional.Pada dasarnya keragaman cara memandang Islam lebih disebabkan oleh perbedaan pemahaman dan konteks sosial-budaya yang dihadapi oleh umat Islam dan para pemerhati Islam. Perbedaan pemahaman tersebut sangat terkait dengan tingkat pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki, sementara konteks sosial dan budaya sangat terkait dengan situasi masyarakat yang dihadapi. Karena itu, banyaknya metodologi yang ditawarkan dalam melakukan kajian Islam, baik yang selama ini dikembangkan di Dunia Timur maupun di Dunia Barat adalah sebagai sebuah keniscayaan. Adanya perbedaan arah dan kecenderungan kajian Islam yang selama ini berkembang dan dikembangkan di pusat-pusat kajian Islam di dua dunia tersebut, lebih disebabkan oleh perbedaan sudut pandang (perspective) dalam memahami Islam yang menyejarah. Dunia Timur lebih concern terhadap persoalan materi (content) sementara Dunia Barat lebih menekankan pada segi metodologi dan pisau analisis. Perbedaan pemahaman dan konteks sosial tersebut pada akhirnya menyebabkan munculnya perbedaan pendekatan dan metodologi yang digunakan, misalnya pendekatan sejarah, sosiologi, antropologi, dan filologi. Beberapa pendekatan tersebut akan menjadi topik kajian dalam matakuliah ini. Selain itu, mata kuliah ini juga akan membahas studi Islam dalam berbagai disiplin, khususnya dikaitkan dengan paradigma yang digunakan oleh al-Jabiri, yaitu bayani, burhani, dan irfani.
Ranah Integrasi-Interkoneksi
a. Filosofis: pada level ini matakuliah ini memberikan perspektif terhadap semua matakuliah lain, sebab pemaknaan tentang Islam sangat tergantung pada perkuliahan ini. Makna studi Islam secara komprehensif yang menjadikan al-Qur'an dan al-Sunnah sebagai inti (core) atau inspirasi merupakan cermin tidak adanya paradigma dikotomik dalam pendidikan.
b. Materi: pada tingkat ini perkuliahan PSI didukung dan dijabarkan lebih konkret dalam matakuliah-matakuliah lain. PSI memberikan sebuah pengantar tentang makna Islam secara global yang akan dielaborasi secara substansi dan metodologinya melalui perkuliahan yang lain.
c. Metodologi: pada tahapan ini matakuliah PSI memberikan gambaran yang utuh tentang makna studi Islam dan bagaimana melakukan studi Islam dengan menggunakan banyak pendekatan, baik normatif, sosial-humaniora, bahkan kealaman. Wilayah studi Islam yang empirik dapat dianalisis dengan menggunakan berbagai pendekatan ilmu sosial, sehingga mampu menjelaskan persoalan adanya jurang antara idealitas Islam dan realitas Islam.
d. Strategi: pada fase ini perkuliahan dilakukan dengan menggali berbagai persoalan yang terkait dengan Islam, baik dari aspek idealitas yang terkandung dalam nas ataupun dalam realitas yang menyejarah, sehingga ajaran Islam dapat memberikan alternatif pemecahan terhadap berbagai persoalan realitas empirik-historis. Proses integrasi matakuliah ini dilakukan dengan mengaitkan seluruh matakuliah, sebab semua matakuliah pada dasarnya merupakan penjabaran lebih detil dari makna studi Islam yang ada dalam perkuliahan PSI. Untuk itu, semua matakuliah lain harus menjabarkan proses perkuliahan dengan terlebih dahulu memahami makna studi Islam dalam perspektif baru, yaitu studi Islam dalam arti interconnected entities.
Standar Kompetensi
Mahasiswa memahami konsep studi Islam; memiliki sikap apresiatif terhadap berbagai pendekatan dan mampu mengaplikasikannya dalam studi Islam
Kompetensi Dasar
1. Mahasiswa mampu memahami ruang lingkup studi Islam
2. Mahasiswa mampu memahami perkembangan studi Islam
3. Mahasiswa mampu memahami sumber ajaran Islam
4. Mahasiswa mampu memahami pengelompokan keilmuan dalam Islam
5. Mahasiswa mampu memahami berbagai pendekatan dalam studi Islam
6. Mahasiswa memahami beberapa isu aktual dalam studi Islam
Materi Pokok
1. Pengertian studi Islam (pertemuan ke-1 dan 2)
2. Perkembangan studi Islam di Barat, Timur, dan Indonesia (pertemuan ke-3)
3. Sumber ajaran Islam (pertemuan ke-4 dan 5)
4. Pengelompokan keilmuan dalam Islam ([ertemuan ke-6)
5. Berbagai pendekatan dalam studi Islam (pertemuan ke-7 s.d. 9)
6. Isu-isu aktual dalam studi Islam (pertemuan ke-10 s.d.12)
Referensi
Wajib
A. Mukti Ali, Metode Memahami Agama Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1991: v-xii, 23-44.
Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam, Jakarta: Logos, 1998 : 1-7.
Ahmad Syafii Ma’arif, “Posisi Sentral Al-Qur’an dalam Studi Islam,” dalam Taufik Abdullah dan M. Rusli Karim (ed.), Metodologi Penelitian Agama Sebuah Pengantar, Yogyakarta: Tiara Wacana, 1991: 125-134.
Anthony H. Johns, Qur’anic Exegesis in the Malay World: In Search of a Profile: 257-287.
Azyumardi Azra, Pendidikan Islam Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru, Jakarta : Logos, 1999 : 201-216.
Fazlur Rahman, “Al-Qur’an,” dalam Islam, terj. Ahsin Mohammad, Bandung : Pustaka, 1994 : 31-50.
Fazlur Rahman, “Approaches to Islam in Religious Studies: Review Essay,” dalam Richard C. Martin (ed.), Approaches to Islam in Religious Studies, USA: The University of Arizona Press, 1985: 189-201.
Isma’il Ragi al-Faruqi, “Toward A New Methodology for Qur’anic Exegesis,” dalam Islamic Studies, vol. I: 1 (1962): 25-52
Kuntowijoyo, Islam sebagai Ilmu: Epistemologi, Metodologi, dan Etika, Yogyakarta: Tiara Wacana, 2006.
M. Amin Abdullah, Islamic Studies di Perguruan Tinggi, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2006.
M. Amin Abdullah, Studi Agama: Normatifitas atau Historisitas?, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996.
M. Atho’ Mudzhar, Pendekatan Studi Islam, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999: 1-10.
M. Atho’ Mudzhar, “Penelitian Agama dan Keagamaan: Peta dan Strategi Penelitian di IAIN,” dalam Affandi Mochtar (peny.), Menuju Penelitian Keagamaan dalam Perspektif Penelitian Sosial, Cirebon: Pusat Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Islam Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Gunung Djati, 1996: 1-30.
Mohammad Nur Kholis Setiawan, “Literary Interpretation of the Qur’an: A Study of Amin al-Khuli’s Thought,” dalam Al-Jami’ah, No. 61/1998: 89-105.
Mohammad Quraish Shihab, “Posisi Sentral Al-Qur’an dalam Studi Islam,” dalam Taufik Abdullah dan M. Rusli Karim (ed.), Metodologi Penelitian Agama Sebuah Pengantar, Yogyakarta: Tiara Wacana, 1991: 135-148.
Muhammad Abdul Rauf, “Outsiders’ Interpretations of Islam: A Muslim’s Point of View,” dalam Richard C. Martin (ed.), Approaches to Islam in Religious Studies, USA: The University of Arizona Press, 1985: 179-188.
Muqowim, “Kenabian dalam al-Qur’an,” dalam Jurnal Dakwah, No. 3 Th. II Juli-Desember 2001: 113-129.
Richard C. Martin, “Islam and Religious Studies: An Introductory Essay,” dalam Richard C. Martin (ed.), Approaches to Islam in Religious Studies, USA: The University of Arizona Press, 1985: 1-18.
Taufik Abdullah dan M. Rusli Karim (ed.), Metodologi Penelitian Agama: Sebuah Pengantar, Yogyakarta: Tiara Wacana, 1991: xi-xvi.
Anjuran
Ahmad Syafii Mufid, “Penelitian Agama: Hakekat, Metode dan Kegunaannya,” dalam Affandi Mochtar (peny.), Menuju Penelitian Keagamaan dalam Perspektif Penelitian Sosial, Cirebon: Pusat Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Islam Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Gunung Djati, 1996: 31-42.
Azim Nanji, “Toward a Hermeneutic of Qur’anic and Other Narratives of Isma’ili Thought,” dalam Richard C. Martin (ed.), Approaches to Islam in Religious Studies: 164-174.
B. Todd Lawson, “Akhbari Shii Approaches to Tafsir,” dalam G.R. Hawting and Abdul-Kader A. Shareef (ed.), Approaches to the Qur’an, London and New York: Routledge, 1993: 173-210.
Deliar Noer, “Diperlukan Pendekatan Bukan Barat Terhadap Kajian Masyarakat Indonesia,” dalam Mulyanto Sumardi (ed.), Penelitian Agama Masalah dan Pemikiran: 31-49.
Farid Esack, “Between Text and Context,” “Redefining Self and Other,” dan “The Qur’an and the Other,” dalam Qur’an, Liberation and Pluralism, Oxford: Oneworld, 1997: 49-81; 114-145; dan 146-178.
Fazlur Rahman, “Some Recent Books on the Qur’an by Western Authors,” dalam The Journal of Religion: 73-95.
Harun Nasution, Islam Rasional, Bandung: Mizan, 1995.
Howard M. Federspiel, (ed.), An Anthology of Islamic Studies, Volume II, Montreal: McGill Institute of Islamic Studies, 1996: 1-5.
Isma’il Ragi al-Faruqi, “Toward A New Methodology for Qur’anic Exegesis,” dalam Islamic Studies, vol. I: 1 (1962): 25-52
Ismail K. Poonawala, “Muhammad ‘Izzat Darwaza’s Principles of Modern Exegesis: A Contribution toward Qur’anic Hermeneutics,” dalam G.R. Hawting and Abdul-Kader A. Shareef (ed.), Approaches to the Qur’an: 225-246.
Issa J. Boullata, (ed.), An Anthology of Islamic Studies, Montreal: McGill Indonesian IAIN Development Project, 1992: 1-6.
Kuntowijoyo, Paradigma Islam: Interpretasi untuk Aksi, Bandung: Mizan, 1991.
Kuntowijoyo, Muslim tanpa Masjid, Bnadung: Mizan, 2001.
M. Amin Abdullah, “Rekonstruksi Metodologi Studi Agama dalam Masyarakat Multikultural dan Multirelijius,” dalam Ahmad Norma Permata, Metodologi Studi Agama, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2000.
M. Atho’ Mudzhar, “Penelitian Agama dan Keagamaan: Peta dan Strategi Penelitian di IAIN,” dalam Affandi Mochtar (peny.), Menuju Penelitian Keagamaan dalam Perspektif Penelitian Sosial, Cirebon: Pusat Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Islam Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Gunung Djati, 1996: 1-30.
M.A.S. Abdel Haleem, “Content and Internal Relationship: Keys to Qur’anic Exegesis,” dalam G.R. Hawting and Abdul-Kader A. Shareef (ed.), Approaches to the Qur’an: 71-98.
Moch. Nur Ichwan, “Beyond Ideological Interpretation: Nasr Abu Zayd’s Theory of Qur’anic Hermeneutic,” dalam Al-Jami’ah, No. 65/XII/2000: 14-38.
Mulyanto Sumardi, (ed.), Penelitian Agama Masalah dan Pemikiran, Jakarta: Sinar Harapan, 1981: 1-6
Mustansir Mir, “The Sura as a Unity: A Twentieth Century Development in Qur’an Exegesis,” dalam G.R. Hawting and Abdul-Kader A. Shareef (ed.), Approaches to the Qur’an: 211-224.
Norman Calder, “Tafsir from Tabari to Ibn Kathir: Problems in the Description of a Genre, Illustrated with Reference to the Story of Abraham,” dalam G.R. Hawting and Abdul-Kader A. Shareef (ed.), Approaches to the Qur’an: 101-140.
William A. Graham, “Qur’an as Spoken Word: An Islamic Contribution to the Understanding of Scripture,” dalam Richard C. Martin (ed.), Approaches to Islam in Religious Studies: 23-40.
Rabu, Mei 14, 2008
UAS MATAKULIAH BPS
Perintah:
- Buatlah proposal skripsi secara lengkap dengan memenuhi sistematika penulisan skripsi [Latar Belakang Masalah, Rumusan Masalah, Tujuan dan Kegunaan Penelitian, Kajian Pustaka dan Kerangka Teori, Hipotesis [jika ada], Metode Penelitian, Sistematika Pembahasan, Outline Penulisan, Daftar Pustaka] dan standar teknis penulisan [seperti bahasa, catatan kaki, kutipan, dan daftar pustaka]!
- Proposal dikumpulkan sesuai dengan jadwal ujian mata kuliah Bimbingan Penulisan Skripsi]
Catatan: Tugas Mandiri yang pernah dibuat dikumpulkan waktu ujian sebagai dokumen portofolio.
Minggu, Mei 11, 2008
TUGAS PENGEMBANGAN KURIKULUM
Membaca Buku tentang Kurikulum kemudian melaporkannya ke Website ini yang mencakup:
1. Identitas buku [pengarang, judul, penerbit, kota, tahun, tebal]
2. Poin-poin pokok buku [maksimal dua paragraf]
3. Lessons learned atau apa yang dapat dipelajari dari buku tersebut [maksimal satu paragraf]
Jawaban dikirim maksimal hari Kamis tanggal 15 Mei 2008 ke kotak komentar.
1. Identitas buku [pengarang, judul, penerbit, kota, tahun, tebal]
2. Poin-poin pokok buku [maksimal dua paragraf]
3. Lessons learned atau apa yang dapat dipelajari dari buku tersebut [maksimal satu paragraf]
Jawaban dikirim maksimal hari Kamis tanggal 15 Mei 2008 ke kotak komentar.
Langganan:
Postingan (Atom)
